Stigma Pengobatan Alternatif : Cermin Pendidikan dan Pola Pikir Masyarakat

Sarjana hukum ,Universitas Darma Agung Medan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hugo Laurencius pakpahan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali seseorang memilih pengobatan alternatif, masyarakat hampir selalu terbelah menjadi dua kubu. Satu kubu langsung mencapnya sebagai tindakan irasional, sesat, atau mudah tertipu. Kubu lainnya justru menganggap pengobatan alternatif sebagai solusi terbaik dan memandang pengobatan medis dengan penuh kecurigaan. Ironisnya, kedua kubu sering kali sama-sama berangkat dari keyakinan, bukan dari pengetahuan.
Persoalan sesungguhnya bukanlah pengobatan alternatif, melainkan kualitas cara berpikir masyarakat dalam menyikapi sebuah informasi. Kita masih terbiasa menilai sesuatu berdasarkan cerita, pengalaman pribadi, atau pendapat yang paling sering terdengar, bukan berdasarkan proses berpikir yang kritis. Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena saling menghakimi.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk budaya berpikir kritis. Banyak orang pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi belum tentu memiliki kebiasaan memverifikasi informasi, memahami bukti ilmiah, atau membedakan antara fakta, opini, dan pengalaman pribadi. Pendidikan sering kali masih berhenti pada kemampuan menghafal, bukan membangun kemampuan bernalar.
Padahal, inti pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah, melainkan membentuk karakter intelektual: berani bertanya, bersedia menguji pendapat sendiri, dan mau mengubah pandangan ketika dihadapkan pada bukti yang lebih kuat. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, sikap seperti ini justru masih kalah oleh budaya “katanya”, “viral”, atau “pengalaman tetangga”.
Rendahnya literasi kesehatan memperparah keadaan. Banyak masyarakat lebih mudah percaya pada klaim kesembuhan yang beredar di media sosial daripada mencari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, ada pula yang menolak mentah-mentah seluruh bentuk pengobatan alternatif tanpa memahami bahwa beberapa terapi tradisional telah diteliti dan dalam kondisi tertentu dapat digunakan sebagai pendamping pengobatan medis. Kedua sikap tersebut sama-sama menunjukkan kegagalan dalam berpikir kritis.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah budaya menghakimi yang terus dipelihara. Ketika seseorang memilih jalan pengobatan yang berbeda, respons pertama yang muncul sering kali bukan rasa ingin memahami, melainkan keinginan untuk memberi label. Seolah-olah setiap persoalan harus memiliki satu jawaban mutlak, padahal kenyataan jauh lebih kompleks.
Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang selalu sepakat, melainkan masyarakat yang mampu berdialog secara rasional. Perbedaan pilihan tidak seharusnya melahirkan permusuhan. Yang perlu diperdebatkan adalah kualitas alasan, kekuatan bukti, dan dampak suatu pilihan, bukan menyerang orang yang mengambil pilihan tersebut.
Karena itu, persoalan ini seharusnya menjadi refleksi bagi dunia pendidikan. Sekolah, perguruan tinggi, keluarga, dan media memiliki tanggung jawab yang sama untuk menumbuhkan budaya berpikir kritis. Anak-anak harus dibiasakan bertanya “mengapa”, “apa buktinya”, dan “bagaimana kita tahu bahwa informasi ini benar”. Tanpa kebiasaan tersebut, masyarakat akan terus menjadi sasaran empuk bagi hoaks, klaim kesehatan yang menyesatkan, maupun stigma sosial.
Bangsa yang maju tidak diukur dari banyaknya orang bergelar, tetapi dari banyaknya warga yang mampu berpikir jernih, menghargai bukti, dan berdiskusi tanpa prasangka. Pendidikan yang sejati bukan hanya mencetak orang yang pandai berbicara, melainkan manusia yang rendah hati untuk mengakui bahwa pengetahuan selalu berkembang.
Pada akhirnya, pengobatan alternatif hanyalah salah satu contoh. Isu yang lebih besar adalah bagaimana masyarakat memandang setiap perbedaan. Selama kita lebih gemar menghakimi daripada memahami, lebih cepat menyimpulkan daripada mencari fakta, dan lebih percaya pada prasangka daripada pengetahuan, maka stigma akan terus lahir dalam berbagai bentuk. Oleh karena itu, yang paling mendesak untuk disembuhkan bukan hanya cara kita berobat, melainkan cara kita berpikir. Sebab kemajuan sebuah bangsa tidak pernah dimulai dari keyakinan yang keras kepala, melainkan dari masyarakat yang menjadikan pendidikan, nalar, dan sikap kritis sebagai fondasi dalam mengambil setiap keputusan.
