Kisah Pengrajin Tenun Ikat di Sintang Bertahan saat Pandemi COVID-19

Hi!Sintang - Di saat banyak usaha terpukul akibat pandemi COVID-19, para pengrajin tenun ikat khas Dayak di Rumah Betang Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, Kalbar, justru mampu bertahan.
Limah (72), pengrajin tenun ikat mengungkapkan, saat pandemi corona saat ini produksi dan pendapatan cenderung stabil. Dalam sebulan dirinya mampu menghasilkan 2 kain tenun.
“Saat corona ini, kami stabil saja. Baik membuat kain tenun dan pembeli sama saja saat sebelum dan saat corona ini,” jelas Limah, Senin, 25 Januari 2021.
Ia kemudian, menjelaskan proses pembuatan kain tenun ikat khas Dayak tersebut. “Yang lama itu mengikatnya karena menghabiskan waktu hingga sebulan. Setelah diikat, lalu ditenun. Proses menenun 2 minggu selesai. Harga kain tenun paling rendah Rp 800 ribu. Ada juga Rp 1 juta kalau ikatnya dua kali,” terang Limah.
Ia mengatakan, para pengrajin tenun di Rumah Betang Ensaid Panjang menggunakan pewarna alami dan kimia. Pewarna alami menggunakan kulit dan buah kayu.
“Kain tenun yang diberikan pewarna alami itu harganya agak mahal. Sehelai bisa mencapai Rp 1,3 juta. Kalau kain tenun pewarna kimia harganya lebih rendah yakni Rp 1 juta saja. Keduanya sama-sama diminati oleh pembeli,” katanya.
Senada dengan Limah, pengrajin tenun ikat lainnya, yakni Pangi (83) tahun juga mengungkapkan bahwa saat pandemi kondisinya tetap seperti biasa. “Kami tetap stabil saja baik membuat tenun maupun pesanan,” ungkapnya.
Kepala Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Fransisco Heri membenarkan bahwa saat pandemi COVID-19 pengrajin tenun ikat di Betang Ensaid Panjang ini cukup stabil. Baik itu produksi maupun penjualan stabil saja.
“Stok tenun tidak pernah habis dan selalu tersedia di betang ini. Penyebabnya adalah para pengrajin tenun ini dibina, dibimbing oleh BUMDes Ensaid Panjang. Ada juga program pemerintah yang membantu para pengrajin. Ada juga Koperasi Jasa Menenun Mandiri yang membantu penjualan,” ujar Fransisco Heri.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, Yosepha Hasnah mendorong agar pengrajin bisa memanfaatkan teknologi informasi dalam menjual produknya.
“Karena kita sedang dalam keadaan pandemi, pengrajin juga dituntut bisa memanfaatkan internet untuk menjual dan mempromosikan produknya. Karena bertemu langsung saat ini masih dibatasi,” ucap Yosepha.
Selain itu, kata Yosepha, yang tak kalah penting adalah pengrajin harus mampu menghasilkan produk turunan dari tenun ikat seperti tas, masker dan yang lainnya. Karena wisatawan yang datang ada yang mencari kerajinan asli. Tetapi ada juga yang hanya mencari souvenir yang harganya agak rendah. “Ini yang harus dimanfaatkan,” tegasnya.
