Kumparan Logo
Konten Media Partner

Puluhan Warga di Pontianak Barat Terjangkit Skabies, Kebanyakan Anak-anak

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi penyakit kulit pada anak. Foto: Shutterrstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyakit kulit pada anak. Foto: Shutterrstock

Hi!Pontianak - Ratusan warga Jalan Apel Gang Pisang Berangan, Kelurahan Sungai Jawi Luar, terjangkit penyakit kulit skabies, sejak beberapa bulan terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Pontianak, Sidiq Handanu, mengatakan, penyakit skabies disebabkan oleh kutu, yakni sarcoptes scabei.

“Survei kita lakukan pada 15 Februari. Penanganan mulai hari ini, oleh Puskesmas Perum 1. Sumber penularan penyakit ini dari kontak erat dengan penderita, bukan dari air atau udara,” jelas Handanu, Selasa, 16 Februari 2021.

Kepala Puskesmas Perum 1, Martiningsih, mengatakan, masyarakat yang terjangkit penyakit kulit ini berjumlah sekitar 80 orang. Penyakit kulit ini dapat menular dengan cepat jika tidak segera diobati.

“Apabila 1 rumah ada yang terkena, dan tidak melakukan pengobatan, (maka) akan tertular. Ini berbentuk tungau. Ini cepat penularannya. Misalnya (melalui) kasur, seprai, atau kain selimut, jika tidak melakukan pencucian dengan benar. Semua warga terkena harus menjaga kebersihan, terutama kebersihan lingkungannya,” paparnya.

Martiningsih mengatakan, penyakit kulit massal ini tidak hanya menjangkit orang dewasa saja, namun ada juga menjangkit anak-anak, bayi, hingga balita.

“Ada yang kena bayi, balita, remaja, sama orang dewasa. Datanya sekitar 80-an orang. Ini data dari RT setempat. Hari ini kita dari Puskesmas Perumnas 1 melakukan pengobatan menindaklanjuti agar pengobatannya serempak, sekaligus,” ungkapnya.

Pihaknya mulai hari ini melakukan pengobatan massal, dan mulai gotong royong untuk membersihkan lingkungan, khususnya lingkungan rumah masing-masing.

Insya Allah kami berserta warga akan melakukan gotong royong, terutama kebersihan lingkungan masing-masing, mereka mendisinfektan rumah masing-masing, karena 1 RT tidak semua, ada yang tidak kena juga,” paparnya.

Sementara itu, salah satu warga yang terjangkit, Erna, mengatakan anaknya mulai terjangkit penyakit kulit tersebut sejak 6 bulan lalu. “Anak saya sudah dari bulan September 2020. Pertama kena seperti biang keringat, tapi dibiarkan lama-lama berair, tapi airnya kalau kita pecahkan jadi nanah, dan setelah itu belubang-lubang, dan sampai banyak, merembet. Saya juga kena di kaki. 1 gang ini rata-rata kena, kebanyakan anak-anak,” jelasnya.

Erna mengatakan sebelumnya ia pernah berobat ke dokter spesialis kulit, namun hingga saat ini tak kunjung sembuh, hingga ia membakar kasurnya.

“Pengobatan dari Puskesmas baru mulai hari ini. Ndak sembuh-sembuh sampai ke dokter spesialisnya, katanya ndak usah tidur pakai kasur dulu, sampai kasurnya saya bakar, baju-baju saya cuci pakai pemutih, di rumah ada 9 orang yang kena,” ungkapnya.