Kumparan Logo
Konten Media Partner

Prostitusi Anak, Anggota DPRD Pontianak Desak Pemkot Tutup Hotel yang Nakal

HiPontianakverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah anak perempuan diamankan di Polsek Pontianak Selatan karena terlibat jaringan prostitusi online. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anak perempuan diamankan di Polsek Pontianak Selatan karena terlibat jaringan prostitusi online. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Anggota DPRD Kota Pontianak, Yandi, mendesak Wali Kota Edi Rusdi Kamtono dan Pemkot Pontianak untuk bekerja lebih keras dalam mencegah maraknya prostitusi online yang melibatkan anak di Kota Khatulistiwa ini.

Yandi yang ikut dalam penggerebekan prostitusi online yang melibatkan anak di kawasan Pontianak Selatan pada Selasa malam, 30 Maret 2021, mengaku kesal, karena kasus tersebut masih terjadi di Kota Pontianak.

"Tutup saja hotelnya kalau ada unsur kesengajaan, karena hotel ini sudah beberapa kali kita gerebek. Pemkot Pontianak harusnya juga mengajukan pemblokiran aplikasi MiChat, karena mereka itu transaksinya di sana. Jangan tutup matalah," ujar Yandi.

Dalam penggerebekan itu, tim gabungan mengamankan 22 orang yang diduga masuk jaringan prostitusi online. Dari 22 orang tersebut, 13 orang di antaranya merupakan laki-laki, dan 9 orang perempuan.

Penjaringan tersebut dilakukan atas informasi dari warga, yang melaporkan bahwa ada sekumpulan anak yang berada di hotel tersebut.

“Sekitar pukul 20.15 WIB, KPPAD Kalbar bersama Polsek Selatan dan juga Polresta Pontianak, dibantu stakeholder lain, kita mengamankan 22 orang, 18 orang di antaranya anak di bawah umur, dan 4 lainnya dewasa,” jelas Komisioner KPPAD Kalbar, Alik R Rosyad.

Alik menyangkan terhadap 18 orang yang menjadi target utama sasaran kasus prostitusi anak di bawah umur kabur. “Tadi masih banyak yang lain, setelah tim kita datang mereka kabur. Ada sekitar 18 orang kabur, yang sudah kita identifikasi sebenarnya. Mereka kabur menggunakan taksi online atau kendaraan pribadi,” papar Alik.