Di Bawah Bendera, Kita Masih Bertanya

Menulis untuk mencari yang hilang, bukan untuk mengajari. Alumni Pondok Nurul Jadid dan UIN Madura. Kini bekerja sebagai penulis lepas, menyusun kalimat seperti merapikan luka.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Moh Cholid Baidaie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya melihat seorang bapak di ujung gang sedang memasang bendera merah putih di depan rumahnya. Tiangnya dari bambu yang sudah mulai kusam, cat putihnya belang-belang seperti kulit yang mengelupas. Dari jarak beberapa meter, kain bendera itu tampak baru, warnanya tegas sekali, seperti baru dibeli kemarin sore. Ada sesuatu yang ganjil setiap kali saya menyaksikan pemandangan ini: bendera selalu terlihat lebih gagah ketika berkibar di atas rumah-rumah yang cat temboknya mulai pudar. Seolah-olah bendera itu sedang menghibur tuannya, memberi pesan bahwa setidaknya ada satu hal di dunia ini yang tetap terlihat mulia.
Beberapa hari terakhir, video-video di media sosial terasa ikut bicara. Salah satunya berkata dengan nada getir: rekening nganggur tiga bulan, diblokir negara; tanah nganggur dua tahun, disita negara; masyarakat nganggur bertahun-tahun, tak ada yang peduli. Video lain lebih tajam: kalau di tanahmu ditemukan ganja, itu milikmu. Tapi kalau di tanahmu ditemukan gas atau minyak, itu milik negara. Kamu buka usaha, negara tak memodali. Tapi kalau usaha itu berhasil, negara ikut memotong lewat pajak. Mati lampu, kamu disuruh maklum. Tapi kalau telat bayar listrik, meteran bisa dicabut tanpa ampun.
Saya mendengar narasi-narasi itu seperti mendengar seseorang bercanda di pesta ulang tahun, lalu diam-diam sadar bahwa ia sedang menangis di dalam hati. Mungkin orang-orang yang membuat video itu tidak sedang mengajari kita cara membenci. Mereka hanya sedang menunjukkan cermin yang retak.
Sebentar lagi, 17 Agustus akan datang lagi. Spanduk dipasang, lomba balap karung dipersiapkan, lagu kemerdekaan diputar keras-keras. Semua itu menyenangkan, tapi di tengah semua perayaan itu, saya merasa seperti sedang berada di pesta ulang tahun seseorang yang tidak saya kenal. Saya ikut menyanyi, ikut bertepuk tangan, tapi di kepala saya muncul pertanyaan: kita ini sebenarnya merdeka dari apa?
Tan Malaka pernah menulis tentang Merdeka 100%. Ia bicara tentang kebebasan yang utuh—bukan sekadar bebas mengganti bendera penjajah dengan bendera sendiri, kebebasan yang memungkinkan manusia mengatur hidupnya sendiri tanpa merasa seperti tamu di tanahnya sendiri. Gagasan itu terdengar muluk, dan mungkin banyak orang menganggapnya utopia. Tapi bukankah kemerdekaan memang seharusnya terdengar muluk? Kalau kemerdekaan hanya soal bebas membeli ponsel dengan cicilan, atau bebas mengeluh di media sosial selama tidak terlalu keras, bukankah itu lebih mirip keringanan hukuman ketimbang kebebasan?
Saya tidak tahu pasti apa yang dimaksud dengan merdeka 100%. Tapi saya bisa merasakan apa yang bukan. Misalnya, ketika listrik di rumah mati dan saya menyalakan lilin sambil berharap PLN cepat memperbaiki jaringan, saya tahu bahwa saya sedang bergantung pada sesuatu yang jauh lebih besar dari diri saya. Itu tidak salah, manusia memang saling bergantung. Tapi yang membuatnya terasa aneh adalah kenyataan bahwa kalau saya yang terlambat membayar listrik, meteran bisa diputus tanpa basa-basi. Sementara kalau mereka yang mati lampu berjam-jam, saya hanya bisa disuruh maklum.
Ada malam-malam ketika saya mencoba menertawakan semua ini. Saya pikir mungkin memang begitulah hidup: selalu ada pihak yang memegang saklar, sementara kita hanya bisa berharap mereka tidak bosan menyalakan lampu. Tapi di lain waktu, saya merasa bahwa menertawakan keadaan tidak selalu cukup. Ada sesuatu di dada saya yang terasa seperti batu kecil, tak seberapa berat, tapi membuat langkah selalu sedikit pincang. Batu itu mungkin bernama “kemerdekaan yang belum selesai.”
Mungkin karena itu, setiap kali saya melihat bendera berkibar di depan rumah orang, saya selalu ingin membayangkan makna yang lebih sederhana: bahwa kemerdekaan bukan hadiah dari siapa pun, melainkan janji yang kita tagih terus-menerus. Dan janji itu bukan hanya janji negara kepada rakyatnya, tapi juga janji kita kepada diri sendiri—untuk tidak berhenti berharap meskipun kecewa berkali-kali.
Kalimat di video tadi kembali terngiang: rekening nganggur diblokir, tanah nganggur disita, masyarakat nganggur diabaikan. Di luar kelucuan getirnya, kalimat itu sebenarnya adalah doa yang disamarkan. Doa agar kita tidak terus merasa seperti penumpang gelap di tanah sendiri. Doa agar kita bisa percaya bahwa kemerdekaan bukan cuma tema dekorasi tiap Agustus.
Tentu saja, saya tidak punya resep untuk membuat semua ini lebih adil. Mungkin memang tidak ada yang punya. Tapi saya percaya, merdeka 100%—apa pun artinya—bisa dimulai dari kesadaran kecil: bahwa kita tidak perlu pura-pura nyaman. Bahwa kita boleh mengakui ada yang retak, sama seperti kita boleh mengakui bahwa bendera di depan rumah itu tetap indah meskipun tiangnya miring dan cat temboknya mengelupas.
Merdeka, pada akhirnya, mungkin bukan soal siapa yang memegang saklar listrik. Merdeka adalah kemampuan untuk terus bertanya: kita ini sebenarnya merdeka dari apa? Dan berani menunggu jawaban itu datang, meskipun entah kapan. Karena kemerdekaan yang tidak bisa dipertanyakan hanyalah penjara dengan warna cat yang lebih meriah.
