Kumparan Logo
Konten Media Partner

Tinggal 2 Orang di Seluruh Kalbar, Pengrajin Sulam Kalengkang Mulai Langka

HiPontianakverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sulam kalengkang khas Melayu. Foto: Teri/Hi!Pontianak
zoom-in-whitePerbesar
Sulam kalengkang khas Melayu. Foto: Teri/Hi!Pontianak

Hi!Pontianak - Pengrajin sulam kalengkang, teknik sulam Melayu, khususnya pada masyarakat di Keraton di Kalimantan Barat kian langka, dan sudah jarang ditemui.

Sulam kalengkang merupakan ciri khas penyulaman masyarakat keraton Melayu, seperti di keraton Kadriah Pontianak, keraton Sintang, dan keraton Sanggau. Namun saat ini hanya terdapat 2 pengrajin yakni di Pontianak dan Sanggau.

Untuk mempertahankan kebudayaan kerajinan tersebut, Museum Provinsi Kalbar menggelar pelatihan menyulam kalengkang, kegiatan tersebut dibuka untuk masyarakat umum.

“Ini agenda tetap, setiap tahun adakan belajar bersama di Museum tujuannya mengedukasi masyarakat seperti sulam kalengkeng, karena hal ini sangat langka dan pengrajin sudah banyak tidak aktif lagi, makanya kita mengulang lagi karena antusias masyarakat sangat tinggi, hari ini aja kuota sudah penuh tapi banyak mendaftar,” jelas Kepala UPT Museum Kalimantan Barat, Kusmindari Triwati, Selasa, 8 Juni 2021.

Seoang anak belajar menyulam kalengkang. Foto: Leo Prima/Hi!Pontianak

Kusmindari mengatakan, kalengkang ini terdapat di Keraton Kadariah, biasanya kain yang disulam kalengkang tersebut digunakan oleh raja-raja seperti pada kostum, tudung saji, taplak meja, sarung bantal. “Kalau di keraton tempat tidur raja juga disulam dengan sulam kalengkang,” ucapnya.

Pengrajin sulam kalengkang sudah cukup sulit dijumpai karena beberapa faktor, Kusmindari mengatakan, salah satunya adalah karena benang kalengkang sudah sulit ditemukan, bahkan pihaknya harus membelinya dari luar negeri.

“Benangnya susah kita dapatkan sekarang, kalau kita tidak beli di Singapura atau India, benang kelengkeng benang khusus dari luar negeri. Penyulamnya di Kalbar saat ini memang ada di Pontianak dan Sanggau, tinggal 2, di Sintang ada tapi sudah punah,” paparnya.

Sementara itu, Syarifah Aisyah, penyulam kalengkang menceritakan sejarah dari sulam kalengkang tersebut, sebelumnya sulam kalengkang ini berasal dari kesultanan, dan setelah itu menyebar ke masyarakat melayu Pontianak.

Pengrajin sulam kalengkang di Kalbar mulai langka. Foto: Teri/Hi!Pontianak

“Saya temurun dari Keraton Pontianak. Sejarahnya asal dari kesultanan, dari nenek saya, sultan Pontianak yang pakai, lama-lama masyarakat melayu Pontianak mulai menggemari akhirnya menyebar, dikirim ke hulu, makanya di hulu juga ada penyulam,” jelasnya.

Wanita berusia 48 tahun tersebut juga menceritkan bahwa motif dari penyulaman kalengkang ini beragam, mulai dari motif enggang, pucok rebung, padang tebakar, kembang bunga, dan motif melayu lainnya.

“Motifnya banyak ya, kalengkang ini juga untuk pakaian pengantin, tutup hantaran, tempat tidur, pelaminan, dan masih banyak lagi,” ucapnya.

Aisyah mengatakan, kalengkang merupakan ciri khas dari keraton sehingga keluarga keraton harus menggunakan kain dari sulam kalengkang tersebut dan menandakan bawah ia merupakan keluarga terdekat, saat saprahan, saat memakai adat keluarga penganten, dan pada saat pesta pernikahan.

“Kita kan dari turun temurun, memang susah cari penerusnya sekarang. Selain barangnya susah ditemukan, cara penyulamannya juga lebih sulit dari penyulaman biasa. Makanya saya mencoba unruk melestarikannya, menyebarkan agar penggemarnya semakin banyak, maka juga diadakan pelatihan seperti ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Ibrahim, salah satu peserta pelatihan penyulaman kalengkang tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut karena ingin melihat proses pembuatan dari kerajinan tradisional ini.

Museum Kalbar menggelar pelatihan sulam kalengkang untuk melestarikan budaya Melayu ini. Foto: Teri/Hi!Pontianak

“Ini kan kerajinan tradisional yang mungkin sudah lama kita sudah tidak pernah lihat lagi, barang ini sulit kuta temukan, kebetulan tertarik dengan bentuk dan kebudayaan lama yang ingin kita munculkan lagi, selma ini kan kita lihat bentuk tapi yang saya inginkan melihat prosesnya,” kata pria berusia 51 tahun tersebut.

Ibrahim juga mengatakan, alasan ia mengikuti pelatihan tersebut adalah agar ia bisa menceritakan kepada anak dan cucunya kelak tentang penyulaman kalengkang tradisional ini.

“Saya ngin apabila nanti saya tua anak-anak bisa bertanya dari apa ini barangnya, paling tidak saya tahu dan ngerti ini kalengkang yang dikerjakan tidak seperi benang biasa, perlu perlakuan khusus dengan cara spesial jadi rudak sembarangan. Jadi bisa menceritakan ke anak-anak tentang kalengkang ini, terlihat sederhana namun prosesnya sulit,” pungkasnya.