Food & Travel
·
19 Maret 2021 10:37

Kisah di Balik Kolam Wisata Bunga Lita dan Situs Batu Babi di Kapuas Hulu

Konten ini diproduksi oleh Hi Pontianak
Kisah di Balik Kolam Wisata Bunga Lita dan Situs Batu Babi di Kapuas Hulu (851645)
searchPerbesar
Tim Jurnalis Ekspedisi Borneo Honda ADV 150 menuju kolam wisata Bunga Lita di Kapuas Hulu. Foto: Leo Prima/Hi!Pontianak
Hi!Pontianak - Perjalanan Jurnalis Ekspedisi Borneo Honda ADV 150 mencapai titik akhir, yakni kabupaten paling timur Kalimantan Barat, Kapuas Hulu. Di sini tim mengeksplorasi kawasan wisata yang belum banyak diketahui, yakni Kolam Bunga Lita.
ADVERTISEMENT
Kawasan ini berada di Desa Suka Maju, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu. Untuk mencapai ke sana, tim menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari Kota Putussibau, ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu.
Jika kamu ingin ke sana, caranya cukup mudah. Karena kamu hanya perlu mencari Simpang Makai, di daerah Tekalong, dan masuk ke dalam, sekitar 7 kilometer.
Tak hanya kolam pemandian, di kawasan wisata ini, terdapat sejumlah objek, seperti gurung Makai dan situs Batu Babi. "Gurung ini bahasa Dayak Suruk, kalau bahasa Indonesianya jeram," kata Yohanes Aloysius Rewa, pemilik kawasan wisata tersebut.
Kisah di Balik Kolam Wisata Bunga Lita dan Situs Batu Babi di Kapuas Hulu (851646)
searchPerbesar
Tim Jurnalis Ekspedisi Borneo Honda ADV 150 melintasi medan yang menantang saat menuju ke situs Batu Babi di Kapuas Hulu. Foto: Leo Prima/Hi!Pontianak
Menurut Aloy, kawasan wisata ini memang belum banyak dikenal orang. Karena itu, ia berniat untuk mengembangkannya, agar bisa menjadi kawasan wisata unggulan. "Di sini ada jeram Gurung Makai, ada kolam pemandian Bunga Lita, dan situs Batu Babi. Selama ini orang tahunya hanya dari mulut ke mulut," ungkap Aloy.
ADVERTISEMENT
Kolam Bunga Lita
Adam, tokoh adat di kawasan tersebut menjelaskan, kawasan tersebut dulunya dipercaya merupakan sebuah rumah betang, yang kemudian 'melebur' atau berubah wujud menjadi batu.
Kisah di Balik Kolam Wisata Bunga Lita dan Situs Batu Babi di Kapuas Hulu (851647)
searchPerbesar
Adam, tokoh adat di Desa Suka Maju Kapuas Hulu menunjukkan situs wisata Kolam Bunga Lita. Foto: Leo Prima/Hi!Pontianak
"Kalau kolam pemandian Bunga Lita ini, adalah pemandian para bidadari. Sebelumnya, kolam ini adalah wadah susu. Saat melebur menjadi batu, ia menjadi kolam pemandian ini. Bidadari mandi di sini. Itulah cerita yang kami percayai secar turun menurun dari para leluhur kami," terang Adam.
Sebenarnya ada dua kolam di kawasan itu. Ada kolam brem, dan kolam bunga lita. "Kolam brem ini tidak boleh dipakai. Jangan cuci muka, apalagi meminumnya. Bisa gila. Karena dulunya itu adalah wadah arak. Tapi kalau kolam bunga lita ini justru bagus, karena terbuat dari wadah susu. Jadi kalau mandi di situ, bagus. Makanya ramai juga yang mandi di situ," katanya.
ADVERTISEMENT
Dia menambahkan, sebelum mandi di kolam Bunga Lita, pengunjung disarankan untuk melempar logam, seperti uang koin, jarum, atau paku, serta meminta izin kepada kolam tersebut," tambahnya.
Kisah di Balik Kolam Wisata Bunga Lita dan Situs Batu Babi di Kapuas Hulu (851648)
searchPerbesar
Situs Batu Babi di Kapuas Hulu. Foto: Leo Prima/Hi!Pontianak
Batu Babi
Selain pemandian Bunga Lita, ada juga situs Batu Babi. Menurut Adam, Batu Babi ini dulunya adalah babi peliharaan warga, yang 'lebur' menjadi batu. Ada tiga babi, ada tempat makan babi, dan seorang perempuan yang sedang hamil.
"Saat memberi makan babi, perempuan ini bilang 'sama-sama hamil kita ini ya', setelah dia bilang begitu, seketika cuaca buruk, awan gelap, dan semuanya berubah menjadi batu," terang Adam.
Adam berpesan, agar pengunjung tak memukul-mukul batu babi tersebut, jika tak ingin mendapatkan mimpi buruk. "Saya sendiri pernah mengalaminya," kata Adam.
Kisah di Balik Kolam Wisata Bunga Lita dan Situs Batu Babi di Kapuas Hulu (851649)
searchPerbesar
Gurung Makai di Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu. Foto: Leo Prima/Hi!Pontianak
Gurung Makai
ADVERTISEMENT
Kawasan wisata Bunga Lita ini menjadi semakin menarik dengan adanya gurung makai. Jeram ini arusnya tak terlalu kuat, sehingga memungkinkan pengunjung untuk berenang mengikuti arus hingga danau di ujung jeram.
Bebatuan di kiri dan kanan jeram, membuat panoramanya semakin berkesan. "Daerah ini akan kita kembangkan menjadi wisata alam, sehingga pengunjung bisa menikmati suasana alam yang asri, suara air, bebatuan. Di sini juga bisa camping, tapi kami juga ada menyiapkan kamar-kamar bagi pengunjung yang ingin menginap di kamar," tambah Aloy.