Menyimak Kisah di Balik Suara dalam Film The Singers

Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Reyzka Hadasah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Percakapan bisa membawa orang ke mana saja. Malam hari di sebuah bar yang menjadi latar film The Singers, obrolan tentang seorang teman, kejadian bertahun-tahun lalu, hubungan yang berantakan, mobil yang rusak, hingga seekor anjing muncul silih berganti. Akan tetapi, tidak ada yang membicarakannya lebih jauh. Cerita hanya datang lewat, lalu tertutup dengan cerita berikutnya.
Sampai sebuah kompetisi bernyanyi dimulai.
Hadiah yang ditawarkan cukup menarik: 100 USD dan bir gratis untuk penyanyi terbaik malam itu. Para pengunjung bergantian mengambil giliran. Seorang pria yang sudah biasa bernyanyi di bar mendapatkan kesempatan tampil, sementara para pria lainnya datang dengan tingkat kepercayaan diri dan kemampuan yang berbeda-beda.
Dari premis sederhana itu, The Singers garapan Sam A. Davis perlahan menggeser perhatian dari lombanya kepada orang-orang yang berdiri untuk bernyanyi. Mereka datang membawa kehidupan masing-masing dan sebagian dari kehidupan itu ikut "terdengar" ketika lagu mulai dimainkan.
Kamera menangkap perubahan tersebut lewat wajah.
Beberapa penampilan disertai close-up yang cukup lama. Para penyanyi menatap lurus ke depan, tetapi sorot mata mereka seperti tidak benar-benar berada di dalam ruangan. Tatapan kosong, jeda kecil, bahkan ekspresi yang nyaris tidak berubah justru membuat penonton bertanya-bertanya apa yang sedang mereka pikirkan.
Namun, film tidak buru-buru menjawabnya.
Percakapan sebelum penampilan sudah meninggalkan potongan-potongan kecil tentang kehidupan mereka. Ketika lagu mulai terdengar, potongan tersebut mendapatkan konteks baru di mana kisah-kisahnya membuat sebuah lagu terdengar lebih berat.
Kerinduan terasa berbeda ketika yang menyanyikannya memang sedang membawa seseorang dalam pikirannya. Begitu pula dengan kekecewaan dalam hubungan yang kemudian keluar lewat nyanyian dan permainan piano.
Lagu-lagu itu terasa seperti kelanjutan dari sesuatu yang sempat terputus.
Akting para pemerannya juga ikut menjaga kesan tersebut. Emosi, dialog, dan perubahan ekspresi tidak dimainkan secara dramatis untuk menunjukkan bahwa mereka sedang terluka. Yang berubah justru suara, tatapan, dan cara mereka memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan bagian lagu.
Bar itu sendiri mendukung suasananya. Ruangan yang redup, kursi-kursi yang berdekatan, dan minimnya gangguan visual membuat perhatian mudah tertuju kepada orang yang sedang bernyanyi.
Penyuntingannya memberi ruang bagi momen tersebut. Film tidak buru-buru memotong ketika seseorang sedang bernyanyi. Penampilan dibiarkan selesai sebelum perhatian berpindah kepada karakter berikutnya.
Dengan durasi 18 menit, The Singers cukup memperkenalkan banyak karakter dan bergerak cepat dari satu penyanyi ke penyanyi berikutnya. Namun, film tidak memaksakan setiap karakter untuk memiliki latar belakang yang lengkap. Sebuah pengalaman cukup disebut sepintas, kemudian muncul kembali dalam bentuk yang berbeda ketika mereka mulai bernyanyi. Potongan-potongan tersebut sudah cukup untuk memahami mengapa sebuah lagu terasa begitu personal bagi orang yang menyanyikannya.
Hal itu pula yang membuat kompetisi bernyanyi di bar tersebut perlahan terasa berbeda. Hadiah 100 USD dan bir gratis hanya pemicu awal yang pada akhirnya bergeser dari siapa yang akan menang kepada apa yang sedang mereka bawa di dalam lagu. Bahkan, kemampuan bernyanyi secara teknis pun tidak lagi diperhatikan ketika emosi di baliknya terasa nyata.
Sam A. Davis menghabiskan sekitar setahun mencari talenta melalui media sosial dan internet. Mike Young, yang menjadi salah satu pemeran utama, ditemukan Davis lewat video ketika ia bernyanyi sebagai pengamen di kereta bawah tanah New York. Pemeran lain datang dari latar yang beragam, seperti penyanyi, musisi, veteran perang, hingga warga lokal yang ditemukan lewat street casting di sejumlah bar Los Angeles. Film ini memberi ruang kepada orang-orang yang sebelumnya tidak banyak dikenal untuk berdiri di depan kamera.
Talenta-talenta yang ditemukan secara tak terduga dan improvisasi para pemerannya itu bahkan membawa pendekatan tersebut sampai ke panggung Academy Awards dan memenangkan Oscar 2026 untuk Best Live Action Short Film.
Pada akhirnya, The Singers membuat lomba bernyanyi terasa seperti alasan untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dari sana, lagu menjadi pintu masuk untuk memahami sedikit kehidupan mereka. Walau filmnya singkat, ceritanya sederhana, tetapi setiap penampilan meninggalkan cukup banyak ruang bagi penonton untuk memaknai cerita yang tidak diucapkan.
