Kumparan Logo
Konten Media Partner

Melihat Rumah Panel Surya di Kalbar, Tagihan Listrik Hemat 50 Persen

HiPontianakverified-green

clock
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ferdy menunjukkan panel penangkap energi surya. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Ferdy menunjukkan panel penangkap energi surya. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Ferdy Ardian, seorang musisi asal Pontianak, memanfaatkan tenaga surya untuk menghemat tagihan penggunaan listrik di rumahnya, di Jalan Sepakat 1, Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat. Ferdy memaksimalkan tenaga matahari tersebut sejak 2010.

Kepada Hi!Pontianak, Ferdy menuturkan kisah awal mula ia beralih ke energi alternatif dari matahari. Berangkat dari keresahannya pada tahun 2010, di Pontianak ketika itu sering terjadi pemadaman listrik. Ferdy mulai merakit perlengkapan panel surya, untuk menampung energi matahari.

Panel listrik tenaga matahari yang ada di rumah Ferdy. Foto: Teri/Hi!Pontianak

"Berawal dari Pontianak sering mati lampu waktu itu, saya eksperimen untuk membuat (energi) alternatif. Selain itu juga dulu sering (jalan-jalan) ke pulau. Kan di pulau enggak ada listrik, jadi bantu warga pulau bangun listrik, lewat energi matahari," jelasnya, Selasa (7/10).

Beberapa kali, Ferdy mengalami kegagalan dalam proses percobaan. Berawal dari jumlah watt peak (wp, listrik yang dihasilkan saat langit cerah) yang kecil, sampai saat ini, Ferdy meningkatkan watt peak lebih banyak. "Berawal dari 50 wp, sampai sekarang sudah 700 wp," katanya.

Ferdi mengoperasikan komputer di rumahnya dengan energi yang dihasilkan dari listrik tenaga matahari. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Energi listrik tersebut ditampung lewat panel surya. Ferdy mengatakan pengisian cahaya matahari tersebut dimulai sejak pagi pada pukul 06.00 WIB, dan berakhir pada pukul 17.00 WIB. "Dari pagi sampai sore ngisi. Biasanya daya yang paling tinggi itu siang atau saat matahari sedang terik," jelasnya.

Ferdy mengatakan, cuaca mendung tak menjadi masalah, karena pada proses pengisiannya, yang sangat dibutuhkan adalah sinar atau cahaya. "Hujan, mendung, atau berkabut, dia tetap bisa ngisi. Asal ada cahaya aja. Kecuali malam," katanya.

Rumah Ferdy di Jalan Sepakat 1 Pontianak Tenggara. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Aliran energi matahari tersebut, dapat digunakan untuk berbagai perabotan listrik yang digunakan di rumahnya, seperti lampu, kipas angin, kompor listrik, komputer, dan lain sebagainya. "Kalau di rumah itu untuk perabotan listrik yang ringan, kalau untuk AC atau kulkas, biasa pakai panel surya yang banyak, atau nambah penampung energi yang lebih besar," paparnya.

Pemanfaatan energi surya tersebut, dilakukan dengan sistem hybird. Ketika daya matahari habis, atau tidak berisi, maka listrik aliran rumah akan otomatis menggunakan aliran dari PLN.

Hambatan yang dialami Ferdy dalam pemanfaatan ini, ia mengatakan harus mengganti baterai setiap 3 hingga 5 tahun sekali. Tapi, dengan penggunaan energi listrik bertenaga matahari ini, ia bisa menghemat listrik hingga 50 persen.

"Jadi biasanya di rumah itu cuma bayar tagihan listrik cuma sekitar Rp 100 ribu saja per bulannya untuk PLN. Paling kesulitannya itu, 3 sampai 5 tahun sekali kita harus ganti baterai," katanya.

Panel pemantau daya listrik di rumah Ferdy. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Selain digunakan untuk penghematan aliran listrik di rumah, Ferdy sempat mencoba pada sepeda motor. Ini ia lakukan jauh sebelum pemerintah membuat regulasi tentang sepeda motor listrik. Dan project ini ia lakukan secara mandiri.

"Dulu sempat juga dicoba ke sepeda motor. Misalnya mau pergi ngopi, nanti panel suryanya kan terisi waktu motor diparkirkan, dan kena sinar matahari. Bisalah untuk bolak balik ke rumah. Tapi sekarang sudah dilepas, karena agak ribet panel suryanya dipasang di motor. Nanti coba lagi kalau ada panel surya yang elastis," pungkasnya. (hp8)