Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar 'Berkunjung ke Rumah Eyang'

Hisma Afifatutamim

Hisma Afifatutamim

Mahasiswa Sastra Arab Universitas Gadjah Mada

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hisma Afifatutamim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2019 adalah kali kedua saya dan keluarga melakukan perjalanan yang cukup panjang. Tujuan dari perjalanan panjang kami ketika itu adalah Bengkulu, yang merupakan daerah tempat tinggal kakek dan nenek, juga keluarga besar dari ayah saya. Kali pertama kami melakukan perjalanan ke sana, adalah ketika saya masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, pada tahun 2011.

Ketika melakukan perjalanan ke Bengkulu, keluarga kami selalu memilih lewat jalur darat dari pada jalur udara. Selain karena biayanya yang terbilang cukup murah, dengan perjalanan darat, kami dapat menikmati pemandangan indah di sepanjang perjalanan dari Yogyakarta sampai Bengkulu. Meski memakan waktu yang terbilang cukup lama, tapi hal itu tentu tak sebanding dengan apa yang kami dapatkan selama perjalanan.

Kendaraan yang keluarga kami tumpangi melintasi kurang lebih delapan provinsi yang ada di Indonesia. Dimulai dari provinsi-provinsi yang ada di Pulau Jawa, yaitu Provinsi D.I.Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Selama perjalanan menyusuri Pulau Jawa, kami disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan. Kami juga melewati jalan tol dari daerah Jawa Barat, hingga kami sampai di Pelabuhan Merak. Kendaraan kami masuk ke dalam kapal feri yang begitu besar. Kapal besar itu menyeberang dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni melalui Selat Sunda. Perjalanan kami kemudian berlanjut di Pulau Sumatra, yang dimulai dari Provinsi Lampung. Kemudian setelahnya, kami melewati Provinsi Sumatra Selatan, hingga kami sampai di Bengkulu.

Salah satu momen yang paling tak terlupakan dalam perjalanan kami adalah ketika melintasi Kota Curup di Provinsi Bengkulu. Pemandangan yang menemani perjalanan kami di sana begitu menakjubkan. Bukit-bukit di atas awan, juga ladang-ladang jagung di tepi jalan sangatlah memanjakan mata. Meski begitu, trek jalan yang ada di daerah Curup terbilang cukup ekstrem dan tak jarang membuat kami sport jantung. Namun, hal itulah yang justru membuat perjalanan kami dipenuhi dengan rasa tawakal dan lantunan doa-doa, juga bacaan al-Qur'an yang tak henti-hentinya mengiringi perjalanan. Juga satu momen lagi, saat kami sampai di Kota Bengkulu ketika waktu senja tiba. Kami memutuskan untuk menepikan mobil, sekadar untuk menikmati matahari tenggelam di garis cakrawala Samudra Hindia, dan mengabadikan momen indah tersebut bersama keluarga.

Senja di kaki cakrawala Samudra Hindia. Foto oleh: Hisma Afifatutamim

Kabupaten Bengkulu Utara. Perjalanan kami selama kurang lebih empat hari tiga malam itu, mungkin memang terasa melelahkan. Namun, rasa lelah itu dapat segera sirna dan terbayarkan oleh pertemuan kami dengan keluarga besar yang telah menanti kedatangan kami. Peluk hangat dan sambutan dari keluarga besar ketika kami sampai di rumah kakek dan nenek, merupakan penawar paling manjur untuk segala rasa lelah yang kami rasakan. Perjalanan saya dan keluarga dari Yogyakarta menuju Bengkulu tak pernah sia-sia. Selalu ada hal bermakna di balik lama dan panjangnya perjalanan yang telah kami tempuh.

Desa Bukit Sari, SP 5, Ulok Kupai, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Foto oleh: Hisma Afifatutamim.