Konten dari Pengguna

Dari Fantasi ke Realitas : Perpaduan Realisme dan Surealisme di Panggung Teater

Hisatomi Tajudin

Hisatomi Tajudin

Mahasiswa Aktif Universitas Bunda Mulia Prodi Ilmu Komunikasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hisatomi Tajudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertunjukkan "Kursi Panas" karya mahasiswa Universitas Bunda Mulia dengan gestur dan dialog yang mencerminkan kehidupan sehari-hari.
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukkan "Kursi Panas" karya mahasiswa Universitas Bunda Mulia dengan gestur dan dialog yang mencerminkan kehidupan sehari-hari.

Seni Teater – Pada awalnya, di zaman Yunani Kuno, teater dimanfaatkan sebagai sarana untuk ritual. Namun seiring jalannya waktu, tumbuh persepsi bahwa teater bukan lagi sekadar pertunjukkan, melainkan sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan dan menunjukkan eksistensi manusia sebagai sesuatu yang abadi. Kini, teater telah berevolusi menjadi sesuatu yang mencerminkan kehidupan sehari hari kita.

Di era modern sekarang berbagai aliran muncul ke permukaan dan yang menonjol adalah aliran Realisme. Menurut Constantin Stanislavski sebagai salah satu figur yang menjadi fondasi aliran ini, percaya bahwa teater sudah bukan lagi hiburan tetapi sebagai cermin kehidupan yang mengajak penonton untuk melihat diri mereka sendiri dan merasa "itu bisa saja terjadi kepada ku."

Di sisi lain, aliran yang menentang keberadaan Realisme adalah aliran Surealisme. dicetuskan oleh André Breton, ia berkata kalau Surealisme adalah metode ekspresi pikiran yang sebenarnya tidak dibatasi akal dan logika. Aliran ini justru menolak menampilkan realitas sebagaimana adanya dan percaya bahwa panggung adalah pintu ke dunia batin.

Jika Realisme memperlihatkan kehidupan sebagaimana adanya dan Surealisme mengekspresikan bagaimana rasanya berada di alam bawah sadar, maka Teater Modern menyatukan kedua aspek itu. Dengan gaya kontemprorer yang merepresentasikan elemen surealis, yaitu simbol-simbol yang dapat ditafsirkan oleh penonton dan memanfaatkan latar dunia nyata sebagai fondasi untuk menciptakan suasana yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Di titik pertemuan itu, teater tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga menggugah kesadaran penonton bahwa di antara realitas dan fantasi, manusia selalu berusaha memahami dirinya sendiri.