Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mengenal Sandung, Tempat Menyimpan Tulang Belulang Warga Dayak yang Meninggal

HiPontianakverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
UPT Museum Provinsi Kalbar melakukan penelitian dan mengkaji lebih dalam terkait kebudayaan koleksi sandung (sanokng). Foto: Tery/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
UPT Museum Provinsi Kalbar melakukan penelitian dan mengkaji lebih dalam terkait kebudayaan koleksi sandung (sanokng). Foto: Tery/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Untuk menjaga warisan kebudayaan nenek moyang pada suku Dayak Kebahatn, UPT Museum Provinsi Kalbar melakukan penelitian dan mengkaji lebih dalam terkait kebudayaan koleksi sandung (sanokng).

Kebudayaan ini berasal dari Kabupaten Sintang, Melawi, hingga Ketapang. Namun yang difokuskan dalam kajian ini yaitu pada Desa Lintang Tambuk, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang.

Sandung sendiri adalah tempat menyimpan tulang orang yang sudah meninggal, peletakan tulang di sandung dilakukan setelah upacara ngayau. Namun kebudayaan ini sudah tidak dilakukan lagi, tetapi koleksi tiang sandung masih ada di beberapa daerah di wilayah Kalbar.

“Seminar koleksi sandung ini dilaksanakan tujuannya untuk memperkuat informasi dan data mengenai kebudayaan koleksi sandung. Koleksi yang banyak peninggalannya ada di Kabupaten Sintang, Melawi dan sebagian Kalteng, menurut narasumber ini masih ada di alur sungai Melawi, kebetulan sekarang masih ada yang di Kecamatan Selat Hulu Melawi, diharapkan kedepan ini jadi cagar budaya,” jelas Kadisdikbud Provinsi Kalbar, Sugeng Hariadi, pada Senin, 23 Agustus 2021.

Sandung atau Sanokng yang ada di Museum Kalbar. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Perencanaan kebudayaan sandung yang akan dijadikan sebagai cagar budaya ini, dilakukan untuk melestarikan kebudayaan nenek moyang terdahulu.

“Ini penting karena kita ingin melestarikan budaya dan ingin mengetahui sejarah nenek moyang kita seperti apa, jadi harapannya kedepan dapat memberikan pencerahan dan informasi kepada masyarakat bahwa sandung ini sudah tidak dilakukan masyarakat di Sintang, dan masyarakat bisa mengetahui lengkap bagaimana budaya Sandung terjadi di lingkungan masyarakat, khususnya suku Kebahant, Kabupaten Sintang,” paparnya.

Sementara itu, Kepala UPT Museum Kalbar, Kusmindari Triwati mengatakan kajian tersebut dilakukan untuk melengkapi data-data kebudayaan yang rencananya akan dijadikan cagar budaya.

“Sandung ini fungsinya untuk menyimpan tulang belulang jenazah, menurut cerita narasumber yang ada itu untuk menaikkan satu tiang masyarakat dulu harus mengayau, jadi saya juga baru paham upacara ngayau itu untuk ini,” ungkap Kusmindari.

Pelestarian kebudayaan tersebut dilakukan untuk mengingatkan akan sejarah, serta pihaknya berupaya untuk membangun kawasan objek wisata tiang sandung.

“Jadi ini mengingatkan sebuah sejarah kita tahu bahwa ada kisah mengayau, di sisi lain dengan adanya agama masuk tidak ada lagi (kebudayaan ini) karena peri kemanusiaan, tapi sekaeang masyarkat di sana hidup damai, inilah ada sejarah tentang leluhur mereka supaya bisa menjadi suatu cerita untuk turun temurun,” ucapnya.

“Yang saya lihat di kampung itu sangat indah sekali, ada orang luar negeri yang mengambilnya, itu yang dilindungi makanya saya perhatian dengan kajian ini, kami bersama Disdikbud supaya ini bisa kita bangun objek wisata, kawasan Tiang Sandung, jumlahnya masih banyak dan adanya di tepi sungai,” pungkasnya.