Konten dari Pengguna

Mengejar Investasi atau Membangun Ekonomi?

Kemampuan Indonesia untuk menarik modal terus menguat. Pada 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mencapai 101,3 persen dari target. Pada semester I 2026, realisasi kembali mencapai Rp1.010,6 triliun atau 49,5 persen dari target tahunan.

Namun, banyaknya investasi tidak serta-merta menunjukkan besarnya manfaat bagi perekonomian. Investasi memang diperlukan untuk menambah kapasitas produksi, tetapi modal yang masuk baru akan berdampak ketika menghasilkan kegiatan ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak modal yang berhasil ditarik, tetapi apa yang dihasilkan dari modal tersebut.

Sumber: Dokumentasi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Penulis

Hilirisasi dapat menjadi salah satu contohnya. Pada 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau 30,2 persen dari total investasi nasional, tumbuh 43,3 persen dari tahun sebelumnya. Sebanyak 71,1 persen investasi hilirisasi berada di luar Jawa. Besarnya investasi tersebut menunjukkan semakin banyak modal yang diarahkan untuk mengolah sumber daya alam di dalam negeri. Namun, pembangunan fasilitas pengolahan belum cukup untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dari investasi tersebut ikut meningkat.

Pengolahan mineral, misalnya, tidak berhenti pada mengubah bahan mentah menjadi produk olahan. Kegiatan tersebut seharusnya diikuti dengan tumbuhnya industri lanjutan, pemasok domestik, jasa pendukung, serta kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih tinggi. Transfer teknologi juga perlu menjadi bagian dari proses tersebut agar kemampuan produksi di dalam negeri ikut meningkat. Dengan begitu, investasi tidak hanya menghasilkan satu proyek, tetapi membentuk rangkaian kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah lebih besar.

Pentingnya dampak investasi semakin terlihat dari tantangan produktivitas Indonesia. World Bank dalam Indonesia Growth and Jobs Report 2026 menilai Indonesia perlu mempercepat transformasi struktural melalui peningkatan produktivitas, perbaikan iklim usaha, persaingan, investasi, dan kualitas pekerjaan. World Bank memperkirakan paket reformasi tersebut berpotensi meningkatkan GDP hingga 10 persen dan pendapatan tenaga kerja hingga 11 persen di atas baseline pada 2040, sekaligus menciptakan 16,5 juta pekerjaan berkualitas lebih baik.

Artinya, investasi perlu dilihat bukan hanya sebagai tambahan modal, tetapi sebagai sarana untuk memperkuat perekonomian. Dampaknya dapat dilihat dari bertambahnya kapasitas produksi, meningkatnya penggunaan teknologi, terciptanya pekerjaan yang lebih produktif, dan semakin besarnya nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri. Jika perubahan tersebut tidak terjadi, pertumbuhan investasi belum diikuti peningkatan kemampuan ekonomi yang sebanding.

Target investasi dan tujuan pembangunan juga perlu dibedakan. Target investasi mengukur seberapa banyak modal yang berhasil ditarik ke Indonesia. Pembangunan ekonomi mengukur apa yang dihasilkan dari modal tersebut. Keduanya saling berkaitan, tetapi pencapaian target investasi tidak otomatis menunjukkan peningkatan kapasitas ekonomi.

Indonesia tetap membutuhkan investasi dalam jumlah besar untuk membangun industri, infrastruktur, teknologi, serta menciptakan lapangan kerja. Namun, keberhasilan menarik investasi seharusnya menjadi awal, bukan akhir dari upaya pembangunan. Setelah modal masuk, perhatian perlu diarahkan pada manfaat yang dihasilkan bagi perekonomian domestik.

Investasi bukan sekadar angka yang tercatat dalam realisasi. Nilainya terletak pada apa yang dibangun dari modal tersebut: kapasitas produksi yang lebih kuat, produktivitas yang lebih tinggi, industri domestik yang berkembang, dan nilai tambah yang semakin besar.