Konten dari Pengguna

Kupas Novel "The Da Vinci Code": Teka-Teki Mengajak Pembaca Mencurigai Sejarah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reyzka Hadasah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cover Novel 'The Da Vinci Code: For New Generation' karya Dan Brown edisi terjemahan Indonesia cetakan 2017. Foto: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Cover Novel 'The Da Vinci Code: For New Generation' karya Dan Brown edisi terjemahan Indonesia cetakan 2017. Foto: Dokumentasi Pribadi

"Bagaimana jika benda-benda yang selama ini berada dekat dengan kita ternyata menyimpan pesan yang tidak pernah disadari?"

Sebuah lukisan bisa menyimpan cerita, angka demi angka bisa menjadi petunjuk, bahkan, sebuah simbol yang dianggap sepele pun dapat menjadi teka-teki ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda. The Da Vinci Code karya Dan Brown dibuat dengan gagasan seperti itu.

Novel yang pertama kali diterbitkan Doubleday pada 18 Maret 2003 ini mengikuti Robert Langdon, seorang profesor simbologi dari Harvard, yang sedang berada di Paris ketika menerima panggilan tengah malam tentang kematian Jacques Saunière, kurator Museum Louvre. Tubuh Saunière ditemukan dalam kondisi aneh, disertai simbol dan rangkaian kode yang membuat polisi membutuhkan bantuan Langdon. Pertemuannya dengan Sophie Neveu, seorang kriptolog dari kepolisian Prancis, kemudian membawa keduanya ke dalam pencarian yang jauh lebih besar daripada kasus pembunuhan di Louvre. Edisi hardcover pertamanya terdiri atas 464 halaman.

Langdon dan Sophie tidak hanya harus mencari pelaku. Mereka juga harus memahami pesan-pesan yang ditinggalkan Saunière. Petunjuk tersebut membawa mereka menyusuri karya Leonardo da Vinci, sejarah keagamaan, organisasi rahasia, hingga legenda Holy Grail. Setiap jawaban yang ditemukan justru membuka pertanyaan berikutnya.

Di situlah Dan Brown mulai memainkan kekuatan utamanya.

Pembaca tidak diberikan seluruh informasi sekaligus. Sebuah simbol muncul, kemudian dijelaskan. Penjelasan tersebut membawa pembaca kepada petunjuk baru. Ketika satu teka-teki mulai terpecahkan, muncul persoalan lain yang membuat perjalanan Langdon dan Sophie belum bisa berhenti. Brown bahkan menjadikan pengetahuan Langdon tentang simbologi sebagai bagian dari mesin cerita. Informasi tentang karya seni, arsitektur, angka, atau simbol dapat menjadi sesuatu yang harus dicurigai.

Cara tersebut membuat pembaca berada dalam posisi yang hampir sama dengan Langdon. Kita tahu apa yang ia tahu, kemudian ikut menunggu ketika sebuah petunjuk mulai terbuka. Perbedaannya, Langdon memiliki pengetahuan yang jauh lebih luas sehingga beberapa hal yang terlihat biasa bagi pembaca dapat segera ia hubungkan dengan sejarah atau simbol tertentu.

Sophie melengkapi peran tersebut dengan kemampuan memecahkan kode. Keduanya memiliki cara berpikir yang berbeda, sehingga penyelesaian teka-teki tidak sepenuhnya bergantung pada satu karakter. Ketika Langdon membaca makna di balik simbol, Sophie dapat menemukan pola yang terlewatkan. Hubungan keduanya juga membuat perjalanan yang penuh informasi itu tidak terasa seperti rangkaian penjelasan sejarah semata.

Brown cukup cerdik dalam menempatkan informasi tersebut di tengah situasi yang mendesak. Oleh karena itu, Langdon dan Sophie sering kali harus memecahkan sesuatu sambil menghindari polisi, mengejar petunjuk berikutnya, atau mencari tahu siapa yang dapat dipercaya. Informasi dan ketegangan berjalan bersamaan.

Namun, cara seperti ini juga menjadi salah satu bagian yang bisa terasa melelahkan.

Ada saat ketika percakapan antarkarakter terasa terlalu panjang karena harus menjelaskan sejarah, agama, simbol, dan teori yang menjadi dasar cerita. Karakter seolah berhenti sejenak untuk memberikan kuliah kepada pembaca. Bagi pembaca yang memang tertarik dengan sejarah seni atau simbol keagamaan, bagian tersebut bisa menjadi hal yang menyenangkan. Bagi yang lebih mengejar gerak cerita, beberapa penjelasan terasa memperlambat perjalanan.

Meski begitu, detail-detail tersebut memiliki fungsi penting. The Da Vinci Code tidak akan menjadi cerita yang sama jika Louvre, Mona Lisa, The Last Supper, Fibonacci, pentagram, Holy Grail, dan berbagai simbol lainnya hanya digunakan sebagai latar. Brown menjadikan semuanya sebagai bagian dari permainan.

