Kumparan Logo
Konten Media Partner

'Mamang Seribu' di Pontianak Bertahan di Tengah Terpaan Mainan Digital

HiPontianakverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang anak sedang mencari mainan yang dijual Mamang Seribu di Pontianak. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Seorang anak sedang mencari mainan yang dijual Mamang Seribu di Pontianak. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Di era digital berbagai macam aplikasi permainan dalam gadget hadir untuk memenuhi kebutuhan bermain anak. Eksistensi penjual mainan keliling tak redup di tengah kemajuan teknologi.

Di Kota Pontianak, keberadaan pedagang mainan murah atau biasa disebut 'Mamang Seribu. 'Mamang Seribu' berkeliling ke berbagai sekolah dasar (SD) hingga dalam kompleks.

Salah seorang penjual mainan, Kang Acil mengatakan, dirinya mulai menjual mainan murah sejak tahun 2014. "Saya mulai jual mainan jaman dulu (jadul) ini sudah sejak 2014. Saya meneruskan pekerjaan ayah saya yang sudah meninggal. Saya merantau ke Pontianak," kata Kang Acil kepada Hi!Pontianak, Kamis (10/10).

Di tengah terpaan mainan digital, Mamang Seribu di Pontianak masih eksis. Foto: Foto: Teri/Hi!Pontianak

Berbagai macam mainan dan barang dijajakannya dengan menggunakan sepeda motor. Ia menjual berbagai macam mainan yang harganya jauh lebih murah dari biasanya. Mulai dari mobil-mobilan, pistol, balon tiup, monopoli, ular tangga, stik eskrim, sticker kuku, baling-baling, aksesoris anak-anak perempuan dan lain sebagainya.

"Dinamain Mamang Seribu, karena kalau dulu itu jualnya serba Rp 1.000 semua. Sekarang semakin banyak barang yang dijual, jadinya beragam, tapi masih dipanggil Mamang Seribu. Saya jualnya dari harga Rp 1.000 sampai Rp 20 ribu ada di sini," ucap Kang Acil.

Setiap hari, Mamang Seribu menjajakan dagangannya ke sekolah hingga ke komplek. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Pria asal Tasikmalya, Jawa Barat itu mengatakan, pasar penjualan mainan tradisional masih tinggi di Pontianak dibandingkan daerah asalnya. "Di sini (Pontianak) masih ramai pembelinya. Beda dengan di Tasikmalaya, Jawa Barat, sudah sepi," ujarnya.

Kang Acil menjajakan dagangannya setiap hari. Ia pun berangkat dari rumah mulai pukul 05.00 WIB. Setelah mengambil barang di pasar, ia pun berkeliling menjajakan dagangannya.

"Saya subuh mengambil barang di pasar, langsung saya jajakan. Pagi di pasar, terus ke sekolah-sekolah, terus siang hingga sore keliling gang atau kompleks perumahan di Pontianak," pungkas Kang Acil.