Pandemi COVID-19: Langkah Apa yang Diambil Desa Canggal untuk Wisata Desa?

Mahasiswa - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang
Tulisan dari Damar Tri Puspaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Munculnya pandemi COVID-19 di seluruh dunia berdampak pada semua aspek, termasuk aspek pariwisata. Hampir semua tempat pariwisata ditutup dan anjuran untuk semua aktivitas masyarakat dari rumah, sehingga menyebabkan dunia pariwisata ambruk. Meskipun demikian, tidak mematahkan semangat masyarakat Dusun Gunung Wuluh untuk terus membuat inovasi pengembangan dunia pariwisata. Dusun Gunung Wuluh merupakan salah satu dari enam dusun di Desa Canggal Kecamatan Candiroto Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Semenjak pandemi COVID-19, tempat wisata alam Curug Tarung di Dusun Gunung Wuluh mengalami penurunan kunjungan wisatawan hampir 100%. Hal tersebut memunculkan ide kreatif pecinta alam sekaligus pengasuh adat yang bernama Bapak Moestamaji Seto Purwoko Yoelianto atau yang sering dipanggil Pak Tambun dan masyarakat setempat dengan menciptakan tradisi Rembug Adat di Curug Tarung untuk menarik wisatawan datang kembali ke Dusun Gunung Wuluh setelah dunia pariwisata diizinkan untuk beroperasi kembali.

"Rembug Adat itu tradisi adat yang dilakukan tiap selapan hari, malam Jumat Kliwon karena hari itu dianggap sakral menurut kejawen", ujar Pak Tambun saat diwawancara. Jadi, Rembug Adat merupakan tradisi adat Dusun Gunung Wuluh yang diadakan di Curug Tarung setiap 35 lima hari sekali (selapanan) tepat pada malam Jumat Kliwon. Pemilihan waktu rembug adat di malam jumat kliwon karena hari tersebut dianggap sakral untuk pelaksanaan tradisi adat tersebut.
"Yang mengikuti Rembug Adat itu ada masyarakat dan pemangku adat", lanjutnya.
Pak Tambun juga menjelaskan mengenai rangkaian Rembug Adat, mulai dari:
Cacah jiwo wiwitan, yaitu pendataan jumlah peserta yang akan mengikuti rembug adat.
Lampah adat wiwitan, yaitu berjalan kaki dari wilayah pemukiman Dusun Gunung Wuluh menuju ke pawon alas (dapur di tengah hutan).
Rahabpan, yaitu beristirahat di pawon alas.
Lampah adat kapindo, yaitu berjalan kaki kembali dari pawon alas menuju sasono rembug adat (tempat kegiatan rembug adat).
Rembug adat, yaitu kegiatan inti dari beberapa rangkaian yang di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan.
Pambuko, yaitu pembukaan dari pemangku adat.
Suluk cagak langit, yaitu kegiatan tahlilan dan doa bersama yang dipimpin oleh tetua adat. Kegiatan ini dilakukan untuk mengingat Tuhan yang Maha Kuasa dan rasa syukur masyarakat dapat menikmati potensi alam yang ada di Dusun Gunung Wuluh.
Rembug adat, yaitu kegiatan diskusi yang dilakukan oleh peserta rembug adat dan dipimpin oleh pengasuh adat. Hal yang didiskusikan mengenai pelestarian alam, evaluasi dan pengembangan wisata alam di Dusun Gunung Wuluh, hingga kegiatan Dusun Gunung Wuluh lainnya.
Penetapan keputusan adat, dilakukan oleh pengasuh adat dan disetujui oleh pemangku adat dan tetua adat dari pendapat peserta rembug adat.
Dapuk pitung tuk, yaitu penggabungan ke tujuh mata air setelah selesai dilakukan penetapan keputusan adat.
Basuhan suci, yaitu pengambilan sedikit air untuk dibasuhkan ke muka dari ketujuh mata air yang sudah digabungkan.
Tumpengan, yaitu peserta rembug adat menikmati hidangan nasi tumpeng dengan lauk ingkung pithik jowo (masakan 1 ekor ayam kampung utuh).
"Tradisi rembug adat dibuat begitu penuh makna dan berbeda dengan tradisi adat jawa lainnya agar menarik wisatawan dan masyarakat umum. Tak hanya menarik wisatawan lokal, melainkan wisatawan mancanegara", kata Pak Tambun.
Promosi menjadi tonggak dalam bertahannya suatu potensi wisata. Kini promosi destinasi wisata dapat dilakukan dengan memanfaatkan platform digital. Kemudahan akses digital dapat menjadi pilihan untuk memperluas cakupan promosi wisata. Maka dari itu, Universitas Diponegoro bekerjasama dengan Exovillage mengadakan program KKN Tematik dengan maksud dan tujuan membantu desa mempromosikan potensinya melalui platform digital khususnya melalui website exovillage.
Desa Canggal menjadi pilihan desa sasaran bagi tiga mahasiswa yaitu Damar Tri Puspaningrum didampingi dosen pembimbing Dra. Ana Irhandayaningsih, M.Si, Nabila Syarifa didampingi dosen pembimbing Dinalestari Purbawati, S.E., M.Si., Akt, dan Sekar Mayang Hapsari didampingi dosen pembimbing dr. Sri Winarni, M.Kes. Kami melaksanakan empat program KKN yaitu identifikasi potensi desa, pemberdayaan masyarakat, literasi digital dan penyusunan roadmap pengembangan destinasi wisata. Kami sebagai mahasiswa berada di tengah masyarakat membantu mencari potensi desa yang dapat dikembangkan dan turut serta dalam setiap acara desa dan adat yang diselenggarakan di Desa Canggal sebagai wujud pengabdian masyarakat. Dengan adanya kegiatan KKN ini diharapkan mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dan membantu menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat khususnya terkait pengembangan potensi desa. Di tengah pandemi Covid-19 ini semoga sektor pariwisata dapat bangkit kembali dengan bantuan promosi melalui platform digital dari mahasiswa dan kader desa yang telah diberi pelatihan.
