Bukan Cuma Kopi dan Kabut, Mengapa Lele Bisa Jadi 'Emas Hitam' Baru di Mamasa

Mahasiswa yang aktif mengamati isu-isu ekonomi lokal dan perubahan sosial di Sulawesi Barat
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Thihar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalau bicara soal Mamasa, yang terlintas di kepala kita pasti klise: dingin, berkabut, Tedong-tedong, dan tentu saja, kopi. Wajar saja, "Bumi Kondosapata" ini memang surganya arabika. Tapi, jujur saja, apakah kita mau selamanya menggantungkan nasib ekonomi daerah ini hanya pada biji kopi dan pariwisata yang sifatnya musiman? Saya rasa kita perlu membuka mata lebih lebar. Ada satu potensi "receh" yang sering dipandang sebelah mata, padahal cuannya bisa bikin mata terbelalak. Ikan lele. Ya, Anda tidak salah baca. Lele. Mungkin dahi Anda berkerut sekarang. "Lele? Di Mamasa yang dinginnya menusuk tulang? Apa bisa hidup?" Skeptisisme itu wajar. Selama ini, doktrin yang tertanam di kepala kita adalah ikan lele itu ikan air hangat, ikannya orang dataran rendah seperti Polewali atau Makassar. Membawa lele ke pegunungan Mamasa terdengar seperti ide gila yang melawan kodrat alam. Tapi justru di situlah letak kesalahan berpikir kita—dan sekaligus peluang besarnya. Melawan Mitos "Dingin" Saya pernah ngobrol dengan beberapa peternak milenial yang nekat mencoba sistem bioflok di dataran tinggi. Ternyata, teknologi perikanan sekarang sudah jauh melompat. Lele bukan lagi ikan manja. Dengan rekayasa kolam terpal dan manajemen air yang benar, suhu dingin Mamasa bukan lagi vonis mati buat si kumis ini. Justru, Mamasa punya aset yang tidak dimiliki daerah bawah: Kualitas air. Coba bandingkan air sungai di Mamasa dengan air di daerah hilir yang sudah tercemar limbah industri atau rumah tangga. Air kita di sini melimpah, jernih, dan oksigennya bagus. Ini modal gratis dari Tuhan yang sering kita sia-siakan. Ikan yang hidup di air bersih punya rasa daging yang beda. Lebih gurih, tidak bau tanah, dan teksturnya lebih padat. Bayangkan branding-nya: "Lele Organik Pegunungan Mamasa". Ini bukan sekadar lele pinggir jalan biasa; ini lele premium. Pasar yang Menjerit Coba kita lihat dari sisi perut. Pariwisata Mamasa sedang menggeliat. Orang datang mau lihat negeri di atas awan. Setelah kedinginan, mereka cari makan. Apa yang tersedia? Seringkali pilihannya terbatas. Warung pecel lele di Mamasa seringkali harus mendatangkan pasokan ikannya dari bawah (Polewali atau Pinrang). Biaya transportasi naik, risiko ikan mati di jalan tinggi, dan sampai di piring konsumen harganya jadi mahal atau kualitasnya menurun. Kenapa kita harus "impor" lele kalau kita bisa memanennya di pekarangan sendiri? Pasar lokal saja—rumah makan, warung tenda, katering hajatan—sudah merupakan mulut yang menganga lebar menunggu pasokan. Itu belum bicara soal menyuplai kebutuhan protein hewani untuk mencegah stunting yang angkanya masih jadi PR di Sulawesi Barat. Makan ikan itu sehat, tapi kalau ikannya mahal karena ongkos kirim, siapa yang mau beli rutin? Budidaya lokal adalah kunci menekan harga sekaligus menaikkan daya beli. Mentalitas "Gengsi" Anak Muda Masalah terbesarnya, menurut pengamatan saya, bukan di modal atau cuaca, tapi di gengsi. Banyak anak muda Mamasa yang merasa kalau tidak jadi PNS atau kerja kantoran, berarti belum sukses. Bertani atau beternak dianggap kotor, bau, dan tidak elit. Padahal, kalau mau jujur, menjadi bos lele dengan omzet puluhan juta per bulan jauh lebih mentereng daripada memakai seragam rapi tapi pusing memikirkan cicilan di akhir bulan. Budidaya lele itu cepat. Siklusnya pendek. Dalam 2,5 sampai 3 bulan sudah bisa panen. Perputaran uangnya cepat (cashflow lancar), beda dengan kopi yang harus menunggu musim panen tahunan. Ini cocok untuk anak muda yang tidak sabaran. Sebuah Harapan Saya tidak bilang kita harus membabat kebun kopi dan menggantinya dengan kolam lele. Tidak. Kopi adalah identitas kita. Tapi diversifikasi ekonomi itu wajib hukumnya. Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang. Pemerintah Daerah Mamasa mungkin bisa mulai melirik ini lebih serius. Jangan cuma kasih bantuan benih lalu ditinggal. Berikan pendampingan teknologi, ajarkan cara bikin pakan mandiri (karena pakan pabrikan itu mahal, dan Mamasa punya banyak bahan organik sisa pertanian yang bisa diolah), dan buka akses pasarnya. Pada akhirnya, ekonomi Mamasa akan kuat kalau kita bisa mandiri pangan. Lele mungkin terlihat sepele, licin, dan hitam. Tapi kalau digarap serius di tangan yang tepat, dia bisa jadi "emas hitam" baru yang menggerakkan roda ekonomi dari lorong-lorong desa di pegunungan Sulawesi Barat ini. Jadi, siapa berani kotor demi masa depan?
