Konten dari Pengguna

Pentingnya Pendidikan Toleransi dan Kesetaraan Sejak Dini

Holy Wahyuni
Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMSurabaya
28 Februari 2025 17:27 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Holy Wahyuni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber gambar: dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: dokumen pribadi
ADVERTISEMENT
Baru-baru ini, sosial media dihebohkan oleh sebuah video yang menampilkan seorang selebgram cilik menegur perempuan dewasa yang tidak mengenakan jilbab di depan umum. Aksi ini menuai beragam reaksi dari masyarakat. Tentunya ada yang mendukung tindakan sang anak sebagai bentuk kepedulian terhadap nilai-nilai agama. Namun tak sedikit pula yang mengkritik perilaku tersebut karena dianggap kurang menghargai privasi dan pilihan individu. Fenomena ini membuka diskusi lebih luas tentang peran parenting, pendidikan kesetaraan, serta pentingnya menanamkan sikap inklusif dan toleransi pada anak sejak dini.
ADVERTISEMENT
Peran Parenting dalam Pembentukan Sikap Anak
Orang tua memegang peran sentral dalam membentuk karakter dan sikap anak. Apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh orang tua akan menjadi landasan bagi anak dalam berperilaku. Ketika seorang anak berani menegur orang lain terkait pilihan pribadi, seperti penggunaan jilbab, hal ini mencerminkan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga. Meskipun niatnya mungkin baik, namun tindakan tersebut seharusnya dapat diajarkan dengan pendekatan dan cara yang lebih mencerminkan tentang batasan privasi dan penghargaan terhadap pilihan individu.
Penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak tentang nilai-nilai agama dan moral, namun harus diimbangi dengan pemahaman bahwa setiap individu memiliki hak atas pilihannya sendiri. Mengajarkan anak untuk menghormati perbedaan dan tidak memaksakan pandangan pribadi kepada orang lain adalah kunci dalam membentuk masyarakat yang harmonis dan inklusif.
ADVERTISEMENT
Pendidikan Kesetaraan dan Penghargaan terhadap Keberagaman
Pendidikan kesetaraan tidak hanya berbicara tentang persamaan gender, tetapi juga mencakup penghargaan terhadap berbagai perbedaan, termasuk pilihan berpakaian, keyakinan, dan budaya. Sekolah dan lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan toleransi.
Kurikulum yang mengajarkan tentang keberagaman, hak asasi manusia, dan pentingnya menghargai pilihan individu dapat membantu anak memahami bahwa dunia ini terdiri dari berbagai macam orang dengan latar belakang dan keyakinan yang berbeda. Dengan pemahaman ini, diharapkan anak-anak dapat tumbuh menjadi individu yang menghargai perbedaan dan tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan penampilan atau pilihan pribadi.
Pentingnya Pendidikan Toleransi Sejak Dini
Menanamkan sikap toleransi pada anak sejak dini memiliki dampak jangka panjang yang signifikan. Anak-anak yang diajarkan untuk menghargai perbedaan cenderung memiliki empati yang lebih tinggi dan mampu berinteraksi dengan berbagai kelompok tanpa prasangka. Sebaliknya, kurangnya pendidikan toleransi dapat membuat anak tumbuh dengan sikap eksklusif dan cenderung menghakimi, yang pada akhirnya bisa memicu perilaku bullying.
ADVERTISEMENT
Menurut sebuah penelitian, pendidikan nilai-nilai empati dan toleransi dapat menjadi langkah preventif yang efektif untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan bebas dari bullying. Melalui pembelajaran yang menekankan pada penguatan karakter ini, diharapkan para siswa tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk berperilaku dengan penuh pengertian dan menghargai perbedaan.
Mencegah Perilaku Bullying melalui Pendidikan Inklusif
Bullying seringkali berakar dari ketidakmampuan individu untuk menerima perbedaan. Anak-anak yang terbiasa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang negatif cenderung mengekspresikan ketidaknyamanan mereka melalui perilaku agresif. Oleh karena itu, pendidikan inklusif yang menekankan pada penerimaan dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi kunci dalam mencegah bullying.
Sekolah dan orang tua dapat memainkan peran strategis dalam hal ini dengan menciptakan budaya yang inklusif dan penuh pengertian. Misalnya, melalui program-program yang mengajarkan tentang empati, kerjasama, dan resolusi konflik secara damai. Dengan demikian, siswa diajarkan untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman. Di rumah, orang tua juga dapat menyelipkan nasihat dan pemberian contoh bagaimana etika dalam mengingatkan seseorang.
ADVERTISEMENT
Menghargai Keputusan dan Privasi Orang Lain
Setiap individu memiliki hak atas tubuh dan pilihannya sendiri. Dalam konteks budaya, keyakinan, atau termasuk cara berpakaian, merupakan keputusan pribadi yang seharusnya dihormati oleh orang lain. Menegur atau mengomentari pilihan seseorang terkait hal ini, apalagi di depan umum, dapat dianggap sebagai pelanggaran privasi dan bentuk ketidakhormatan terhadap hak individu.
Orang tua dan pendidik perlu menekankan kepada anak-anak bahwa meskipun mereka memiliki keyakinan atau pandangan tertentu, tidak berarti mereka berhak memaksakan atau menghakimi orang lain yang memiliki pandangan berbeda. Mengajarkan anak untuk fokus pada pengembangan diri dan menghormati pilihan orang lain akan membantu membentuk masyarakat yang lebih damai dan saling menghargai.