Tracer Study Lulusan Perlu Menunjukkan Kesesuaian dengan Dunia Kerja
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SEVIMA - Tracer study lulusan bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan tidak cukup dilaksanakan untuk mengumpulkan daftar pekerjaan alumni. Perguruan tinggi perlu membaca hubungan antara bidang pekerjaan, kemampuan yang dipakai lulusan, dan kurikulum yang pernah mereka pelajari. Tanpa analisis tersebut, survei alumni berisiko menjadi tabel pelaporan yang tidak menjelaskan dampak pendidikan.
Pandangan itu dijelaskan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Imas Maesaroh, ketika membahas strategi akreditasi perguruan tinggi dalam diskusi di Cilacap yang turut diikuti peserta daring. Transkrip tidak menyebut tanggal acara secara pasti. Ia menempatkan hasil lulusan sebagai bagian penting dari pembuktian relevansi pendidikan tinggi.
"Tracer study sebagai bukti outcome," kata Imas dalam penjelasannya mengenai perbedaan antara data hasil langsung dan dampak yang lebih panjang. Menurutnya, informasi alumni digunakan untuk mengetahui kecocokan pendidikan dengan pekerjaan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, jumlah responden semata belum menggambarkan mutu hasil pembelajaran.
Salah satu persoalan yang disebut Imas adalah data alumni yang terpisah di berbagai unit. Program studi mungkin memiliki nomor kontak dan catatan magang, sedangkan pusat karier menyimpan hasil survei pekerjaan. Tanpa tata kelola penggabungan, kampus sulit menghasilkan gambaran yang konsisten tentang masa tunggu dan kesesuaian bidang kerja.
"Kontribusi lulusan pada kebutuhan masyarakat atau industri," ujar Imas ketika menyebut contoh indikator yang perlu dijelaskan. Kontribusi dapat berupa kecakapan kerja yang digunakan, tanggung jawab profesional, atau penerapan kemampuan lulusan dalam aktivitas sosial. Kampus tetap memerlukan data pendukung sebelum menyimpulkan bahwa kontribusi tersebut meningkat.
Tim pelacak lulusan dapat memanfaatkan jaringan alumni untuk memperbaiki kontak, tetapi perlu tetap meminta persetujuan penggunaan data. Kualitas data tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan nomor telepon lama. Informasi sensitif harus digunakan sesuai tujuan survei.
Tracer Study Lulusan Perlu Dibaca Bersama Kurikulum
Merujuk dokumen sistem akreditasi nasional yang diterbitkan BAN-PT, penjelasannya menunjukkan pentingnya informasi eksternal tentang kinerja lulusan. Data itu dapat diperoleh melalui pelacakan alumni dan survei pengguna secara konsisten dan melembaga. Dengan kata lain, penilaian relevansi tidak semata bergantung pada klaim internal penyelenggara pendidikan.
Tracer study lulusan akan lebih berguna apabila pertanyaannya disusun sesuai keputusan yang hendak diambil. Apakah kampus ingin mengetahui transisi pertama ke pekerjaan, kesesuaian bidang ilmu, atau kebutuhan kompetensi tambahan? Setiap tujuan dapat memerlukan pertanyaan dan rentang pengamatan yang berbeda.
Dalam paparannya, Imas menyampaikan contoh kesenjangan antara target partisipasi alumni dan respons yang diperoleh. Contoh itu digunakan untuk menunjukkan cara melakukan analisis kesenjangan, bukan untuk menetapkan satu standar nasional survei alumni. Angka ilustratif dari materi tidak seharusnya diubah menjadi kewajiban resmi tanpa pemeriksaan dokumen yang berlaku.
"Bentuk unit tracer study," jelas Imas ketika memberi contoh langkah perbaikan atas rendahnya respons alumni. Ia juga menyebut penggunaan kanal komunikasi digital dan jejaring sosial. Namun, peningkatan jumlah respons tetap perlu disertai pemeriksaan apakah responden mewakili kelompok lulusan yang hendak dianalisis.
Kesesuaian bidang kerja juga membutuhkan definisi yang jelas. Seorang lulusan dapat bekerja di sektor berbeda tetapi masih memakai keterampilan analitis yang dipelajari saat kuliah. Karena itu, pengelola tidak cukup mengelompokkan pekerjaan hanya dari nama jabatan.
Data Alumni Menjadi Masukan Perbaikan Pembelajaran
"Rendahnya partisipasi alumni untuk bisa mengisi tracer study," papar Imas saat menguraikan contoh kesenjangan mutu. Hasil survei dapat dibawa ke rapat evaluasi kurikulum. Bila lulusan berulang kali melaporkan kurangnya latihan menyelesaikan kasus di pekerjaan, program studi dapat meninjau metode pembelajaran. Bila pengguna lulusan meminta kemampuan komunikasi yang lebih kuat, perguruan tinggi dapat mengevaluasi kesempatan mahasiswa berlatih presentasi dan kolaborasi.
Imas mengaitkan hasil pendidikan dengan peran dosen dalam membangun kompetensi, termasuk kemampuan berpikir kritis dan kerja sama. Ia mengingatkan bahwa metode perkuliahan yang seluruhnya berpusat pada ceramah berisiko membatasi latihan kemampuan tersebut. Hubungan ini merupakan penilaian narasumber, bukan bukti bahwa satu metode mengajar selalu menghasilkan dampak yang sama.
Tracer study lulusan pada akhirnya dapat menjadi bahan keputusan bila hasilnya dibaca bersama kebutuhan industri, evaluasi pembelajaran, dan masukan pengguna lulusan. Survei yang dikerjakan secara berkala memberi kesempatan untuk menguji apakah pembaruan kurikulum benar-benar berkaitan dengan pengalaman angkatan berikutnya.
Masukan pengguna lulusan dapat memberi pembanding terhadap jawaban alumni. Jika keduanya menunjukkan kekurangan yang serupa, program studi memiliki landasan lebih kuat untuk menentukan prioritas pembaruan. Namun hasil survei perlu dilaporkan bersama keterbatasannya.
Survei alumni yang memperoleh respons tinggi pun belum tentu sepenuhnya mencerminkan keadaan seluruh lulusan. Alumni yang telah bekerja mungkin lebih mudah dihubungi melalui jejaring profesional, sementara lulusan yang belum memperoleh pekerjaan bisa lebih sulit dijangkau. Tim pengelola perlu memeriksa komposisi responden berdasarkan angkatan dan program studi. Tanpa pengecekan tersebut, kesimpulan tentang masa tunggu atau kesesuaian kerja dapat terlalu optimistis. Catatan tentang jumlah sasaran, jumlah respons, dan keterbatasan pengumpulan data perlu hadir bersama hasil utama.
Menilai perubahan kurikulum dari hasil survei membutuhkan kehati-hatian. Perbaikan kepuasan alumni dalam satu angkatan belum tentu merupakan akibat langsung dari satu mata kuliah baru. Perubahan pasar kerja, kondisi ekonomi, dan pengalaman magang juga dapat berpengaruh. Kampus sebaiknya membandingkan beberapa sumber data dan menjelaskan batas kesimpulannya. Dengan begitu, tindak lanjut kurikulum didasarkan pada pola yang berulang, bukan reaksi terhadap satu angka yang tampak mencolok.

