Konten dari Pengguna

Apa itu AI Bubble? Ini Kata Para Ahli dan Dampaknya bagi Ekonomi

How To Tekno

How To Tekno

How to tekno

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari How To Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi apa itu AI Bubble. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi apa itu AI Bubble. Foto: Unsplash.

Belakangan ini dunia teknologi sedang ramai membicarakan lonjakan drastis harga saham perusahaan Artificial Intelligence (AI). Fenomena ini membuat banyak orang bertanya-tanya tentang kewajaran harga tersebut di pasar.

Para ahli menyebut situasi ini sebagai AI Bubble atau gelembung ekonomi di sektor teknologi. Lantas, apa itu AI Bubble dan bagaimana dampaknya bagi ekonomi? Simak penjelasan lengkapnya di artikel berikut ini.

Apa itu AI Bubble?

Ilustrasi apa itu AI Bubble. Foto: Unsplash.

AI Bubble adalah istilah yang merujuk pada kondisi ketika harga saham perusahaan-perusahaan AI melonjak sangat tinggi melebihi keuntungan yang dihasilkan perusahaan tersebut. Kenaikan harga saham ini didorong oleh antusiasme investor yang sangat yakin teknologi AI akan sukses besar.

Namun, keyakinan ini belum sejalan dengan kenyataan di lapangan. Melansir informasi dari laman MIT Technology Review, kekhawatiran muncul karena biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasilnya.

Sekitar 95% organisasi yang berinvestasi di Generative AI belum mendapatkan keuntungan yang sepadan. Banyak perusahaan menggelontorkan dana besar untuk membangun infrastruktur mahal, tetapi pendapatan yang dihasilkan belum mampu menutup biaya tersebut dalam waktu dekat.

Pandangan Para Ahli tentang AI Bubble

Ilustrasi apa itu AI Bubble. Foto: Unsplash.

Para ahli di industri teknologi sendiri mengakui adanya tanda-tanda ketidakwajaran dalam pasar saat ini. Dikutip dari laman MIT Technology Review, CEO OpenAI, Sam Altman, mengatakan investor saat ini sedang berada di fase euforia berlebihan. Ia menilai situasi ini memiliki kemiripan dengan era dot-com di akhir tahun 90-an, ketika banyak perusahaan internet memiliki nilai saham tinggi tanpa model bisnis yang jelas.

Selain itu, mengutip dari wawancara BBC dengan CEO Google, Sundar Pichai, terdapat unsur irasionalitas dalam investasi AI sekarang. Pichai memperingatkan bahwa jika gelembung ini pecah, dampaknya akan dirasakan oleh semua perusahaan, termasuk raksasa teknologi seperti Google.

Dampak AI Bubble

Ilustrasi apa itu AI Bubble. Foto: Unsplash.

Risiko dari gelembung ekonomi ini terlihat karena pasar saham saat ini terlalu didominasi oleh segelintir perusahaan besar saja.

Berdasarkan penjelasan di kanal Youtube Ben Felix, dari daftar 500 perusahaan terbesar di pasar saham Amerika Serikat, sepertiga kekuatan pasarnya hanya dipegang oleh tujuh perusahaan teknologi. Artinya, nasib seluruh pasar saham sangat ditentukan oleh naik-turunnya tujuh perusahaan ini.

Masalah lain adalah besarnya biaya operasional. Mengutip data dari Deutsche Bank, perusahaan OpenAI diproyeksikan akan menghabiskan dana hingga $140 miliar pada tahun 2029.

Sementara itu, menurut perhitungan konsultan Bain & Company, industri AI harus bisa menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $2 triliun mulai 2030.

Pemasukan sebesar itu wajib dicapai hanya agar perusahaan bisa balik modal setelah belanja peralatan yang sangat mahal saat ini. Jika mereka gagal menghasilkan uang sebanyak itu, harga saham mereka terancam turun drastis.

Walaupun terdengar mengkhawatirkan, fenomena ini tidak selalu berakhir buruk bagi perkembangan teknologi. Berdasarkan penjelasan Ben Felix, ketika gelembung pecah, harga saham memang turun dan banyak investor merugi. Namun, infrastruktur yang sudah terbangun akan tetap ada dan berguna bagi masyarakat.

(FHK)

Baca juga: Urgensi Etika Literasi Siswa dalam Perkembangan Artificial Intelligence