Kumparan Logo
Konten Media Partner

Selain Hilang Empati, Ini Dampak Buruk Prank Terhadap Anak

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak. Foto: Thinkstock

Hi!Pontianak - Fenomena lelucon yang marak di media sosial atau kerap disebut prank menuai pro dan kontra di masyarakat. Sasarannya pun bukan hanya orang dewasa, namun juga anak-anak.

Tindakan yang dilakukan dengan sengaja kepada seseorang, sebagai suatu candaan atau gurauan, belakangan sering terjadi pada anak-anak. Para orang dewasa sering kali menyorot kelucuan dan kepolosan anak-anak yang di-prank, hanya demi mendulang sebuah konten di media sosial.

Menanggapi fenomena prank terhadap anak, Psikolog asal Pontianak, Verty Sari Pusparini, mengaku prihatin. Menurutnya, kelucuan anak-anak seharusnya tidak dijadikan sebagai objek meskipun hanya untuk lucu-lucuan semata.

"Prank pada anak mungkin terlihat menghibur dimana bisa melihat reaksi lucu dari anak-anak. Namun perlu diwaspadai bahwa tidak semua prank bersifat menghibur bahkan bisa menyebabkan dampak negatif pada anak," katanya

Berikut ini berapa dampak negatif prank terhadap anak yang dapat ditimbulkan:

1. Kehilangan kepercayaan pada orang terdekat

Menurut tahap perkembangannya, usia anak sedang berada dalam tahap mengobservasi lingkungan dan butuh menemukan keamanan dari lingkungan. Ketika dikerjain dengan cara yang melukai terutama oleh orang tersayang atau terdekatnya, dapat menimbulkan rasa tersakiti dan hilang kepercayaan pada sekitarnya.

2. Mengurangi rasa empati

Menurut Verty, secara logika, anak yang sering melakukan prank dan menyulut emosi negatif orang lain, lama kelamaan tidak akan mempunyai rasa empati. Hal ini dikarenakan anak senang melihat orang lain menderita, atau melakukan prank semata-mata hanya demi kebahagiaan pribadi

"Menjadi korban pranks dapat mempengaruhi perkembangan moral anak. Salah satunya dapat mendorong anak melakukan prank pada orang lain dengan kurang memiliki rasa empati pada orang lain"katanya.

3. Menurunkan harga diri

Pembentukan harga diri anak juga sedang dalam pembentukan. Anak yang menjadi korban prank dapat merasa tidak berharga

4. Memicu sikap agresif

Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa prank dapat memicu penghinaan pada diri sendiri yang termanifestasi pada sikap agresif dan cenderung berani bersikap sadis.

Selain itu, Verty menambahkan dampak prank ini dapat dipengaruhi oleh resiliensi dan faktor lingkungan. "Anak yang berada dalam lingkungan yang hangat, mendapat support dan tercukupi secara finansial maupun emosional dapat mengatasi prank dengan baik. Sebaliknya, anak yang memiliki masalah emosi dan memiliki kekurangan, dapat merespon prank secara negatif"tuturnya.

5. Memicu Rasa Trauma hingga Usia Dewasa

Kebiasaan menjahili anak juga bisa berdampak buruk hingga memicu rasa traumatis. Peristiwa tidak menyenangkan yang dialami oleh anak-anak bisa saja memicu trauma yang berkepanjangan, apalagi bila kejadian itu terjadi secara mendadak.