Memahami Keesaan Tuhan dalam Agama Konghucu

Hudhurul Qolby Panphila, seorang mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA). Kejuruan Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Islam Nusantara. Alamat Kampus : Jl. Taman Amir Hamzah No.5, RW.4, Pegangsaan, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Hudhurul Qolby Panphila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, atau yang lebih dikenal sebagai agama Konghucu, Tuhan Yang Maha Esa dikenal dengan sebutan Tian. Secara harfiah, "Tian" berarti "Langit". Namun, dalam konteks agama Konghucu, sebutan Tian untuk Tuhan bukan mengacu pada arti harfiah atau langit secara fisik, melainkan mengacu pada makna metaforis (bahasa kiasan), yaitu sebagai Kekuatan Tertinggi yang mengatur alam semesta. Tian merupakan representasi dari Kemahaluasan-Nya yang meliputi segala sesuatu, sumber dari segala kehidupan dan hukum alam. Ini sejalan dengan pemahaman transendensi dan imanensi, bahwa Tian adalah kekuatan yang jauh melampaui segala kehidupan makhluk, tidak tampak secara kasat mata, tetapi juga hadir dalam segala aspek kehidupan.
Di dalam kitab Wu Jing disebutkan terdapat enam nama utama yang merepresentasikan sifat dan peran Tian, yaitu :
Cang Tian (Tian Yang Maha Luas, Maha Mengawasi Seluruh Kehidupan) – Menunjukkan Tian sebagai kekuatan yang agung dan mengawasi segala sesuatu yang tampak maupun yang tersembunyi.
Shang Tian (Tian Yang Maha Kuasa) – Menunjukkan kekuasaan mutlak yang dimiliki oleh Tian untuk mengatur seluruh alam semesta.
Huang Tian (Tian Yang Maha Pencipta) – Tian sebagai pencipta segala sesuatu.
Hao Tian (Tian Yang Maha Meliputi Aspek Yin dan Yang) – Menunjukkan Tian yang meliputi segala sesuatu mencakup dua aspek yang berlawanan namun saling melengkapi, seperti konsep Yin dan Yang. Yin dan Yang menggambarkan keharmonisan antara elemen-elemen yang berbeda, seperti terang dan gelap, laki-laki dan perempuan, atau hidup dan mati, yang saling berdampingan untuk menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dalam alam semesta. Dalam konteks ini, Tian mengatur dan menyatukan kedua kekuatan ini, menjaga keseimbangan dalam segala aspek kehidupan.
Shang Di (Tuhan Yang Maha Tinggi) – Menunjukkan keagungan Tian yang melampaui segala yang ada.
Min Tian (Tian Yang Maha Welas Asih, Maha Pemurah) – Tian yang memiliki sifat welas asih dan menerima permohonan makhluk ciptaan-Nya.
Meski terdapat enam nama utama yang merepresentasikan sifat dan peran Tian, kesemuanya merujuk pada Tian yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ini mirip dengan konsep nama-nama indah Tuhan (Asmaul Husna/The Beautiful Names) dalam agama Islam, yang berjumlah 99 nama, namun tetap merujuk pada Allah Yang Maha Esa. Dalam agama Konghucu, Tian tidak memiliki bentuk atau gambaran tertentu. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tiong Young pada Bab XV (15), ayat 1-5 tentang Keesaan Tian adalah sebagai berikut :
"Di lihat tiada nampak, di dengar tiada terdengar. Namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia." (Tiong Yong XV: 1-5)
Maksudnya, meskipun Tian tidak dapat dilihat atau didengar secara indrawi, tetapi segala sesuatu yang ada merupakan manifestasi dari kekuatan-Nya. Dengan kata lain, Tian ada di dalam segala ciptaan-Nya, meskipun keberadaan-Nya tidak tampak secara indrawi.
Di dalam kelenteng (rumah ibadah tradisional Tionghoa) terdapat berbagai arca atau patung yang sering disangka sebagai representasi Tian oleh orang-orang non-Konghucu. Padahal, dalam agama Konghucu, arca-arca tersebut bukanlah Tian, melainkan representasi dari para Sheng Ren (Orang Suci). Para Sheng Ren adalah individu-individu yang dihormati karena kebijaksanaan, moralitas, dan kontribusi besar mereka terhadap peradaban. Mereka adalah tokoh yang pernah hidup di masa lalu dan memberikan teladan hidup yang positif, baik melalui karya-karya mereka, tindakan kebajikan, maupun pengaruh besar dalam membangun masyarakat dan negara di Tiongkok–mengingat agama Konghucu berasal dari sana.
Ketika para Sheng Ren wafat, dibuatkanlah arca-arca mereka untuk mengenang jasa-jasanya, yang ditempatkan di setiap kelenteng. Meskipun para Sheng Ren sering disebut sebagai Dewa atau Dewi, tetapi makna Dewa-Dewi dalam konteks agama Konghucu berbeda dengan pemahaman dalam agama Hindu. Dalam Konghucu, Dewa-Dewi yang merujuk kepada para Sheng Ren tidak dipandang sebagai Tian atau Tuhan, melainkan sebagai manusia-manusia suci atau tokoh historis yang dihormati karena kebajikan dan teladan hidup mereka, bukan sebagai pencipta alam semesta.
