Yang Belajar, Tapi Tak Lulus dari Kemiskinan
Tulisan dari Moh Cholid Baidaie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ijazah itu masih tersimpan rapi di lemari kayu yang baunya tak pernah hilang—bau lemari yang diserahkan turun-temurun, berisi pakaian lama, map lusuh, dan harapan yang pernah besar. Di atasnya, debu mulai menetap seperti sesuatu yang tak ingin diusik. Kadang tangan ingin meraihnya, membukanya kembali, membaca nama sendiri yang tercetak tebal di sana, tapi sering kali tak jadi. Bukan karena lupa, melainkan karena mengingatnya justru menambah beban.
Tak ada yang mengira bahwa menempuh pendidikan tinggi bisa menjadi luka kecil yang terus-menerus terbuka. Dulu, orang-orang bilang, “sekolah yang tinggi biar hidupmu tak seperti kami”. Kalimat itu ditanamkan seperti doa, diulang-ulang di depan pintu. Sekolah dianggap tangga. Tapi tak semua tangga mengarah ke tempat yang terang.
Di warung kopi, suara-suara sumbang mulai tumbuh seiring usia. “Kalau akhirnya cuma kerja serabutan, buat apa capek kuliah?” Kalimat itu tak dilempar langsung ke wajah, tapi tetap terasa seperti tamparan. Bukan karena salah, melainkan karena terlalu dekat dengan kenyataan. Dunia kerja yang sempit, ekonomi yang pincang, dan kesempatan yang hanya hadir bagi yang sudah dikenal—semuanya seperti pintu yang menolak dibuka, berapa kali pun dicoba.
Tan Malaka menulis, “jika kaum terpelajar telah terpisah dari masyarakat, lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Mungkin yang dimaksud bukan keterpisahan fisik, tapi keterasingan batin. Ketika yang dipelajari tidak lagi bertaut dengan kehidupan sehari-hari, ketika gelar hanya menjadi beban di pundak mereka yang tak sempat naik ke panggung dunia.
Ada masa-masa ketika membaca buku terasa seperti pelarian yang wajar. Bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk tetap waras. Sebab hidup yang dijanjikan oleh pendidikan itu tak kunjung tiba. Yang datang justru pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab dengan ijazah.
Bagaimana membeli susu dan popok anak? Bagaimana menjelaskan pada orang tua bahwa gelar itu tidak serta-merta menjamin apa-apa? Bagaimana menerima kenyataan bahwa yang mendapat pekerjaan justru mereka yang dulu tak pernah masuk kelas?
Namun hidup tidak bisa disalahkan. Dunia juga tidak pernah berjanji akan adil. Pendidikan hanya menawarkan kemungkinan, bukan kepastian. Tapi betapa getirnya ketika satu-satunya kemungkinan yang diyakini sejak kecil, ternyata begitu rapuh di hadapan realitas.
Yang paling menyakitkan mungkin bukan soal pekerjaan. Bukan juga soal upah yang tak sebanding. Tapi soal diam yang harus dipelajari ketika orang-orang mulai bertanya, “sudah kerja di mana?” atau “dulu kuliah ambil jurusan apa, kok nggak nyambung ya dengan pekerjaanmu sekarang?”
Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tapi menyisakan perih yang tidak bisa diredakan dengan jawaban singkat. Sebab bukan hanya hidup yang tak sesuai rencana, tetapi juga karena harapan yang dulu begitu tinggi, kini harus dipangkas perlahan agar tidak menyakitkan bila jatuh.
Tentu, pendidikan bukan sesuatu yang bisa disesali. Ia tetap penting. Ia tetap memberi ruang berpikir, memperluas pandangan, dan menanamkan kebiasaan untuk mempertanyakan segalanya, termasuk mengapa hidup tidak seadil yang dibayangkan. Tapi kadang, pendidikan juga menjadi cermin yang terlalu jujur—ia memperlihatkan ketimpangan tanpa menawarkan jalan keluar yang jelas.
Sementara itu, mereka yang dulu tak sekolah tinggi hidup dengan logika yang lebih terang. Mereka bekerja sejak pagi, tidur ketika lelah, dan tak banyak bertanya. Tidak selalu lebih bahagia, tapi setidaknya tak menyimpan kekecewaan pada janji yang gagal ditepati.
Kenyataan ini membuat diam menjadi kebiasaan baru. Bukan karena kalah, tapi karena letih menjelaskan bahwa belajar tidak selalu menjamin apa-apa. Bahwa sebagian orang tidak lulus dari kemiskinan, bukan karena kurang usaha, tapi karena sistem yang menutup pintu bagi siapa pun yang datang tanpa pengenal.
Ada semacam kehampaan yang muncul perlahan. Seperti seseorang yang sudah berjalan jauh, lalu menyadari bahwa jalan yang ditempuh ternyata hanya memutar di tempat yang sama. Tapi di sisi lain, ada juga kesadaran kecil yang tumbuh seperti akar: bahwa belajar tetap penting. Bahwa meski tidak mengangkat tubuh dari jurang kemiskinan, ia bisa menjaga kepala untuk tidak tertunduk sepenuhnya.
Barangkali itu gunanya ilmu: bukan untuk naik pangkat, bukan untuk mendapat pekerjaan tetap, tetapi untuk bertahan di tengah gelombang yang tak tentu arah. Untuk tetap bisa membaca, berpikir, dan berdiri tegak saat dunia meremehkan. Untuk tidak membalas sinis, dan cukup diam dengan pengertian.
Ki Hadjar Dewantara, yang gagasannya nyaris selalu disebut tapi jarang dipahami, mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun kodrat anak agar bisa hidup sebagai manusia dan anggota masyarakat. Artinya, pendidikan bukan untuk memisahkan, tapi untuk melebur. Bukan untuk naik kasta, tapi untuk tahu bahwa tak ada kasta dalam kemanusiaan.
Maka, jika seseorang lulus kuliah dan memilih kembali ke ladang atau buruh serabutan, itu bukan kemunduran. Barangkali justru di sanalah pendidikan menemukan bentuk paling jujur: ketika orang-orang terdidik kembali ke tempat di mana mereka dibutuhkan, bukan di mana mereka dihargai secara nominal.
Mereka yang mempertanyakan sarjana yang bekerja sebagai petani atau buruh serabutan mungkin belum pernah tahu betapa beratnya mempertahankan harga diri saat dunia terus-menerus menyamaratakan nilai manusia dengan slip gaji. Mereka belum tentu sanggup berdiri di panas terik selama berjam-jam sambil memikirkan cara membayar kontrakan bulan depan, sambil tetap bersyukur bahwa anaknya tidak putus sekolah.
Apakah itu kegagalan pendidikan?
Atau justru keberhasilannya?
Karena pendidikan tidak menjanjikan kenyamanan. Pendidikan menjanjikan kesanggupan untuk tidak hancur meski kenyataan tak ramah. Pendidikan menjanjikan kepala yang bisa tetap tegak meski badan lelah tak karuan. Pendidikan menjanjikan kemampuan untuk berpikir melampaui keterbatasan, bukan melarikan diri darinya.
Tentu, kita tidak sedang meromantisasi penderitaan. Tak ada yang indah dari kemiskinan. Tapi bukan berarti orang miskin tidak berhak atas kehormatan, apalagi jika ia sampai di titik itu bukan karena malas, melainkan karena dunia memang belum berpihak.
Tidak semua orang yang belajar akan lulus dari kemiskinan. Tapi yang tidak belajar, sering kali bahkan tak tahu bahwa kemiskinan itu bisa dijelaskan. Dan kalau beruntung, suatu hari, bisa diubah.

