Kumparan Logo
Konten Media Partner

Menghidupkan Kembali Pesona Pelaminan Adat Melayu Kalbar Lewat Workshop Budaya

HiPontianakverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Workshop Pesona Pelaminan: Adat dan Estetika Pernikahan Melayu Kalimantan Barat sukses digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak Tenggara pada Sabtu, 9 Agustus 2025. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Workshop Pesona Pelaminan: Adat dan Estetika Pernikahan Melayu Kalimantan Barat sukses digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak Tenggara pada Sabtu, 9 Agustus 2025. Foto: Dok. Istimewa

Hi!Pontianak - Di tengah gemerlap pesta pernikahan modern yang dipenuhi lampu sorot dan dekorasi instan, pelaminan adat Melayu masih berdiri sebagai simbol marwah dan cerita yang diwariskan turun-temurun. Namun, arus globalisasi kerap menggeser posisinya menjadi sekadar latar estetis, tanpa lagi diresapi maknanya.

Fenomena ini menjadi kegelisahan sekaligus pemicu lahirnya Workshop Pesona Pelaminan: Adat dan Estetika Pernikahan Melayu Kalimantan Barat yang digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak Tenggara pada Sabtu, 9 Agustus 2025.

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku adat, penggiat budaya, dan generasi muda untuk menafsir ulang serta menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam pelaminan.

Ketua panitia sekaligus penggagas kegiatan, Muslimin, menyebut workshop ini sebagai wujud nyata dari proposal pelestarian budaya yang berhasil lolos pendanaan Program Bantuan Pemerintah Fasilitas Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII.

“Pelaminan bukan hanya tempat duduk pengantin, tapi tempat duduk marwah. Setiap warna, bentuk, dan hiasan di situ punya cerita yang ingin kita teruskan,” kata Muslimin.

Workshop Pesona Pelaminan: Adat dan Estetika Pernikahan Melayu Kalimantan Barat sebagai salah satu pelestarian budaya. Foto: Dok. Istimewa

Workshop ini menghadirkan narasumber dari lintas bidang. Agus Setiadi menguraikan sejarah dan filosofi pelaminan sebagai ruang sakral dalam adat Melayu. Hari Santoso memaparkan teknik mendokumentasikan pelaminan secara visual untuk pelestarian budaya. Sementara itu, Anisa Fitri—penggiat budaya sekaligus direktur berbagai kegiatan seni seperti Art Borneo, Nugal, dan sejumlah pameran kolektif Emehdeyeh—membagikan pandangannya mengenai pelaminan sebagai ruang kreatif yang dapat diinterpretasi tanpa meninggalkan nilai adat.

Seluruh rangkaian dipandu oleh moderator, Arniyanti, yang menjaga suasana diskusi tetap interaktif dan hangat dari awal hingga akhir acara.

Sesi workshop mini menjadi bagian yang paling dinantikan. Peserta dibagi menjadi kelompok untuk merancang konsep pernikahan adat Melayu yang sederhana dan sarat makna. Ide-ide segar pun bermunculan, memadukan elemen tradisi dengan sentuhan inovasi.

“Dari workshop ini, saya baru sadar, pelaminan itu ibarat buku yang bercerita tanpa kata-kata. Kita tinggal belajar membacanya,” ungkap Sinta, salah satu peserta.

Menurut Anisa Fitri, antusiasme peserta menjadi bukti optimisme, “Mereka kreatif sekali, tapi tetap menghargai akar tradisi. Ini bukti kalau warisan budaya bisa tetap relevan di masa kini tanpa kehilangan jati dirinya.”

Kegiatan yang terdokumentasi secara visual ini diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran, inspirasi, dan promosi budaya di masa depan. Semua berjalan lancar dengan nuansa kekeluargaan dan rasa bangga pada warisan Melayu.

Pesona Pelaminan Melayu bukan sekadar agenda sehari saja, melainkan langkah awal untuk memastikan adat Melayu tetap hidup, berkembang, dan dicintai oleh generasi sekarang dan mendatang.