Tren Adopsi Boneka Arwah, Psikolog Ingatkan Bahaya Delusi
ยทwaktu baca 3 menit

Hi!Pontianak - Belakangan ini spirit doll atau boneka arwah sedang populer dikalangan selebriti. Mereka merawat dan memperlakukan boneka tersebut seperti anaknya sendiri. Lalu apa kata psikolog?
Menanggapi fenomena tersebut, Psikolog di Pontianak, Patricia Elfira Vinny mengatakan, sebelum tren di Indonesia mengadopsi boneka arwah sudah lebih dulu populer di negara-negara maju. Namun, di sana boneka tersebut hanya dijadikan sebagai hobi atau koleksi semata.
"Sempat viral juga ya tentang Psikolog Lita Gading mengomentari masalah selebriti mengadopsi boneka arwah atau spirit dolls ini. Sebenarnya terlepas dari persoalan itu ada masalah atau tidak, memang mengadopsi boneka bisa jadi salah satu hobi, yang mana ini juga jadi tren di negara-negara berkembang, di luar Indonesia," kata Patricia kepada Hi!Pontianak, Kamis, 6 Januari 2022.
Menurutnya, tidak ada salahnya jika seseorang memainkan atau merawat boneka arwah. Hanya saja hal itu bisa menjadi bahaya saat seseorang sudah terjatuh dalam ruang delusi. Artinya, orang tersebut tidak bisa membedakan antara realita dan halusinasi.
"Menurut pandangan atau sisi psikologi sendiri, memiliki sebuah boneka sebagai lawan bicara itu tidak bermasalah atau tidak menunjukkan sebuah masalah. Di mana ada yang namanya pengalihan emosi ke hal-hal yang sifatnya tidak membahayakan seperti berbicara sendiri (self talk), berbicara dengan boneka, menulis jurnal, dan lain sebagainya," ungkap Patricia.
"Hanya saja kalau ada arah seperti seolah-olah boneka itu adalah bayi atau anak sendiri, itu bisa mengarah ke persoalan delusi. Delusi sendiri adalah jenis gangguan mental, di mana penderitanya tidak dapat membedakan kenyataan dan imajinasi, sehingga ia meyakini dan bersikap sesuai dengan hal yang ia pikirkan," jelasnya.
Kendati demikian, Patricia tidak ingin serta-merta menyalahkan seseorang untuk memiliki atau mempunyai boneka arwah. Menurutnya, setiap orang memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda.
"Kalau salah atau tidak, saya tidak bisa berspekulasi banyak, karena setiap orang punya pemikiran dan pendapat yang berbeda. Tapi jika mengacu pada merawat boneka layaknya bayi sendiri atau anak sendiri, sepertinya bisa jadi hal yang salah yang mana boneka itu kan benda tidak hidup. Sedangkan bayi atau anak itu adalah makhluk hidup. Jadi jika dilogikakan saja sudah berbeda," ucapnya.
Lebih lanjut Patricia mengungkapkan, ada beragam faktor di balik ketertarikan para selebriti merawat spirit doll itu. Bisa jadi hanya mengikuti tren yang sedang marak atau untuk mengisi keseharian mereka.
"Mungkin karena terlihat lucu? Menarik? Mungkin ya, karena masing-masing orang berbeda pendapatnya. Kalau digeneralisasi ya kesan pertama melihat si boneka itu dulu," tuturnya.
Jika ingin memiliki boneka tersebut, Patricia menganjurkan untuk bersikap sewajarnya tidak menganggap boneka tersebut terlalu berlebihan. "Wajar jika tidak sampai memberikan makanan minuman, dan lain-lainnya seolah-olah memang dia nyata," pungkasnya.
