Kumparan Logo
Konten Media Partner

Melihat Produksi Dupa di Kalbar, Permintaan Terbanyak dari Singkawang

HiPontianakverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses produksi dupa. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Proses produksi dupa. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Warga Tionghoa tersebar luas di daerah Kalimantan Barat, terutama ada di Kota Singkawang. Menjelang perayaan Imlek biasanya dirayakan dengan khidmat dan meriah hingga digelarnya Festival Cap Go Meh.

Melihat populasi warga Tionghoa banyak di wilayah Kalbar, Pemilik Dupa Pulau Borneo, Hajono membuka bisnis dupa di Kabupaten Kubu Raya, tak jauh dari Kota Pontianak. Ia memulai bisnis tersebut sejak tahun 2018.

Sebelumnya, Hajono menceritakan, ia belajar dan mengulik pembuatan dupa ini dari Malang. Setelah mantap, ia bergegas membeli peralatan dan hingga saat ini ia memiliki karyawan untuk membangun pembuatan dupa tersebut.

“Awalnya berdiri tahun 2018 melihat peluang bisnis ini di Kalbar tidak begitu ramai makanya saya punya niat menjalankan usaha ini, dari awal saya pergi ke Malang untuk belajar pulang ke sini dan teruskan usaha ini,” jelas Hajono, Rabu, 4 Januari 2023.

Produksi dupa di Kalbar capai 1,5 ton per bulan. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Pada percobaan minggu pertama ia merintis bisnis ini, Hajono dapat memproduksi dupa hingga 300 kilogram. Namun setelah memantapkan produksi, kini ia dapat memproduksi dupa sebanyak 1,5 ton per bulan.

“Dulu (bahan bakunya) didatangkan dari Jawa, tapi kali ini seperti lidinya kita gak beli dari Jawa kita bikin sendiri. Lemnya juga dari Vietnam, kalau pakai lem biasa itu gak bisa perbandingannya jauh beda hasilnya,” ucapnya.

Dupa yang biasa digunakan oleh warga Tionghoa untuk sembahyang ini disajikan dengan berbagai macam adonan. Hajono menyebutkan, adonan pertama dari tepung kayu, jati dan kampas. Kemudian ada tepung angin, kalsium, lem import, hingga sengon.

Kini Hajono memiliki 4 buah mesin pembuat dupa, hingga akhirnya dia bisa memproduksi sebanyak 1,5 ton dupa per bulan. Tak main-main, omzet yang dihasilkan bisa mencapai hingga Rp 50 juta per bulan.

Rangkaian proses pembuatan dupa di Kalbar. Foto: Teri/Hi!Pontianak

“Kalau dilihat dari pangsa pasar kita lihat agak menurun sedikit (penjualannya) karena dari luar banyak dupa datang ke Kalbar jamuran, sedangkan pembeli dari agen dan toko berkurang, banyak yang di-reture balik dan gak berani ambil banyak,” terangnya.

Pembuatan dupa ini ia jual ke seluruh wilayah Kalimantan Barat, namun kata dia, jika ada yang memesan dupanya dari luar daerah Kalbar ia juga bisa melayani permintaan tersebut.

“Untuk Imlek mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi produksinya. Saya produksi di Kalbar aja, kalau ada orderan dari luar daerah kita bisa juga layani,” sebutnya.

Rangkaian pembuatan dupa. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Dari seluruh wilayah di Kalbar, permintaan dupa terbanyak berasal dari Kota Singkawang. Menjelang perayaan Imlek tahun 2023 ini, kata Hajono, agen hingga klenteng di Singkawang sudah memesan sebanyak 150 dus dupa.

“Permintaan paling besar di Kota Singkawang. Kita jual ke klenteng dan agen-agen besar, kita tidak supply ke toko kecil. Di tahun ini pembelian dupa menjelang Imlek meningkat hingga 40 persen permintaannya dibandingkan dengan hari biasa,” pungkasnya.