Konten dari Pengguna

Hoodia Gordonii Farmasi Raksasa Dunia Berebut Paten Tanaman untuk Obat Obesitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sifa Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hoodia gordonii farmasi kaktus Afrika Kalahari penekan nafsu makan P57.Photo by GPT AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hoodia gordonii farmasi kaktus Afrika Kalahari penekan nafsu makan P57.Photo by GPT AI

Ada tanaman kaktus berduri dari Gurun Kalahari Afrika yang pernah membuat perusahaan farmasi terbesar dunia saling berebut haknya. Bukan karena indah, bukan karena langka, tapi karena suku asli Afrika sudah memakainya selama ribuan tahun untuk menahan lapar dan haus saat berburu di padang pasir yang ganas. Ketika dunia barat akhirnya menyadari potensinya sebagai senjata melawan obesitas, drama besar pun dimulai. Inilah kisah hoodia gordonii farmasi yang jarang diceritakan secara lengkap.

Hoodia Gordonii Farmasi dan Suku yang Hampir Kehilangan Segalanya

Suku Khoisan atau San Bushmen dari Afrika Selatan telah menggunakan batang hoodia gordonii selama ribuan tahun untuk menekan nafsu makan dan rasa haus dalam perjalanan berburu panjang di gurun yang keras. Bagi mereka, tanaman ini bukan komoditas. Ia adalah pengetahuan hidup yang diwariskan turun-temurun.

Masalah dimulai ketika pada 1977, senyawa aktif dalam hoodia yang bertanggung jawab atas efek penekan nafsu makan berhasil diisolasi oleh South African Council for Scientific and Industrial Research dan diberi nama P57. Senyawa itu kemudian dipatenkan pada 1995, tanpa sepengetahuan atau persetujuan suku San yang sudah menggunakan tanaman itu selama berabad-abad.Ini adalah salah satu kasus biopiracy paling terdokumentasi dalam sejarah industri farmasi modern.

Perebutan Paten yang Melibatkan Perusahaan Multinasional

Begitu P57 dipatenkan, dunia farmasi bergerak cepat. Pada era 1990-an dan 2000-an, berbagai perusahaan internasional mulai mengembangkan produk berbasis hoodia gordonii dan P57 sebagai obat melawan obesitas.

Unilever, salah satu perusahaan konsumer terbesar dunia, pernah membeli lisensi untuk mengembangkan hoodia menjadi produk penekan nafsu makan. Phytopharm, perusahaan riset tanaman Inggris, terlibat dalam pengembangan awalnya. Pfizer, raksasa farmasi Amerika, juga pernah mengambil lisensi serupa.

Semua ini terjadi sementara suku San yang menjadi sumber pengetahuan aslinya tidak mendapat satu sen pun kompensasi. Baru setelah tekanan internasional dan negosiasi panjang, South African Council for Scientific and Industrial Research akhirnya menandatangani perjanjian berbagi manfaat dengan suku San pada 2003, memberikan mereka hak atas sebagian royalti dari komersialisasi hoodia.

Bagaimana P57 Bekerja di Otak

Dari sisi ilmiah, mekanisme kerja P57 terbilang unik dan menarik.

P57 adalah oxypregnane steroidal glycoside yang meningkatkan jumlah adenosine triphosphate atau ATP dalam tubuh. Ini berbeda dari cara kerja obat penekan nafsu makan konvensional yang umumnya bekerja pada neurotransmiter seperti serotonin atau dopamin.

Dari hasil penelitian, para ilmuwan menyimpulkan bahwa P57 kemungkinan bekerja di sistem saraf pusat, khususnya memengaruhi neuron hipotalamus area otak yang terlibat dalam pengendalian rasa lapar, nafsu makan, dan suhu tubuh.

Efek penekan nafsu makan dari ekstrak hoodia juga sebagian diblokir ketika reseptor GPR119 dinonaktifkan, menunjukkan bahwa mekanisme kerjanya lebih kompleks dari yang awalnya dipahami dan melibatkan beberapa jalur biologis sekaligus.

Mengapa Perusahaan Farmasi Akhirnya Mundur

Kisah hoodia gordonii di industri farmasi tidak berakhir dengan produk blockbuster yang mengubah dunia. Justru sebaliknya.Unilever akhirnya menghentikan proyek hoodia mereka pada 2008 setelah serangkaian kesulitan teknis. Mengekstraksi P57 dalam jumlah yang cukup untuk produksi skala besar ternyata sangat sulit dan mahal. Tanaman hoodia tumbuh sangat lambat dan membutuhkan kondisi lingkungan spesifik yang tidak mudah direplikasi.

Di Brasil, produk berbasis hoodia gordonii bahkan dilarang oleh badan pengawas nasional ANVISA pada Februari 2007 karena tidak adanya bukti ilmiah tentang efektivitas dan keamanannya.

Kasus yang lebih mengkhawatirkan muncul pada Oktober 2011. FDA memperingatkan konsumen bahwa produk bernama P57 Hoodia yang dipasarkan oleh Huikng Pharmaceutical ditemukan mengandung sibutramine, zat terkontrol yang sudah ditarik dari pasar Amerika Serikat pada Oktober 2010 karena alasan keamanan, karena dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung secara signifikan.

Produk berlabel hoodia yang ternyata mengandung obat berbahaya yang sudah dilarang. Ini adalah wajah gelap industri suplemen yang tidak diawasi dengan ketat.

Status Hoodia Hari Ini

Tren hoodia yang dimulai awal 2000-an dan sempat menjadi fenomena besar di industri penurunan berat badan kini sudah meredup. Suplemen yang mengandung hoodia kini semakin sulit ditemukan.

Selain masalah regulasi dan pemalsuan produk, ada ancaman lain yang tidak kalah serius. Akibat pemanenan berlebihan dan pertumbuhan yang lambat, hoodia kini dianggap sebagai spesies yang terancam punah. Tanaman yang hampir mengubah industri farmasi global kini justru berjuang untuk bertahan hidup di habitat aslinya.