Bawa Eno (Cerita Pendek)

Mahasiswa yang aktif mengamati isu-isu ekonomi lokal dan perubahan sosial di Sulawesi Barat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Thihar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerpen by: thihar

Keberanian yang terkumpulkan tidak pernah cukup mendorong saya menghentikannya. Eno selalu menjadi bulan-bulanan. Kerap kali sehabis menonggak miras di luar, Ayah akan pulang mengacak-acak rumah, mencari Eno untuk dipukuli. “Kamu anak setan!” cerca Ayah, diikuti bunyi dengguman keras tubuh Eno. Rasa takut juga ketidakberdayaan membuat saya selalu enggan menoleh. Tubuh kecilnya diseret, dihempaskan ke teras. Larut malam, ketika Ayah sudah tepar tak sadarkan diri di atas sofa, barulah saya berani membukakan pintu untuknya. Di teras, Eno meringkuk, mendekap kedua kakinya yang memar kebiruan. Melihat kedatangan saya, ia segera bangkit, duduk menyilangkan kaki, seolah sudah terbiasa dengan semua ini. Entah apa yang dihantamkan Ayah hingga putih matanya berubah merah pekat. Saya menangis. Tangan kecilnya bergerak menyeka air mata di pipi saya. “Sudah... ini tidak sakit,” ucapnya, memperlihatkan senyum kecil yang semakin mengiris hati saya. Berulang kali kata maaf terucapkan, saya semakin membenci diri saya sendiri yang tidak berdaya. Pertanyaannya yang tidak pernah saya miliki jawabannya selalu ditanyakan, “Kakak, kapan Ibu menjemput kita?” Saya merasa bersalah terus memberinya harapan palsu. Malam itu juga saya putuskan membawanya kabur bersama dari rumah. Saya tidak ingin Eno merasakan neraka di tempat ini lagi. Tanpa tahu arah tujuan, saya terus berjalan sepanjang malam. Tiba-tiba, kilatan putih melintas membutakan mata saya. “Pertemukan kami dengan Ibu ya Allah!” Sebuah suara pelan yang seolah bergema di dalam kepala saya ternyata adalah Eno. Dia berkata telah melihat bintang jatuh yang bisa mengabulkan keinginan. Eno pasti akan sangat sedih jika tahu Ibu tidak pernah berjanji untuk kembali. Tak lama setelah itu, Eno mengeluh ingin istirahat. Untung saja di seberang jalan ada gubuk tua. Gubuk itu usang dan lapuk. Saya sedikit takut, namun itu lebih baik daripada berbaring di tanah. Sehingga pagi lekas menghapus malam, saya tetap terjaga membiarkan Eno tertidur nyenyak di pangkuan saya. Percikan tetesan air hujan mengenai saya. Rasanya hanya sekejap saya berkedip. Saat kembali membuka mata ternyata hari sudah menjelang malam. Saya terkaget, Eno menghilang dari pangkuan saya. Saya cari-cari di sekitaran gubuk, namun tak kunjung menemukannya. Pikiran saya diselimuti kepanikan. Saya khawatir Eno mungkin saja sedang meringkuk kedinginan di suatu tempat. Saya menyusuri jalan di sekitaran gubuk, memanggil-manggil nama Eno, tapi tak ada sahutan darinya. Hujan masih berlangsung tak berhenti dan hari telah gelap. Saya kembali ke gubuk tua itu dengan harapan Eno mungkin ada di sana. Benar saja, saya mendapatinya menangis sejadi-jadinya di gubuk. Saya memeluknya untuk menenangkannya. “Sudah, jangan menagis Kakak ada di sini.” Eno tetap menundukkan kepala tak menghiraukan saya. Malah Anehnya, saya didorong keluar gubuk oleh Eno. “Kakak jangan kemari lagi!!” katanya menundukkan wajah membuat saya bingung. Belum juga saya mengerti akan sikapnya, sekeliling menjadi buram di penglihatan saya. Dengan seketika saya berada di sebuah kamar yang di kelilingi horden putih, beraroma tajam seperti herbal. Pikiran saya menjadi kosong mendapati posisi tubuh saya sedang terbaring di atas kasur. Di tangan saya ada sebuah selang kecil menempel. Rasa kebas dari jemari saya ternyata berasal dari genggaman seorang wanita. Wajahnya terlihat tidak asing, suaranya begitu akrab. “Maaf... maafkan Ibu, Nak,” ucapnya. Saya linglung, berusaha bangkit, tapi seorang pria berjas putih mencegah. “Adik harus istirahat dulu.” Ketika menoleh ke sebelah, pandangan saya tidak kuasa berpaling. Ada Eno tertidur di kasur yang lain. Wajah pucatnya seputih kelopak melati, tak lagi hangat seperti senyum di wajah kecilnya.
