Konten dari Pengguna

Black Box Testing, Pengujian Software untuk Developer

How To Tekno

How To Tekno

How to tekno

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari How To Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengembang aplikasi. Foto: Procerator UX Design/unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengembang aplikasi. Foto: Procerator UX Design/unsplash

Black Box Testing adalah apa akan dijelaskan di artikel ini beserta penjelasan-penjelasan lainnya. Biasanya digunakan para pengembang aplikasi.

Black Box Testing bukanlah pengujian yang dilakukan untuk kotak hitam pesawat. Ini adalah salah satu metode untuk menguji perangkat lunak. Biasanya dilakukan oleh para pengembang perangkat lunak.

Mengapa perangkat lunak harus dilakukan pengujian dengan Black Box Testing? Selengkapnya akan How To Tekno bahas di artikel ini, mulai dari pengertian Black Box Testing adalah dan informasi lainnya.

Metode Black Box Testing adalah

Ilustrasi pemrograman. Foto: Lukas/Pexels

Black Box Testing adalah proses testing yang berfokus pada pengujian perangkat lunak untuk mengetahui fungsionalitas aplikasi perangkat lunak itu sendiri, dikutip dari laman Guru99.

Aplikasi diuji tanpa memiliki pengetahuan tentang detail implementasi, struktur kode internal, dan jalur internal.

Selanjutnya, Black Box Testing ini berfokus pada input serta output aplikasi tersebut, serta untuk melihat spesifikasi dari aplikasi. Disebut juga pengujian perilaku.

Black Box Testing akan mengevaluasi semua subsistem yang relevan, mulai dari UI/UX, server web, basis data, dependesi, dan sistem yang terintegrasi.

Tahapan Pengujian Black Box Testing adalah

Ilustrasi pemrograman. Foto: Danny Meneses/Pexels

Berikut ini adalah beberapa tutorial petunjuk umum yang harus diikuti untuk melakukan Black Box Testing pada sebuah aplikasi:

  1. Memeriksa spesifikasi dan persyaratan sistem.

  2. Memasukkan input yang valid dan apakah proses yang terjadi sudah sesuai. Selain itu juga menguji input yang tidak valid.

  3. Melihat output apakah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.

  4. Membuat kasus uji dengan input yang dipilih.

  5. Kasus uji dijalankan.

  6. Membandingkan output yang dihasilkan.

  7. Mencatat dan memperbaiki.

Jenis-jenis Black Box Testing

Sebenarnya ada banyak jenis Black Box Testing, namun di bawah ini hanya akan dibahas yang paling umum saja.

  • Pengujian fungsional: jenis Black Box Testing ini terkait dengan persyaratan fungsional suatu sistem, itu dilakukan oleh penguji perangkat lunak.

  • Pengujian non-fungsional : jenis pengujian kotak hitam ini tidak terkait dengan pengujian fungsionalitas tertentu, tetapi persyaratan non-fungsional seperti kinerja, skalabilitas, kegunaan.

  • Pengujian regresi : pengujian regresi dilakukan setelah perbaikan kode, peningkatan atau pemeliharaan sistem lainnya untuk memeriksa kode baru tidak mempengaruhi kode yang ada.

Strategi Uji Black Box Testing

Berikut ini adalah strategi uji yang sering digunakan di antara banyak yang teknik Black Box Testing.

  • Pengujian Kelas Ekuivalensi: digunakan untuk meminimalkan jumlah kasus uji yang mungkin ke tingkat optimal sambil mempertahankan cakupan pengujian yang wajar.

  • Pengujian nilai batas: pengujian nilai batas difokuskan pada nilai-nilai pada batas. Teknik ini menentukan apakah rentang nilai tertentu dapat diterima oleh sistem atau tidak.

  • Pengujian tabel keputusan: sebuah tabel keputusan menempatkan penyebab dan efeknya dalam sebuah matriks. Ada kombinasi unik di setiap kolom.

Itulah beberapa penjelasan Black Box Testing yang perlu kamu tahu ketika belajar membuat aplikasi. Kamu juga sudah tahu apa definisi dari Black Box Testing adalah sebuah metode untuk menguji aplikasi.

(NSF)