Konten dari Pengguna

Telaga Ngebel Gunung Berapi yang Lebih Tua dari Wilis, Ini Kata Peneliti UMPO

umpo media

umpo media

Universitas Muhammadiyah Ponorogo

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari umpo media tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

suasana telaga Ngebel di sore hari. Foto: dokpri
zoom-in-whitePerbesar
suasana telaga Ngebel di sore hari. Foto: dokpri

Kabupaten Ponorogo punya ikon wisata alam popular Telaga Ngebel. Selama ini orang menganggap bahwa Telaga Ngebel di Ponorogo adalah bagian dari Pegunungan Wilis yang berada di enam kabupaten/kota mulai dari Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Trenggalek, dan Ponorogo.

Tak ada yang benar-benar tahu kapan Telaga Ngebel di Desa/Kecamatan Ngebel, Ponorogo terbentuk. Belakangan akhirnya terkuak bahwa Telaga Ngebel ternyata merupakan gunung berapi tua yang usianya bahkan lebih tua dari Gunung Wilis

Dari ledakan gas belerang yang membuat banyak ikan mati membuat seorang peneliti yang merupakan dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) Dr. Rido Kurnianto, M.Ag sempat melakukan penelitian tentang ritual Larung di Telaga Ngebel selama 2 tahun pada kurun waktu 2015-2017.

Dia sempat mendengar dan menyaksikan sendiri fenomena ledakan gas belerang pada 2016. Dirinya mendengar dentuman dari dasar telaga itu, dilanjutkan kepulan asap putih di tengah telaga, bau anyir dan amis yang menyebar dari telaga, serta ikan yang mati.

Berdasarkan literatur yang dia baca, tanda-tanda yang dikaitkan dengan kemunculan Naga Baruklinting, terutama ledakan gas belerang, adalah tanda-tanda aktivitas gunung berapi. Dia pun menduga Telaga Ngebel merupakan kaldera yang masih aktif.

"Informasi dari literatur yang saya baca, struktur tanah di Ponorogo ini masuk gunung aktif. Ditambah lagi Telaga Ngebel yang berada di kaki barat Gunung Wilis," ujar Rido

Meski demikian, Rido mengakui bahwa dirinya belum pernah mendapati adanya penelitian yang intensif terkait gunung aktif yang ada di bawah Telaga Ngebel, Ponorogo tersebut.

Sementara, dikutip dari detikjatim.com, budayawan Ponorogo Gondo Puspito menyebut, telaga seluas 150 hektare di ketinggian 610 mdpl, yang berlokasi 24 kilometer di timur pusat kota Ponorogo, itu dahulu bukan bernama Ngebel.

Gondo menjelaskan telaga itu disebut Nglingi karena secara teritori telaga itu memang sebagian besar berada di Dukuh Nglingi yang berada di Desa/Kecamatan Ngebel.

"Nglingi artinya ngelingi atau mengingat peristiwa besar. Yakni peristiwa terjadinya telaga yang dikenal dengan Legenda Naga Baruklinting," ujar pria tersebut.

Seiring bertambahnya waktu, Gondo mengatakan bahwa warga lebih mengenal telaga itu dengan nama Telaga Ngebel karena memang telaga itu berada di Kecamatan Ngebel. Ngebel sendiri berarti ngembel atau berair.