Hal ini juga menjelaskan mengapa novel tersebut terasa seperti lebih dari sekadar thriller pembunuhan. Ada misteri, pengejaran, konspirasi, sejarah, seni, dan agama yang ditempatkan dalam satu jalur cerita. Perjalanan Langdon dan Sophie berpindah dari Paris menuju Inggris dan Skotlandia, membawa pembaca ke berbagai tempat yang memiliki sejarah dan legenda masing-masing.

Salah satu gagasan terbesar dalam novel berkaitan dengan sejarah yang selama ini dipercaya. Brown memainkan kemungkinan bahwa sejarah yang dikenal masyarakat tidak selalu menceritakan seluruh cerita. Tokoh-tokohnya berdebat tentang siapa yang menulis sejarah, siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan apa yang dianggap benar, dan apa yang mungkin sengaja disembunyikan.

Gagasan tersebut menarik sebagai bahan fiksi karena membuat pembaca ikut mempertanyakan informasi yang mereka terima. Masalahnya muncul ketika batas antara fakta dan rekaan menjadi terlalu tipis.

The Da Vinci Code memang memasukkan banyak unsur nyata. Louvre benar-benar ada, Leonardo da Vinci benar-benar melukis The Last Supper, Opus Dei merupakan organisasi nyata, dan nama Priory of Sion memang pernah muncul dalam sejarah modern. Namun, keberadaan unsur-unsur tersebut tidak otomatis membuat cerita yang dibangun di sekitarnya menjadi fakta sejarah.

Salah satu contohnya adalah Priory of Sion. Novel menggambarkannya sebagai organisasi kuno yang memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh besar dalam sejarah dan menjaga sebuah rahasia selama berabad-abad. Catatan sejarah yang tersedia menunjukkan bahwa organisasi bernama Priory of Sion yang terdokumentasi justru muncul di Prancis pada 1950-an, sementara dokumen yang digunakan untuk membangun kisah tentang asal-usul kunonya telah lama dipersoalkan sebagai pemalsuan.

Penggambaran Opus Dei juga memicu kritik. Dalam novel, organisasi Katolik tersebut berkaitan dengan berbagai tindakan kekerasan melalui karakter Silas. Opus Dei sendiri kemudian secara terbuka menolak penggambaran tersebut dan menyatakan bahwa novel mendistorsi sejarah Gereja serta memberikan gambaran yang tidak sesuai mengenai organisasi tersebut. Sejumlah kajian dan pemberitaan juga mencatat bahwa gambaran Opus Dei dalam novel sangat berbeda dari organisasi sebenarnya.

Karena itu, The Da Vinci Code lebih tepat ditempatkan sebagai novel thriller yang menggunakan sejarah dan simbol sebagai bahan cerita, bukan sebagai sumber untuk mempelajari sejarah Kekristenan atau Leonardo da Vinci.

Terlepas dari kontroversinya, kemampuan Brown membuat pembaca terus membalik halaman tetap menjadi kekuatan utama novel ini. The Da Vinci Code pertama kali terbit pada 2003 dan kemudian berkembang ke penerbitan global. Penguin Random House saat ini mencatat lebih dari 85 juta copy telah terjual di seluruh dunia.

Popularitas tersebut cukup mudah dipahami. Brown mengambil sesuatu yang sebenarnya sudah dikenal—lukisan, bangunan, simbol, nama tokoh sejarah—kemudian memberikan kemungkinan baru di baliknya. Setelah membaca novel ini, pembaca mungkin akan melihat sebuah simbol dengan sedikit lebih curiga dan bertanya apakah ada makna lain yang selama ini terlewat.

Novel ini benar-benar mengajak pembaca siap mengikuti permainan yang dibuat Dan Brown: membaca simbol, mencocokkan petunjuk, mencurigai informasi, lalu terus membuka halaman berikutnya untuk mencari jawaban. Rasa penasaran menjadi alasan untuk terus mengikuti perjalanan Langdon dan Sophie sampai teka-tekinya menemukan ujung.

Popularitas novel ini kemudian membawa The Da Vinci Code ke layar lebar pada 2006. Ron Howard menyutradarai adaptasinya dengan Tom Hanks sebagai Robert Langdon dan Audrey Tautou sebagai Sophie Neveu. Film tersebut menjadi bagian dari rangkaian adaptasi karya Dan Brown yang kemudian dilanjutkan dengan Angels & Demons pada 2009 dan Inferno pada 2016.

Kehadiran filmnya juga menunjukkan betapa kuatnya daya tarik visual dari cerita Brown. Louvre, karya Leonardo da Vinci, gereja-gereja Eropa, hingga simbol-simbol yang tersebar sepanjang cerita memang mudah dibayangkan sebagai adegan film. Namun, kekuatan utama novelnya justru berada pada pengalaman ketika pembaca sendiri ikut menyusun petunjuk tersebut dari halaman ke halaman.