Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Seniman Pontianak Bikin Lampion dari Limbah Bungkus Mi Instan

HiPontianakverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Harry Eko Rifanto membuat lampion dari limbah bungkus mi instan. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Harry Eko Rifanto membuat lampion dari limbah bungkus mi instan. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Seorang Seniman di Pontinak, Harry Eko Rifanto, membuat lampion Ramadan dengan menggunakan limbah plastik dari bekas bungkus mi instan. Lampion tersebut dipajang di sepanjang Gang Belibis, Kecamatan Pontianak Kota.

Harry Eko Rifanto membuat lampion Ramadan tersebut di Kian Galeri Mustang dengan ulet. Satu per satu bahan-bahan yang digunakan, ia gabung menjadi sebuah lampion yang unik.

Lampion Ramadan tersebut, terbuat dari bekas bungkus mi instan, mangkuk plastik kecil berwarna putih, serta sumpit berbahan kayu. Dari barang-barang tersebut, ia sulap menjadi lampion atau lentera yang indah.

“Bahan utama memang menggunakan bekas bungkus mi instan, dan penunjang lainnya saya pakai mangkuk plastik yang biasa digunakan untuk makan bubur kacang hijau,” jelasnya, Minggu, 24 April 2022.

Selain dari limbah bungkus mi instan, Harry juga membuat lampion dari limbak gelas plastik. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Harry mengaku, ia memang hobi dalam mengumpulkan sampah atau barang-barang bekas pakai, dan selanjutnya dibuat menjadi barang layak pakai. Pembuatan lampion atau lentera Ramadan tersebut dilakukan untuk mengurangi masalah sampah di Kota Pontianak.

“Saya hobi di sampah, karena sampah susah didaur ulang. Jadi ini dilakukan untuk sedikit mengurangi masalah sampah. Tidak susah mewarnai lagi, proses kerjanya gampang, bisa diturunkan, tidak perlu skill, asal mau dan niat,” paparnya.

Bekas bungkus mi instan tersebut ia minta dari gerai pedagang bakso yang berjualan di pinggir jalan. Menurutnya, sampah tersebut dapat didaur ulang menjadi barang yang bagus.

“Memang sudah lama, dari beberapa tahun. Ada barang atau sampah, sayang sekali untuk dibuang. Saya punya moto, minimal 2 kali penggunaan barang, 1 untuk konsumsi, dan satu lagi untuk digunakan kembali, seperti lentera atau lampion kayak gini,” ucapnya.

“Saya gak ada direncanakan (buat lampion ini), hanya spontan. Pada saat rapat saya liat sajiannya bubur kacang hijau, ini keren, bisa diambil. Selesai mereka makan, saya mintakan bungkusnya atau tempatnya itu,” lanjutnya.

Karya Harry Eko Rifanto yang kebanyakan berasal dari limbah. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Selain lampion Ramadan tersebut, Harry juga mengolah barang lampion unik lainnya dari bahan sendok plastik bekas, dan juga dipadukan dengan mangkuk plastik. Ada juga lampion yang ia buat dari ratusan gelas plastik bekas.

“Dari bungkus mie instan, 1 lampion dengan sendok, 1 lampu pakai 6 mangkok, dengan sendok 8. Sari situ saya lihat kalau nanti dipadu dengan yang lain juga bisa. Lanjut ke cup minuman, saya coba buat aja rupanya bundaran cup ini menghasilkan sebanyak 200 cup,” kata Harry.

Lampion-lampion tersebut akan dipajang di sepanjang Gang Belibis atau sekitar Kian Galeri Mustang. Upaya pembuatan lampion dari limbah plastik tersebut dilakukan untuk mengurangi produksi sampah yang cukup meningkat di bulan Ramadan ini.