Konten dari Pengguna

Cahaya yang Kita Sembah, Bayangan yang Kita Pelihara

Moh Cholid Baidaie

Moh Cholid Baidaie

Menulis untuk mencari yang hilang, bukan untuk mengajari. Alumni Pondok Nurul Jadid dan UIN Madura. Kini bekerja sebagai penulis lepas, menyusun kalimat seperti merapikan luka.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Cholid Baidaie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat oleh ai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh ai

Ada sesuatu yang berubah dalam cara kita memandang lelaki, meskipun saya tidak tahu kapan tepatnya perubahan itu mulai terasa. Dulu, tanda kebanggaan mereka terlihat pada bekas luka yang tidak malu dipamerkan, pada tangan kapalan yang menandai kerja panjang di bawah matahari. Sekarang, kebanggaan itu pindah ke wajah: kulit yang licin seperti keramik baru, mengkilap dalam sorot lampu ring light, seakan semua kesungguhan hidup bisa dibuktikan lewat pantulan cermin.

Saya tidak pernah keberatan pada orang yang ingin merawat diri. Bersih itu baik, wangi itu menyenangkan, dan rapi itu membuat dunia terasa lebih tertib. Tapi glowing? Itu sesuatu yang lain. Glowing bukan sekadar bersih; glowing adalah cara baru manusia mengukur harga diri lewat cahaya artifisial yang dipasang di depan wajahnya sendiri.

Suatu sore saya bertemu seorang teman. Wajahnya licin seperti papan iklan, tapi lehernya kusam, telinganya seakan dilarang masuk dalam ritual perawatan, dan kakinya tampak seperti halaman belakang rumah yang tak pernah dikunjungi. Saat itu saya merasa sedang menatap metafora: kita memang begitu, merawat yang terlihat, menelantarkan yang tersembunyi. Kita memoles kata-kata agar terdengar manis, tapi membiarkan niat tetap kotor. Kita mengejar cahaya di luar, berharap bisa menipu gelap di dalam.

Di titik itu saya sadar, glowing ini bukan sekadar obsesi kulit. Ia adalah cara kita bernegosiasi dengan kegelisahan. Kita percaya kalau permukaan tampak baik-baik saja, mungkin isi di dalam dada juga akan ikut membaik. Tapi bukankah bayangan justru lahir dari cahaya? Semakin terang kita dibuatnya, semakin jelas juga gelap yang kita bawa.

Mungkin itu sebabnya cahaya selalu memikat manusia: ia memberi ilusi bahwa kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita hanya dengan mengatur pencahayaan. Namun, di balik semua kilau itu, kita jarang bertanya: siapa kita ketika lampu dimatikan? Apakah kita masih tampak utuh ketika tidak ada sorot yang memuji kita?

Saya tidak sedang mengajak siapa pun berhenti merawat diri. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa glowing itu seperti jip yang dipoles warna pink: sah-sah saja sampai ia benar-benar harus bertemu lumpur. Di saat itu, cat tidak memberi keteguhan apa-apa. Yang menyelamatkan hanyalah besi di dalamnya—bahan yang sejak awal memang dirancang untuk menanggung benturan.

Dan mungkin, di zaman yang terlalu sibuk "menyembah" cahaya kulit, keberanian terbesar justru adalah berani menjadi kusam: tetap bekerja, tetap memikul beban, tetap mengambil risiko yang membuat kita terlihat lebih gelap di luar tapi lebih terang di dalam. Sebab watak tidak dilahirkan dari cermin, dan keberanian tidak pernah datang dari warna kulit, melainkan dari keputusan-keputusan sepi yang tidak pernah butuh tepuk tangan.

Pada akhirnya, semua cahaya akan pudar. Lampu ring light akan padam, layar ponsel akan gelap, dan kulit yang dipuja-puja itu akan kehilangan kilaunya juga. Tapi ada satu cahaya yang tidak pernah mati: cahaya yang kita tanam di dalam diri, yang tumbuh pelan-pelan lewat luka, lewat kesabaran, lewat kesediaan menanggung sesuatu yang tidak bisa dilihat siapa pun. Dan barangkali, cahaya itu tidak membuat kita glowing—setidaknya bukan glowing yang bisa dipotret—tapi membuat kita lebih manusia.