Ketika “Aku Gapapa” Menjadi Bentuk Penghindaran Emosi

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Holy Via tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar sedang baik-baik saja.
“Aku gapapa kok.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana dan sangat biasa. Hampir semua orang pernah mengucapkannya. Namun, pernahkah kita sadar bahwa tidak semua orang yang mengatakan “aku gapapa” benar-benar sedang baik-baik saja?
Di kehidupan sehari-hari, banyak orang memilih menyembunyikan perasaannya sendiri. Saat merasa sedih, kecewa, lelah, atau tertekan, sebagian orang justru lebih nyaman mengatakan “aku gapapa” dibanding menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Tidak jarang, seseorang tetap terlihat ceria di depan orang lain meskipun sebenarnya sedang berjuang sendirian dengan emosinya.
Fenomena ini semakin sering ditemukan pada remaja dan dewasa awal. Tuntutan untuk terlihat kuat, tidak ingin dianggap lemah, serta takut merepotkan orang lain membuat banyak individu akhirnya terbiasa memendam perasaannya sendiri. Akibatnya, kalimat “aku gapapa” perlahan berubah menjadi bentuk penghindaran emosi atau emotional avoidance.
Apa itu emotional avoidance?
Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai emotional avoidance atau penghindaran emosi, yaitu kecenderungan seseorang untuk menghindari, menekan, atau memendam emosi yang dirasa tidak nyaman. Emosi seperti sedih, kecewa, marah, malu, atau cemas sering kali dianggap sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Padahal, emosi yang dipendam tidak benar-benar hilang.
“Emosi yang dipendam tidak hilang, melainkan hanya disembunyikan.”
Banyak orang akhirnya memilih berbagai cara untuk mengalihkan emosinya, seperti terus bermain media sosial, tidur berlebihan, menyibukkan diri, atau berpura-pura baik-baik saja di depan orang lain. Cara tersebut memang dapat memberikan rasa aman sementara, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan apa yang dirasakan.
Kenapa banyak orang memilih memendam emosi?
Ada banyak alasan mengapa seseorang lebih memilih mengatakan “aku gapapa”. Sebagian orang takut dianggap lemah ketika menunjukkan kesedihan. Ada juga yang merasa bahwa masalahnya tidak penting untuk diceritakan. Selain itu, pengalaman masa lalu seperti diremehkan ketika bercerita dapat membuat seseorang semakin sulit terbuka mengenai perasaannya.
Di era media sosial seperti sekarang, tekanan untuk selalu terlihat bahagia juga semakin besar. Banyak orang merasa harus terlihat produktif, kuat, dan ceria setiap saat. Akibatnya, emosi negatif sering kali disembunyikan karena dianggap sebagai tanda kelemahan.
Tidak sedikit orang yang akhirnya lebih pandai menyembunyikan emosi dibanding memahami emosinya sendiri.
Apa dampaknya jika emosi terus dipendam?
Meskipun terlihat sepele, kebiasaan memendam emosi dapat berdampak pada kesehatan mental. Penelitian oleh Maria Anthonia Rehing dkk. (2024) menunjukkan bahwa regulasi emosi pada mahasiswa cenderung berada pada kategori rendah, sehingga individu menjadi lebih sulit mengelola emosinya dengan baik.
Selain itu, penelitian oleh Riska Handayani dkk. (2022) menemukan bahwa regulasi emosi berpengaruh terhadap stres akademik pada mahasiswa. Individu yang kesulitan mengelola emosinya cenderung lebih mudah mengalami tekanan psikologis dan stres.
Hal ini menunjukkan bahwa memendam emosi secara terus-menerus dapat memicu overthinking, kecemasan, kelelahan emosional, hingga perasaan kesepian meskipun berada di sekitar banyak orang.
“Tidak semua orang yang terlihat ceria benar-benar sedang bahagia.”
Penutup
Kalimat “aku gapapa” memang terdengar sederhana. Namun, di balik kalimat tersebut, bisa saja ada seseorang yang sebenarnya sedang lelah dan hanya ingin dipahami.
Memendam emosi mungkin terasa lebih aman, tetapi bukan berarti menjadi solusi yang sehat dalam jangka panjang. Mengenali, menerima, dan mengungkapkan emosi bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan kesehatan mental.
Karena pada akhirnya, menjadi kuat bukan berarti harus selalu terlihat baik-baik saja.
Oleh Holy Via dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
