Cara Hidup Mengantar Kita Pulang

Menulis untuk mencari yang hilang, bukan untuk mengajari. Alumni Pondok Nurul Jadid dan UIN Madura. Kini bekerja sebagai penulis lepas, menyusun kalimat seperti merapikan luka.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Moh Cholid Baidaie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mungkin kita tidak pernah benar-benar kehilangan kegembiraan. Mungkin ia hanya bersembunyi, menunggu kita berhenti berlari.
Kegembiraan, ternyata, bukan tamu yang suka membuat keributan. Ia pemalu. Datang pelan-pelan, duduk di sudut hati, lalu hilang tanpa pamit. Atau mungkin bukan hilang. Mungkin ia sekadar bergeser, mencari tempat lain yang lebih tenang, menunggu kita menemukannya di waktu yang berbeda.
Saya baru menyadari itu pada hari yang awalnya terasa sempurna. Semua rencana tersusun rapi seperti meja kerja yang baru saja dibereskan. Semangat saya sedang tinggi, seolah semua lampu di jalan hidup menyala hijau. Lalu, seperti kebiasaan hidup yang selalu punya cara mengejutkan kita, ada batu kecil di tengah jalan. Tidak besar. Nyaris sepele. Tapi cukup untuk membuat langkah saya tersandung.
Reaksi pertama saya, tentu saja, marah. Setelahnya kecewa. Ada rasa dikhianati, seperti hidup sengaja mempermainkan saya. Tapi malam itu, di tengah kesal yang masih mendidih, muncul satu kalimat lama: takdir tidak pernah salah alamat.
Kalimat itu sederhana, tapi terasa seperti air dingin yang dituang perlahan ke tenggorokan. Saya duduk lama, mencoba mengingat: pernahkah saya benar-benar tahu jalan terbaik untuk diri saya sendiri? Nyatanya, tidak pernah. Hampir semua hal yang dulu saya anggap kemalangan, akhirnya berubah menjadi sesuatu yang bisa saya syukuri.
Mungkin memang begitu cara hidup bekerja. Ia menaruh batu bukan untuk menjatuhkan kita, tapi untuk mengalihkan langkah ke arah yang tidak akan kita pilih sendiri. Dan tiba-tiba, di tengah renungan itu, muncul pertanyaan yang membuat saya diam lebih lama:
Bagaimana kalau sebenarnya kegembiraan itu tidak pernah pergi, tapi saya yang terlalu keras berlari hingga meninggalkannya di belakang?
Epictetus pernah berkata, kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di luar diri kita; yang bisa kita kendalikan hanyalah cara kita memandangnya. Saya bukan pengikut filsafat Stoa, tapi ide itu masuk akal. Kalau jalan memang tak bisa saya atur, barangkali cara saya berjalanlah yang perlu diubah.
Saya membayangkan hidup seperti jalan kampung yang hanya diterangi lampu seadanya. Kita cuma bisa melihat beberapa meter di depan, sisanya gelap. Kita berjalan sambil menebak-nebak, berharap tidak ada lubang yang terlalu dalam. Kadang kita menemui jalan buntu, kadang kita menemukan tikungan yang tak pernah kita rencanakan. Dan justru di tikungan itu—yang awalnya kita benci—kadang kita bertemu sesuatu yang selama ini kita butuhkan, meski sebelumnya kita tak pernah sadar bahwa kita membutuhkannya.
Orang bilang sabar itu menunggu. Tapi mungkin sabar itu bukan soal menunggu, melainkan soal bagaimana kita menunggu. Menunggu sambil menggerutu membuat waktu terasa seperti penjara. Tapi menunggu sambil percaya, meski tetap ada resah di dada, membuat jeda itu terasa seperti tanah yang diam-diam menumbuhkan akar.
Kadang, kecewa hanyalah prasangka yang datang terlalu cepat. Seperti seseorang yang melihat awan hitam dan buru-buru mengutuk hujan, padahal hujan itu sedang membawa musim tanam yang lebih baik.
Rumi pernah menulis bahwa kegembiraan dan kesedihan adalah tamu-tamu di rumah kita. Jangan mengusir siapa pun, karena masing-masing membawa pesan yang tidak bisa kita tebak. Saya suka cara ia memandang hidup itu. Ada semacam kelonggaran di sana.
Mungkin benar, kegembiraan itu pemalu. Tapi ia selalu tahu kapan harus kembali. Tugas kita mungkin hanya satu: menyiapkan ruang agar ia merasa aman untuk pulang.
Maka ketika sesuatu tiba-tiba terhenti, saya belajar untuk duduk sebentar. Menarik napas. Membiarkan dunia bergerak tanpa saya paksa. Karena mungkin ini bukan akhir. Mungkin ini hanya cara hidup mengantar kita pulang.
Dan mungkin, jalan pulang itu bukan tempat tertentu—melainkan saat kita akhirnya berdamai dengan cara hidup menuntun kita.