Pemujaan terhadap arca-arca para Sheng Ren dalam Konghucu adalah bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap jasa-jasanya, bukan menyembah mereka sebagai Tuhan.
Pemujaan dan Penyembahan dalam agama Konghucu
Penting untuk memahami perbedaan antara pemujaan dan penyembahan. Pemujaan adalah bentuk penghormatan yang lebih umum, yang bisa diberikan kepada tokoh-tokoh tertentu, baik dalam konteks agama maupun budaya. Pemujaan ini bisa diberikan kepada nabi, orang-orang suci, atau bahkan tokoh-tokoh yang dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti idola atau pasangan hidup. Sedangkan penyembahan adalah tindakan penghormatan yang lebih mendalam dan khusus, yang ditujukan hanya kepada Tuhan sebagai realitas tertinggi.
Di dalam kelenteng, altar atau tempat penyembahan untuk Tian dan altar pemujaan untuk para Sheng Ren juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan, baik dalam letak maupun simbolismenya.
Altar untuk Tian (Tuhan):
Ruang Tengah Kelenteng: Altar untuk Tian biasanya terletak di ruang tengah kelenteng. Ruang tengah melambangkan bahwa Tian merupakan "pusat" segala kehidupan. Di altar ini, tidak ada arca atau patung untuk Tian, melainkan hanya ada simbol langit, seperti bulatan kosong, simbol Yin-Yang, atau papan yang bertuliskan nama-nama Tian dalam aksara Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa Tian sebagai sumber kehidupan yang mengatur seluruh alam semesta.
Halaman Kelenteng: Selain di ruang tengah dalam kelenteng, terkadang juga altar untuk Tian diletakkan di tengah halaman kelenteng atau di ruang terbuka. Dengan tujuan agar pemujaan lebih langsung terarah ke langit, kepada Tian. Ini memperkuat makna bahwa segala doa dan penyembahan langsung tertuju kepada Tian Yang Maha Agung.
Altar untuk Sheng Ren (Orang Suci):
Pojokan atau Sudut Kelenteng: Berbeda dengan altar untuk Tian, altar pemujaan untuk para Sheng Ren biasanya terletak di pojokan atau setiap sudut di kelenteng. Di sini, terdapat arca atau patung yang menggambarkan para tokoh suci atau orang-orang yang dihormati dalam agama Konghucu.
Tata Letak Altarnya: Altar untuk para Sheng Ren harus lebih rendah dan tidak lebih tinggi daripada altar untuk Tian. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun para Sheng Ren dihormati sebagai contoh hidup yang baik, tetapi mereka tidak dipandang sebagai entitas yang setara dengan Tian. Penyembahan kepada Tian tetap dianggap lebih utama dan lebih penting daripada pemujaan kepada para Sheng Ren.
Secara keseluruhan, pemahaman dalam agama Konghucu tentang Tian sangat menekankan pada keesaan Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak bisa dibatasi oleh gambaran fisik atau bentuk apapun. Pemujaan terhadap Sheng Ren adalah bentuk penghormatan atas kehidupan mereka yang memberikan teladan baik, namun tetap berada dalam kerangka bahwa segala sesuatu, termasuk jasa mereka, berasal dari kehendak dan kekuatan Tian Yang Maha Agung.
Dalam agama Konghucu juga terdapat konsep filosofis yang mendalam, yang disebut Zhong dan Shu. Zhong berarti "kesetiaan" yang merujuk pada hubungan vertikal antara manusia dan Tian (Tuhan), di mana manusia berusaha mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara itu, Shu bermakna "tenggang rasa" atau "empati," yang mencerminkan hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Prinsip Zhong dan Shu memiliki keselarasan universal dengan konsep Habluminallah (hubungan dengan Tuhan) dan Habluminannas (hubungan dengan manusia) dalam Islam. Selain itu, makna tersebut juga sejalan dengan simbol salib dalam Kristen, di mana garis vertikal menyimbolkan hubungan manusia kepada Tuhan, sedangkan garis horizontal menggambarkan hubungan manusia dengan sesama.
Konsep ini mencakup nilai-nilai luhur seperti:
Li: Ritual dan tata cara hidup yang benar, baik dalam kehidupan spiritual maupun sosial.
Ren: Kebajikan dan cinta kasih sebagai inti hubungan antar manusia.
Yi: Prinsip kebenaran dan keadilan yang berakar pada nurani dan moralitas.
Zhong dan Shu mengajarkan keseimbangan harmoni dalam menjalani hubungan dengan Tuhan dan sesama makhluk, menciptakan kehidupan yang penuh makna dan kebajikan.
Sebagai kesimpulan, ajaran agama Konghucu menekankan pentingnya keharmonisan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Konsep seperti Tian, Zhong, dan Shu memperlihatkan betapa ajaran ini menjunjung nilai kebajikan, cinta kasih, serta tanggung jawab moral dalam hubungan vertikal kepada Tuhan dan horizontal kepada sesama. Dengan memahami filosofi ini, kita dapat melihat bahwa agama Konghucu bukan hanya sebuah kepercayaan, tetapi juga sebuah panduan etika universal yang relevan untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna dan harmonis. Semoga pemahaman ini dapat memperkaya wawasan tentang keragaman spiritualitas dan memperkuat rasa saling menghormati antar umat beragama.
Penulis: Hudhurul Qolby Panphila, Akademisi Sejarah Peradaban Islam di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.
