Kumparan Logo
Konten Media Partner

Pasar Serikin Sarawak Buka Kembali Usai Pandemi: Terima Uang Ringgit dan Rupiah

HiPontianakverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pedang mulai ramai terlihat di Pasar Serikin, Sarawak, Malaysia. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Pedang mulai ramai terlihat di Pasar Serikin, Sarawak, Malaysia. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Pasar Serikin yang berada sekitar 80 kilometer dari Kota Kuching, Sarawak, kini telah dibuka kembali, setelah sempat tutup karena pandemi COVID-19.

Pasar tersebut didominasi oleh para pedagang Indonesia, yang menjajakan dagangannya, baik berupa pakaian, mainan, alat elektronik, perabotan rumah dari rotan, dan lain sebagainya.

Geliat ekonomi mulai bangkit usai pandemi, tak hanya terjadi di pusat Kota Kuching saja tapi juga di wilayah pinggiran ini. Di Pasar Serikin, Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, meski baru dibuka, para pedagang asal Indonesia berharap, aktivitas pasar mingguan ini bisa kembali seperti sediakala.

Pasar ini didominasi pedagang dan barang dari Indonesia, khususnya wilayah Kalbar. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Reporter Hi!Pontianak saat berkunjung ke pasar Serikin, melaporkan, kios-kios atau lapak dagangan yang membentang di sepanjang jalan di sana, belum semuanya buka.

Serikin adalah kota kecil di divisi Kuching, Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Kalbar). Kota ini terletak sekitar 15 kilometer dari Kota Bau, atau 80 kilometer dari pusat Kota Kuching.

Pasar 2 Mata Uang

Aktivitas pasar mingguan di Serikin sejak dulu sudah cukup terkenal. Banyak pedagang asal Indonesia yang membuka usaha di sana. Bahkan mayoritas barang dagangan di sana berasal dari Indonesia.

Aktivitas di pasar Serikin biasanya hanya dilakukan pada akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu. Banyak wisatawan atau orang Malaysia yang berbelanja di sana.

Pasar Serikin yang lokasinya di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia hanya buka hari Sabtu dan Minggu. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Karena lokasinya yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia, pasar Serikin juga dikenal dengan pasar dua mata uang. Karena di sana, pembeli bisa berbelanja menggunakan dua mata uang sekaligus, baik uang Ringgit Malaysia (RM), maupun Rupiah (Rp).

Namun sejak pandemi COVID-19 melanda, dan perbatasan antar negara ditutup, pasar Serikin sempat sepi, bahkan ditutup.

Di awal tahun 2022 ini, para pedagang kembali berjualan di sana. Termasuk para pedagang asal Indonesia mulai kembali mengadu nasib untuk berdagang.

Pedagang asal Pontianak yang ditemui misalnya, Maya (53 tahun), ia merasa senang bisa kembali berjualan di pasar Serikin. Ibu yang menjual berbagai jenis pakaian itu baru ketiga kalinya berjualan di sana setelah pandemi. Ia biasanya juga berangkat dari Pontianak pada hari Jumat, lalu berjualan pada Sabtu dan Minggu.

Para pedagang berharap usai pandemi pasar Serikin bisa lebih kembali ramai seperti sediakala. Foto: Teri/Hi!Pontianak

“Barang yang sudah lama, dua tahun lebih itu, ada di tempat kita di sini. Kita simpan di rumah orang kampung ini. Beginilah keadaannya. Ada yang hilang, ada yang rusak. Alhamdulillah ibu punya masih utuh, bagus, dapat dijual (lagi),” ujarnya, Kamis, 28 Juli 2022.

Untuk penjualan di kondisi saat ini menurutnya masih sangat kurang. Maya menduga, itu terjadi karena memang belum banyak pembeli yang tahu kalau pasar Serikin sudah kembali dibuka. Ia pun berharap pembeli di pasar Serikin bisa ramai kembali seperti dulu.

“Pelan-pelan lah kita jualan. Ada seberapa dapat rezeki tergantung lah. Ini untuk menghabiskan barang dulu, mengembalikan modal untuk ongkos pulang (ke Pontianak),” katanya.

Maya mengenang, dulunya pembeli di pasar Serikin datang dari berbagai tempat. Tidak hanya dari Sarawak atau Kuching, tapi juga dari Kuala Lumpur, Malaysia. Ia sendiri sebenarnya masih terbilang baru berjualan di sana. Dimulai sekitar dua tahun sebelum pandemi, karena diajak oleh temannya yang lebih dulu berjualan di sana.

Selain di Serikin, Maya bisasanya juga berdagang pakaian di Kabupaten Kapuas Hulu.

Alasan jualan di Serikin sama saja sebenarnya, karena suka saja jalan-jalan saja ke luar negeri. Biarpun tidak laku yang penting pergi, senang, bertemu kawan-kawan (pedagang),” ucapnya bangga.

Aktivitas jual beli di sana pun berangsur mulai bangkit. Seperti pedagang asal Pontianak lainnya, Iswanto (45 tahun). Ia baru beberapa hari berjualan kembali, setelah sekitar dua tahun lebih tutup karena pandemi. Terakhir Iswanto berjualan di sana pada akhir 2019.

Rata-rata menurut dia, pedagang asal Indonesia memang baru mulai jualan lagi di pasar Serikin. “Ada kawan-kawan yang sudah mulai sejak tiga minggu lalu. Ada yang sudah satu bulan. Jadi kami tidak jualan sekitar dua tahun lebih dari 2019,” ungkapnya.

Sebelum pandemi, pedagang pakaian dan peralatan elektronik itu sudah lebih dari 10 tahun berjualan di sana. Sehari-hari ia berjualan di Pasar Parit Besar, Kota Pontianak. Lalu di hari Jumat ia berangkat ke Serikin dan berjualan di sana pada Sabtu dan Minggu.

Iswanto menilai daya beli di pasar Serikin saat ini sudah lumayan. Meski tidak seramai ketika sebelum pandemi, ia optimis pasar tersebut bisa kembali ramai.

“Karena mereka (pembeli) tahu kalau dulu kan panjang, semuanya (kios) buka, kalau sekarang kan sedikit saja. Jadi (pembeli) yang dari jauh-jauh, dari Johor, dari Kuala Lumpur apa tidak ada datang. Dulu dari Johor, Kuala Lumpur, dari Thailand pun ada,” ungkapnya.

Pembeli pun, kata Iswanto senang berbelanja di sana karena bisa melakukan tawar menawar atau masih secara tradisional. Ke depan, ia pun berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan kemudahan bagi mereka yang berdagang di pasar Serikin. Terutama agar Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang segera dibuka, untuk memudahkan pedagang datang ke sana.

“Sekarang kami masuk dari Aruk (Kabupaten Sambas). Pakai mobil sewa (ke Serikin),” katanya.

Dengan kondisi seperti itu, ia merasa biaya operasional menjadi bertambah. Belum lagi ia harus menyewa kios atau lapak di pasar Serikin sebesar 120 Ringgit Malaysia per bulan. Dan juga menyewa kamar tinggal sebesar 100 Ringgit Malaysia per bulan. “Jadi kira-kira seperti itu biaya yang kami keluarkan setiap bulan,” tukasnya.