Motivasi Belajar Anak di Masa Pandemi

Fungsional Statistisi di BPS Kabupaten Ciamis
Tulisan dari Firman Hudaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setahun sudah wabah pandemi COVID-19 melanda negara kita. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah guna memutus rantai penyebarannya. Pemerintah sudah mengambil sejumlah kebijakan untuk memutus rantai COVID-19. Di mana semua kebijakan itu secara tidak langsung mempengaruhi serta membatasi ruang gerak dan mobilitas yang biasa dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.
Sektor pendidikan merupakan salah satu yang mengalami dampak yang cukup terganggu aktivitasnya, sejak diberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis internet. Hal ini sejalan dengan kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan diterbitkannya Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang "Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19.
Fakta menunjukkan, tidak semua peserta didik bisa mengakses internet untuk melakukan pembelajaran secara daring.
Dikutip dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), total jumlah penduduk lima tahun ke atas yang mengakses internet sebanyak 53,73 persen, sementara terdapat sekitar 62,84 persen yang mempunyai perangkat handphone. Total yang mengakses internet sekitar 25,07 persen di antaranya mengakses internet untuk mengerjakan tugas sekolah. (Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2020).
Masalah lainnya terkait sinyal internet yang tidak bisa diterima di sebagian wilayah. Hal ini akan menimbulkan permasalahan terkait pembelajaran berbasis internet. Banyak anak sekolah di sebagian wilayah yang rela untuk naik bukit turun bukit demi mendapatkan jaringan sinyal internet.
Meskipun sudah dilakukan sistem pembelajaran secara tatap muka yang lebih dikenal dengan "gurling" atau guru keliling dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, tetapi tidak berjalan dengan efektif. Karena pandemi COVID-19 semakin bertambah di sebagian wilayah. Apalagi saat ini ada kebijakan terkait pembatasan sosial.
Sejak diberlakukannya kebijakan proses kegiatan belajar mengajar secara daring seluruh siswa dari mulai tingkatan sekolah dasar sampai dengan tingkat atas sejak setahun yang lalu, semakin hari semakin berkurang dalam semangat belajar. Bahkan banyak siswa yang mengeluh dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh gurunya. Sementara untuk bahan pembelajaran para siswa sering kali tidak bisa memahaminya dan hanya mengandalkan bahan ajar dari internet.
Ditambah pula dengan biaya tambahan bagi orang tua untuk menyediakan pulsa atau kuota bagi anaknya dalam menjalankan tugas sekolahnya.
Meskipun pemerintah sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 8,9 triliun yang diperuntukkan untuk subsidi pulsa atau kuota internet untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen. Namun subsidi kuota internet juga tidak semua orang tua tahu. Terkadang mereka tidak mengetahui bagaimana cara mengakses dan menggunakan program kuota internet gratis tersebut.
Banyak orang tua murid yang mengkhawatirkan akan muncul gangguan psikologis terhadap anaknya yang seolah tidak ada motivasi dan semangat dalam belajar yang akan mengakibatkan kejenuhan hingga acuh terhadap kewajibannya sebagai seorang pelajar.
Para orang tua murid pun dibuat pusing karena selain menjadi guru dadakan bagi anaknya hingga dituntut untuk berbagi peran antara mengurus rumah tangga dengan mengganti peran menjadi seorang guru. Tetapi bagi orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi lebih. Mereka rela mengeluarkan anggaran lebih dalam lagi untuk memberikan les tambahan bagi anaknya, agar lebih memahami materi pelajaran.
Sejatinya peran orang tua di rumah merupakan bentuk peran guru di sekolah. Di sinilah peranan penting orang tua dalam memotivasi anaknya dalam segala hal. Meski mempunyai peran ganda para orang tua dituntut untuk menjadi panutan bagi anak-anaknya dalam memberikan edukasi, membimbing dan memotivasi belajar agar lebih giat lagi. Selain itu diperlukan juga variasi dan inovasi kegiatan selama di rumah agar tidak membuat bosan dan lelah dalam mengerjakan tugasnya.
Salah satunya orang tua dapat memberikan motivasi atau dorongan ke pada anak dalam berbagai bentuk termasuk menyediakan makanan kesukaan anak, mengajak anak rekreasi di akhir pekan, memberikan hadiah kepada anak jika ia mau belajar sungguh-sungguh, atau bisa juga dilakukan kebebasan untuk bermain jika semua kewajiban anaknya sudah dilakukan untuk membuat merasa nyaman. Tak lupa semua itu tetap dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan.
Kita patut untuk tetap memberi semangat kepada anak-anak, agar gairah belajar semakin meningkat dan menghasilkan generasi yang akan mengangkat derajat pendidikan. Meskipun masih banyak kendala yang harus dihadapi oleh orang tua di masa pandemi ini. Selain itu dengan adanya pembelajaran jarak jauh ini bisa diambil hikmahnya yaitu akan semakin mempererat hubungan dan komunikasi antara orang tua dan anaknya. (*)
