Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kenang Joseph Odilo Oendoen Lewat Pertunjukan Teater 'Liang Menjadi'

HiPontianakverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pertunjukan teater 'Liang Menjadi'. Foto: Lydia Salsabilla/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukan teater 'Liang Menjadi'. Foto: Lydia Salsabilla/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Untuk mengenang seniman Kalbar, Joseph Odilo Oendoen, yang jatuh pada 25 Maret, Dapur Teater Pontianak dan UPT Museum Kalbar menggelar pertunjukan teater 'Liang Menjadi' di Taman Budaya, Sabtu malam, 19 Maret 2022.

Sutradara Pementasan, Beben MC mengatakan, pertunjukan itu digelar untuk mengenang satu tahun kepergian seniman sekaligus tokoh budaya suku Dayak, Joseph Odilo Oendoen.

"Pementasan ini memang disiapkan untuk mengenang almarhum jadi memang setelah beliau wafat kita (pekerja seni pertunjukan) belum ada buat apapun. Kemarin rencananya pas setahun beliau wafat tapi lagi pada sibuk semua, baru terwujud hari ini. Kenapa di bulan Maret? Karena pas tanggal 25 Maret hari kelahiran beliau," ungkapnya.

Dapur Teater Pontianak dan UPT Museum Kalbar menggelar pertunjukan teater 'Liang Menjadi'. Foto: Lydia Salsabilla/Hi!Pontianak

Di mata Beben, Joseph Odilo Oendoen merupakan sosok guru yang tegas, humble dan pribadi yang menyenangkan. Dalam dunia seni dan pertunjukan, Joseph Odilo Oendoen juga dikenal sebagai tokoh teater hebat dan telah melahirkan berbagai mahakarya baik itu puisi ataupun naskah teater, salah satunya adalah 'Liang Menjadi' yang dipentaskan tersebut.

"Naskah 'Liang Menjadi' merupakan salah satu mahakarya terbaik dari beliau, naskah kesukaan beliau. Salah satu mahakarya yang telah dibawanya kemana-mana jadi kita mentaskan itu, yang bermain sahabat-sahabatnya, kawannya dan anak didiknya," ujarnya.

'Liang Menjadi' sendiri merupakan naskah yang ditulis berdasarkan cerita rakyat turun-menurun. Berkisah tentang cinta sedarah terlarang antara paman dan keponakan. Akan tetapi karena cinta tersebut dianggap salah mereka kemudian menyalahkan alam keadaan bahkan menyalahkan Tuhan. Sehingga mendapat balasan setimpal menjadi batu.