Singkawang Disebut Sebagai Destinasi Wisata Seks Bagi WNA, Pemkot Lapor Polisi

Konten Media Partner
7 November 2022 17:47
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi Kota Singkawang. Foto: Leo Prima
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kota Singkawang. Foto: Leo Prima
ADVERTISEMENT
Hi!Pontianak - Pemerintah Kota Singkawang melaporkan salah satu media online ke polisi, setelah media tersebut menyebut Kota Singkawang sebagai salah satu destinasi wisata seks bagi warga asing di Indonesia.
ADVERTISEMENT
"Kami akan ambil langkah tegas, melayangkan somasi dan membuat laporan kepolisian. Berita semacam ini jelas akan menggiring opini publik yang tidak benar terhadap kaum perempuan di Kota Singkawang," kata Rully Amri, Kepala Bagian Hukum Pemkot Singkawang kepada wartawan di Singkawang, Senin, 7 November 2022.
Setelah mendapat masukan dari Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, Rully sendiri yang melaporkan media tersebut ke polisi.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Ini perlu diluruskan. Pihak yang membuat dan merilis berita tersebut harus melakukan klarifikasi, koreksi, dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Kota Singkawang," ujar Rully.
Sebelumnya, salah satu media online nasional menuliskan berita berjudul "Daerah-daerah di Indonesia yang Ramai Prostitusi Warga Asing" pada 1 November 2022 lalu. Dalam berita tersebut, Kota Singkawang disebut sebagai salah satu daerah yang menjadi tujuan hiburan malam bagi WNA. Namun, artikel tersebut pun sudah direvisi setelah mendapat keberatan dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
ADVERTISEMENT
Anggota DPRD Kalbar dari Dapil Singkawang-Bengkayang, Niken Tia Tantina, menuturkan, pemberitaan tersebut telah merusak citra Kota Singkawang. Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Kalimantan Barat itu lantas mempertanyakan metode pengumpulan data yang digunakan media tersebut.
“Kota Singkawang ini sudah berkali-kali meraih predikat sebagai kota paling toleran di Indonesia. Adanya berita ini telah merusak citra tersebut. Data yang diperoleh itu juga tidak jelas sumbernya dari mana. Metode apa yang digunakan juga kita tidak tahu. Mungkin main copas saja tanpa penelusuran lebih jauh,” tuturnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020