kumparan
3 September 2019 15:35

Kisah Gabby, Wanita Tertinggi di Pontianak

Gabby dan ibunya, Roeziawati Rusi. Foto: Lydia Salsabila/Hi!Pontianak
Hi!Pontianak - Memiliki tubuh yang tinggi umumnya jadi impian banyak orang. Namun, apa jadinya jika memiliki tubuh yang tingginya mencapai 2,2 meter?
ADVERTISEMENT
Gabby Andina atau yang kerap disapa Gabby (30), seorang wanita kelahiran Pontianak yang ukuran tubuhnya berbeda dari kebanyakan orang Indonesia. Tinggi tubuhnya mencapai 2,2 meter. Tinggi yang tak normal untuk orang Indonesia seusianya.
Saat ditemui oleh tim Hi!Pontianak di kediamannya, di Jalan Beringin Pontianak Kota, Kalimantan Barat, Selasa (3/9), Gabby bercerita dirinya mulai merasakan tubuhnya bertambah tinggi ketika SMP, dan terus tumbuh hingga usianya beranjak 28 tahun.
"Sekitar dua meter lebih. Tidak pernah mengukur secara langsung sih, karena di sini tidak ada meteran. Tapi pernah kemarin pas Lebaran di rumah keluarga, pas mau masuk, aku tanya pintu itu berapa meter mereka jawab dua meter lebih. Jadi aku asumsi, tinggi aku dua meter lebih. Pas umur 28 tahun udah mulai berhenti tumbuh," kata Gabby.
Gabby bercerita dirinya mulai merasakan tubuhnya bertambah tinggi ketika SMP, dan terus tumbuh hingga usianya beranjak 28 tahun. Foto: istimewa
Meski sangat mensyukuri keadaan fisiknya, Gabby mengaku tantangannya cukup banyak, mulai dari ukuran sepatu khusus wanita yang susah dicari, pakaian, hingga minder, dan tidak percaya diri ketika diejek dan dipandang sebelah mata dari orang-orang, karena tubuhnya yang tinggi.
ADVERTISEMENT
“Selepas lulus SMA saya tidak lanjutkan kuliah, gara-gara almarhum papa meninggal, karena perekonomian yang sedang menurun juga. Tapi saya masih niat pengen belajar. Apalagi saya mempunyai hobi membaca. Saya ke perpustakaan (di Jalan) Alianyang jalan kaki. Sepanjang perjalanan (pengendara) dari motor, mobil, liatin saya. Awalnya sedih, kecewa, saya mulai mempermasalahkan, kenapa aku kayak gini. Kenapa tidak normal, tidak seperti orang lainnya. Tapi lama-lama aku sudah mulai biasa, sudah mulai menerima diri aku yang seperti ini," ujar Gabby.
Selain tidak percaya diri, memiliki badan yang cukup tinggi rupanya membuat Gabby kesulitan dalam melamar pekerjaan. Ia pun memutuskan untuk membuka usaha sendiri.
“Saya buka usaha sendiri, membuat suvenir. Nge-craft dari bahan kain flannel. Kadang iseng-iseng juga menulis cerpen. Karena tubuh yang kayak gini, sudah beberapa kali ngelamar kerja, tapi selalu ditolak. Beberapa alasannya di antaranya bilang saya tidak punya pengalaman, dan fisik kurang menarik juga," ucap Gabby.
Foto Gabby (paling kecil pakai kacamata) bersama keluarganya. Foto: istimewa
Menurut sang Ibu, Roeziawati Rusi, sewaktu dilahirkan, Gabby seperti anak normal pada umumnya. Sama seperti ketiga saudaranya yang lain. Namun, berawal dari gejala panas, dan diperiksa terdapat celah di tempurung kepala, yang menyebabkan terlalu banyak hormon pertumbuhan yang keluar, dan mengakibatkan pertumbuhan berlebihan pada tulangnya.
ADVERTISEMENT
"Karena sempat mengalami gejala panas saat masih bayi, diperiksa ada sesuatu di tempurung kepalanya, ada celah. Akhirnya, saya membawa dia ke rumah sakit di Kuching (Sarawak-Malaysia), terus diperiksa sampai di-scan. Akhirnya ketahuan, kepalanya itu ada celah, jadi dokter di Kuching bilang, "ini bukan sesuatu yang harus ditangani." Ya sudah, tiap tiga bulan sekali, kami ambil obat untuk hormon pertumbuhan. Terus akhirnya saat dia umur empat belas tahun, kami hentikan, takut tulang-tulangnya makin tumbuh lagi. Soalnya ini kan menyangkut tentang hormon tulang pertumbuhan," ujar Roeziawati.
Mensyukuri keadaannya yang sekarang, ada cita-cita yang harus dipendam Gabby dalam-dalam.
"Kalau bisa jadi orang normal pada umumnya, pengen kerja. Pengen nerusin cita-cita aku, jadi peragawati, seperti impian mama aku waktu kecil, yang jelas, ingin bahagiakan orang tua, meskipun fisik aku seperti ini," ungkap Gabby (hp6
Gabby tetap bersyukur dan bercita-cita ingin jadi peragawati. Foto: istimewa
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan