Optimalisasi AI dalam Jurnalistik: Cepat, Akurat, Tapi Jangan Ketergantungan
ยทwaktu baca 2 menit

Hi!Pontianak - Kehadiran teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin memudahkan pekerjaan sehari-hari, termasuk di bidang jurnalistik. Dalam pengolahan pemberitaan sendiri, AI dapat dioptimalisasikan oleh para jurnalis agar lebih efisiensi waktu.
Ketua AJI Kota Pontianak, Rendra Oxtora, menjelaskan berbagai macam tools AI yang dapat digunakan para jurnalis dalam proses produksi berita, termasuk mencari atau mendalami isu. Hal ini disampaikannya langsung dalam sesi materi 'Optimalisasi AI untuk Kerja Jurnalistik' di Aula Kencana Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat pada Senin, 22 September 2025.
Tools AI tersebut di antaranya App Colour Note, Dolby On, Transkrip Instan, GPT Notes, Text Fairy, hingga ChatGPT dan Gemini. Bahkan untuk memeriksa suatu berita apakah naskahnya ditulis oleh AI atau bukan, bisa menggunakan tools ZeroGPT.
Kendati demikian, Rendra tidak menyarankan untuk menggunakan AI sepenuhnya dalam mengolah berita mentah karena hal tersebut dapat menurunkan kualitas atau kemampuan sang jurnalis.
"Teknologi dibuat untuk memudahkan kerja manusia dan seharusnya membuat hidup lebih baik. Namun, jangan selalu bergantung pada teknologi karena hasil karya yang baik hanya berasal dari buah pikiran dan kerja keras kita sendiri," kata Rendra.
Rendra menyampaikan, tak jarang para jurnalis harus menyertakan data-data pendukung dalam pemberitaannya, terlebih data akurat terbaru sesuai dengan isu atau topik yang diangkat.
"Jurnalis yang baik adalah yang menyertakan data dalam beritanya," ujar Rendra.
Namun, tak jarang ketika jurnalis meminta atau menanyakan data saat wawancara, sang narasumber lupa terhadap angka pastinya. Untuk mengakalinya, Rendra menyarankan agar bisa memanfaatkan tools Perplexity guna mencari data akurat terkait persoalan yang bersangkutan.
Perplexity sendiri dikenal sebagai tools AI yang dapat memberikan data-data akurat dari berbagai referensi, mulai dari situs pemberitaan hingga artikel pendidikan sebagai sumbernya yang telah dirangkumkan langsung sehingga jurnalis tidak perlu mencarinya satu persatu lagi. Rendra bilang, penggunaan data ini bertujuan untuk melengkapi nilai berita yang diproduksi sehingga lebih berbobot ketika dibaca audiens.
"Namun, sebaiknya konfirmasi lagi ke narasumber untuk datanya, apakah benar seperti ini," tambahnya.
