World Press Photo di Pontianak Bahas Kekuatan Fotografi sebagai Cermin Dunia
·waktu baca 2 menit

Hi!Pontianak - Sesi 'Photo Talk on World Press Photo: Photography can define what matters' sukses digelar di Port 99, Pontianak pada Jumat, 3 Oktober 2025, pukul 16.00–17.30 WIB. Acara ini diinisiasi oleh Erasmus Huis selaku Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta sebagai bentuk ruang diskusi dan refleksi melalui fotografi jurnalistik yang dihadirkan di Kota Pontianak.
Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara, yakni Leo Prima, Ketua Pewarta Foto Indonesia Pontianak, serta Helti Marini Sipayung, Kepala LKBN Antara Biro Kalimantan Barat. Diskusi juga dipandu oleh Larasati selaku seorang fotografer muda.
Project Manager Erasmus Huis, Bob Wardana, menyampaikan pentingnya acara ini bagi komunitas fotografer lokal.
“Sebenarnya ini yang kita harapkan. Jadi, di Pontianak ini, teman-teman fotografer, komunitasnya sudah hidup, sudah berjalan. Mereka juga sudah banyak membuat dokumentasi-dokumentasi,” kata Bob.
Ia menambahkan, “Foto ini, kan, semacam cermin refleksi tempat kita melihat. Kemudian itu juga memberikan motivasi atau inspirasi buat teman-teman fotografer untuk merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita.”
Pada kesempatan yang sama, Leo Prima menegaskan peran vital fotografi dalam dunia informasi.
“Tidak bisa dipungkiri juga bahwa foto ini merupakan elemen penting di dunia informasi, termasuk di media. Foto memberikan sebuah fakta yang tidak bisa dihindari,” jelas Leo.
Ia juga menekankan bahwa foto jurnalisme bukan sekadar estetika saja, “Di jurnalis, kita tidak ngomongin tentang keren atau tidaknya, tapi bagaimana pesan ini bisa kena ke pembaca, bagaimana pemikiran-pemikiran bisa disampaikan ke pembaca melalui sebuah karya foto. Itu kenapa foto jurnalisme memang mempunyai tantangan lebih.”
Senada dengan pendapat tersebut, Helti Marini Sipayung juga menegaskan bahwa foto dan teks memiliki posisi sejajar dalam jurnalisme.
“Bahwa foto itu dan teks sebenarnya kebutuhannya sama bagi dunia jurnalistik. Jadi, keduanya satu level: foto dan teks. Dan keduanya sebenarnya harus saling melengkapi. Foto tanpa teks membuat orang bingung, begitu juga sebaliknya,” ungkap Helti.
Melalui gelaran pameran dan photo talk ini, publik diajak memahami bahwa fotografi tidak hanya menjadi media dokumentasi, tetapi juga instrumen refleksi, penyampai pesan, serta penggerak kesadaran sosial.
Penulis: Ersi
