Melihat Rumah Tua di Tepian Kapuas yang Dihibahkan Ke Pemkot Pontianak

Hi!Pontianak - Rumah Besa’ atau rumah besar, yang terletak di tepian Sungai Kapuas Kecil, Kampong Bangka, tepatnya di ujung Gang Hj Salmah, Jalan Imam Bonjol, Pontianak Selatan Kalimantan Barat, bukanlah satu-satunya peninggalan bersejarah yang ada di tepi sungai. Namun, rumah tersebut merupakan salah satu bagian penting dari bagian-bagian lainnya dalam perjalanan sejarah Kota Pontianak.
Rumah Besa' dahulunya merupakan kediaman milik HM Arief bin H Ismail dan Hj Salmah bin H Abdul Kariim. Semua bagian rumah terbuat dari kayu belian atau kayu ulin. Mulai dari tiang hingga atap.
Jika kita naik dari sepuluh anak tangga di depan yang dahulu ada, kemudian melewati pelataran, membuka pintu, maka akan terhampar ruang tamu, menyatu dengan ruang utama rumah.
Di bagian dalam rumah juga terdapat ruang besar. Pada bagian luar ada bagian padapuran. Di sisi kanan kirinya memanjang terdapat kamar-kamar. Di bagian belakang rumah besa’, dulunya ada satu bagian yang menjadi tempat pengajian anak-anak, dan orang dewasa di Kampong Bangka, yang di ajar oleh HM Arief, serta ustadz Abdul Manaf Siasa, pada awal 1926.
Di kemudian hari, ini menjadi cikal-bakal terbentuknya Sekolah Islamiyah pada 1931, hingga menjadi Perguruan Islamiyah dari tahun 1951 hingga saat ini.
"Setelah beberapa waktu sebelumnya, ia bertemu dengan H Djahri bin H Abdul Kariim di sebuah toko buku-majalah dekat pasar tengah. Di kemudian hari, ini menjadi cikal-bakal terbentuknya Sekolah Islamiyah pada 1931, hingga menjadi Perguruan Islamiyah dari tahun 1951 hingga saat ini," kata Ahmad Sofian dZ, penulis buku Pontianak Heritage, Sabtu (9/11).
HM Arief semasa hidupnya merupakan salah seorang pengusaha sukses yang dermawan. Ia merupakan salah satu dari generasi masa keemasan saudagar Melayu, khususnya yang berada di sekitar Kampong Bangka. Ia sukses dalam usaha pengasapan atau pengolahan karet.
Sosok keberadaan dan kiprah HM Arief, tak terlepas dari keberadaan istri keduanya, yakni Hj Salmah. Ia merupakan anak dari H Abdul Kariim bin H Djamaluddin, yang namanya di nisbahkan menjadi nama masjid Al Kariim, di jalan Tanjung Raya 2, Pontianak Timur.
Hj Salmah semasa hidupnya merupakan pelopor, pendiri, serta pemimpin ‘pengajian kaum Ibu’ di Kampong Bangka. Ia kerap disebut sebagai pioneer pertama di Kalimantan Barat, yang membentuk pendidikan bagi anak-anak perempuan untuk bersekolah.
"Beliau wafat ketika menjalankan ibadah haji tahun 1938. Namanya saat ini dinisbahkan menjadi nama jalan menuju Rumah Besa’ tersebut," kata Sofian.
Kini Rumah Besa' tersebut diberikan kepada Pemerintah Kota Pontianak, untuk dilestarikan sebagai tempat yang bernilai cagar budaya.
"Semoga momen hibah rumah tua bernilai cagar budaya di Kampong Bangka ini, menjadi moment penting dalam upaya menjaga peninggalan-peninggalan bersejarah di Kota Pontianak, yang mampu melibakan seluruh lapisan masyarakat dan para pemangku kepentingan," paparnya.
Rumah tua tersebut, juga akan direstorasi kembali oleh Pemkot Pontianak, dengan hanya dilakukan perbaikan secara fisik, dengan kayu belian, dan tidak mengubah bentuk.
"Sangat perlu diperhatikan sejarah, bentuk, kearifan lokal, serta teknologi tradisional, yang terdapat dalam bangunan tersebut. Seperti misalnya bagaimana bentuk asli rumah dari tahun ke tahun. Bagaimana teknologi tradisional pengunaan pasak untuk menyambung kayu, yang tidak menggunakan paku, juga posisi ruang demi ruang di dalam bangunan rumah. Mungkin akan membutuhkan proses dan biaya yang tidak sedikit. Namun, hal itu tentu menjadi penting untuk menjaga keaslian serta otentifikasi bangunan," paparnya.
