Konten dari Pengguna

Laki-Laki yang Tidak Punya Tempat untuk Menangis

Moh Cholid Baidaie

Moh Cholid Baidaie

Menulis untuk mencari yang hilang, bukan untuk mengajari. Alumni Pondok Nurul Jadid dan UIN Madura. Kini bekerja sebagai penulis lepas, menyusun kalimat seperti merapikan luka.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Cholid Baidaie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat oleh ai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat oleh ai

Hidup laki-laki memang penuh cerita, tapi sedikit yang berani menceritakannya. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak ada yang mau mendengar. Laki-laki diajari sejak kecil untuk diam. Kalau menangis, dianggap lemah. Kalau mengeluh, dianggap manja. Padahal, tubuh ini juga letih. Kadang lutut ingin dilipat, kepala ingin bersandar, dan hati ingin berkata, “Tolong, aku lelah.”

Tapi dunia punya cara sendiri memperlakukan laki-laki. Ia memberi harapan lalu menunda pengabulan. Ia menguji bukan hanya dengan kekurangan, tapi juga dengan kelebihan. Saat belum punya apa-apa, laki-laki diuji oleh kelaparan, utang, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang menyayat harga diri: “Kapan kerja?”, “Sudah bisa beli apa?”, “Bisa beliin susu anak?”

Dan saat akhirnya punya apa-apa, ujian datang dengan wajah berbeda. Senyuman manis yang tak diminta. Pujian manja yang menggoda. Tiba-tiba saja, tangan yang dulu menggenggam satu tangan, mulai belajar menggenggam dua, bahkan lebih. Dada mulai lapang menerima pujian, tapi juga makin sempit untuk merasa cukup.

Ironisnya, saat miskin mungkin ditinggalkan, tapi saat kaya bisa jadi malah meninggalkan.

Tak ada pelajaran yang lebih pahit daripada melihat diri sendiri berubah tanpa sadar. Laki-laki yang dulu berjanji pada dirinya sendiri untuk setia, tiba-tiba lupa jalan pulang. Bukan karena cinta hilang, tapi karena kemenangan kecil di luar rumah terasa lebih menyenangkan. Seolah dunia berbisik, “Kau hebat, kau layak dicintai lebih dari satu.”

Tapi siapa yang salah? Dunia? Wanita? Atau laki-laki itu sendiri yang tak mampu menahan godaan?

Seseorang pernah bilang, "Laki-laki itu berdiri di antara dua kata tinggal. Saat miskin, mungkin ia ditinggalkan. Tapi saat kaya, mungkin ia yang meninggalkan." Kalimat itu tak terdengar seperti nasihat, lebih seperti kenyataan yang sudah terbukti berulang kali.

Banyak kisah yang diam-diam terjadi di sudut-sudut rumah tangga. Laki-laki yang pulang larut malam, bukan karena lembur, tapi karena mencari rasa dihargai di tempat lain. Laki-laki yang tak lagi memeluk anak-anaknya, karena tangan dan pikirannya sudah dipakai untuk urusan lain. Padahal, dulu waktu tak punya apa-apa, suara tawa anak dan pelukan istri adalah satu-satunya harta yang membuat hidup bisa dilanjutkan.

Hidup sebagai laki-laki seperti berdiri di atas tali. Keseimbangan dibutuhkan bukan hanya untuk bertahan, tapi juga untuk tidak jatuh terlalu jauh. Sayangnya, tak semua diberi pelatih untuk menjaga langkah. Banyak yang belajar dari luka. Belajar dari kehilangan.

Dan betapa jarangnya laki-laki yang menangis. Bukan karena tak punya alasan, tapi karena air matanya sudah ditelan tanggung jawab. Di saat lapar harus menahan. Di saat kalah harus diam. Dan ketika lelah tak ada ruang untuk rebah. Dunia seakan berkata, “Kau harus kuat, kau laki-laki.”

Tapi siapa yang mau jadi kuat setiap hari?

Laki-laki punya anak yang minta uang jajan, istri yang butuh uang belanja, orang tua yang berharap diberi. Dunia menuntut semuanya berjalan. Tak ada jeda. Tak ada “sebentar ya.” Dunia tidak pernah menunggu laki-laki untuk sukses. Waktu terus bergerak, dan laki-laki harus mengejarnya, meski napas tersengal dan langkah terseok.

Dalam kelelahan itu, beberapa orang mulai berbohong. Bukan kepada orang lain, tapi kepada dirinya sendiri. Mengaku baik-baik saja, padahal sedang patah. Mengaku kuat, padahal tiap malam berdoa agar diberi kekuatan sedikit lagi. Beberapa memilih tenggelam dalam kerja, beberapa lain memilih menyendiri dan menjadi asing di rumahnya sendiri.

Tak semua laki-laki curang. Tapi banyak yang bingung.

Mungkin karena tak tahu harus bicara kepada siapa. Mungkin karena takut jika membuka luka, tak ada yang menutupnya. Maka diam menjadi jalan paling masuk akal. Seolah semua baik-baik saja, padahal dalam dirinya ada yang remuk.

Tentu saja, ini bukan pembelaan. Kesalahan tetaplah kesalahan. Meninggalkan tetap tak bisa dibenarkan. Tapi sebelum menghakimi, mari melihat dengan mata yang lain. Bisa jadi, laki-laki itu bukan jahat, hanya tak tahu cara menyembuhkan dirinya.

Pernah ada laki-laki yang dulu tinggal di kamar sempit bersama anak-istrinya. Makan seadanya, tidur berdesakan. Tapi setiap pagi mereka saling tersenyum. Sekarang, laki-laki itu sudah tinggal di rumah dua lantai, mobil terparkir di garasi, lemari penuh pakaian bagus. Tapi senyuman itu hilang. Anaknya sudah jarang menyapa, istrinya lebih banyak diam, dan dirinya sendiri merasa asing di rumah yang ia bangun.

Kesuksesan ternyata bukan hanya tentang materi. Tapi tentang apakah ketika sukses, masih bisa pulang sebagai diri yang sama.

Menjadi laki-laki berarti belajar menolak banyak hal. Menolak godaan, menolak kesenangan sesaat, menolak menjadi besar kepala ketika dunia memuji. Tapi juga berarti harus belajar menerima—menerima ketidakpastian, menerima kelemahan diri, menerima kenyataan bahwa tidak semua bisa dikendalikan.

Sebab tak semua luka harus diobati dengan kabur. Tak semua kegagalan harus disembunyikan dengan senyuman palsu.

Ada satu hal yang selalu terlupakan: laki-laki juga manusia. Mereka butuh dipeluk. Butuh didengar. Butuh diyakini bahwa meskipun tidak selalu kuat, mereka tetap pantas dicintai.

Maka, jika suatu hari bertemu laki-laki yang tampak terlalu pendiam, terlalu keras pada diri sendiri, atau terlalu berusaha menjadi kuat, mungkin bukan karena ia benar-benar baik-baik saja. Bisa jadi, ia sedang belajar bertahan.

Dan jika kau seorang laki-laki yang sedang berada di titik terendah atau tertinggi sekalipun, semoga tetap ingat pada satu hal yang paling penting: jangan berhenti jadi manusia.

Karena menjadi laki-laki tidak berarti harus kuat setiap saat. Tapi menjadi manusia berarti tahu kapan harus meminta maaf, kapan harus pulang, dan kapan harus berhenti sebelum terlalu jauh.

Hidup ini memang tidak mudah, tapi siapa bilang kita harus menghadapinya sendirian?