Konten dari Pengguna

Kader Kespro Jadi Garda Depan Lawan Anemia dan Stunting

Angka stunting dan anemia pada remaja putri masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Remaja putri yang mengalami anemia berisiko melahirkan generasi yang gagal tumbuh optimal kelak, karena kondisi gizi ibu sebelum hamil turut menentukan kualitas 1.000 hari pertama kehidupan anak. Berangkat dari persoalan itu, tim pengabdian masyarakat UNISA Yogyakarta yang terdiri atas Bdn. Fayakun Nur Rohmah, S.ST., MPH, Bdn. Enny Fitriahadi, S.ST., M.Kes, dan dr. Aji Bagus Widyantara menggandeng Panti Asuhan QL Sleman sebagai mitra, merancang rangkaian kegiatan edukasi dan pelatihan kader kesehatan reproduksi (kespro) remaja sepanjang Juni–Agustus 2026. Pemilihan panti asuhan sebagai lokasi kegiatan didasari kesadaran bahwa remaja yang tinggal di panti asuhan kerap memiliki akses yang lebih terbatas terhadap informasi kesehatan reproduksi dan pendampingan orang tua dibandingkan remaja pada umumnya, sehingga peran pendamping panti dan kader sebaya menjadi sangat penting.

pengabdian masyarakat oleh dosen UNISA Yogyakarta
zoom-in-whitePerbesar
pengabdian masyarakat oleh dosen UNISA Yogyakarta

Anemia dan Stunting

Rangkaian kegiatan ini tidak berhenti pada penyuluhan satu arah, melainkan dirancang berjenjang: mulai dari edukasi dasar, pembentukan kader, pelatihan keterampilan teknis, hingga praktik lapangan langsung oleh kader di bawah pendampingan tim.

1. Edukasi Anemia, Gizi, dan Stunting: Membuka Jalan Bagi Kader Baru

Kegiatan diawali pada 10 Juni 2026 dengan edukasi tentang anemia, gizi, dan stunting yang diikuti oleh 39 remaja penghuni panti asuhan. Sebelum edukasi dimulai, peserta terlebih dahulu mengisi pretest untuk mengukur pemahaman awal mereka tentang kesehatan reproduksi. Setelah materi disampaikan, dilakukan postest dengan hasil yang menggembirakan: rata-rata skor pemahaman peserta naik dari 60 menjadi 80.

Selain materi anemia, gizi, dan stunting, edukasi ini juga memperkenalkan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) sebagai wadah bagi remaja untuk mengakses informasi kesehatan reproduksi secara aman dan terpercaya, serta membahas Triad Kesehatan Reproduksi Remaja (Triad KRR) — tiga risiko utama yang mengancam remaja, yaitu seksualitas dan kehamilan tidak diinginkan, HIV dan AIDS, serta penyalahgunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya). Pengenalan sejak dini terhadap PIK-R dan Triad KRR ini penting agar remaja tidak hanya paham soal gizi dan anemia, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan untuk melindungi diri dari risiko-risiko kesehatan reproduksi lain yang kerap luput dari perhatian.

Kenaikan skor ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan berhasil meningkatkan pemahaman remaja tentang pentingnya asupan zat besi, pola makan bergizi seimbang, bahaya stunting bagi masa depan mereka maupun anak yang kelak akan mereka lahirkan, serta kesadaran terhadap PIK-R dan Triad KRR. Dari kegiatan ini, terjaring 10 remaja yang menunjukkan minat dan potensi untuk dilatih lebih lanjut sebagai kader kesehatan reproduksi remaja.

2. Pelatihan Manajerial PIK R dan Konseling Kespro: Membekali Kader dengan Media Edukasi

Sepuluh kader terpilih kemudian mengikuti pelatihan lanjutan pada 27 Juli 2026, kali ini berfokus pada pengelolaan manajerial Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R) serta teknik konseling kesehatan reproduksi. Dalam pelatihan ini, kader dibekali kemampuan menggunakan berbagai media edukasi, di antaranya:

a. Lembar balik, untuk memandu penyampaian materi kespro secara sistematis;

b. Media putar penentuan status gizi, alat bantu sederhana untuk mengidentifikasi status gizi teman sebaya;

c. Media ular tangga kesehatan reproduksi, permainan edukatif yang mengemas materi kespro secara interaktif; serta

d. Buku-buku referensi kesehatan reproduksi sebagai bahan pendalaman.

Hasil observasi menunjukkan lonjakan keterampilan edukasi kader yang signifikan, dari rata-rata pretest 50 menjadi 90 pada postest. Angka ini mengindikasikan bahwa pendekatan pelatihan berbasis media dan praktik langsung efektif membangun kepercayaan diri kader dalam menyampaikan edukasi kepada teman sebayanya.

3. Pelatihan Screening Kesehatan dan Anemia: Dari Teori ke Keterampilan Teknis

Tidak cukup hanya mahir berkomunikasi, kader remaja juga perlu terampil melakukan pengukuran kesehatan dasar. Pada 18 Juli 2026, tim pengabdian masyarakat memberikan pelatihan screening kesehatan yang mencakup pengukuran berat badan (BB), tinggi badan (TB), lingkar lengan atas (LILA), indeks massa tubuh (IMT), serta screening anemia.

Sebagaimana pelatihan sebelumnya, hasil observasi keterampilan kader kembali menunjukkan peningkatan tajam, dari rata-rata pretest 50 menjadi 90 pada postest. Dengan bekal ini, kader tidak lagi hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga mampu melakukan deteksi dini masalah gizi dan anemia pada teman sebayanya secara mandiri.

4. Praktik Lapangan: Kader Beraksi, Data Berbicara

Puncak dari rangkaian pemberdayaan ini terlaksana pada 11 Agustus 2026, ketika kader kesehatan yang telah dilatih turun langsung melakukan screening anemia kepada teman sebaya, dengan tetap didampingi oleh tim pengabdian masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang uji keterampilan kader di lapangan sesungguhnya.

Dari 35 remaja penghuni panti asuhan yang hadir dan discreening, ditemukan:

Kondisi Frekuensi Persentase

Anemia 7 20%

Underweight (kurus) 5 14%

Overweight (gemuk) 2 6%

Temuan ini penting karena menegaskan bahwa masalah gizi pada remaja bersifat ganda (double burden) — bukan hanya kekurangan gizi seperti anemia dan underweight, tetapi juga kelebihan berat badan yang sama-sama berisiko terhadap kesehatan reproduksi di masa depan. Data yang dihimpun langsung oleh kader ini menjadi bukti nyata bahwa mereka telah mampu menjalankan peran sebagai ujung tombak deteksi dini masalah gizi remaja di lingkungannya.

Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan tim pengabdian masyarakat UNISA Yogyakarta ini memperlihatkan pola yang konsisten: setiap tahap pelatihan menghasilkan peningkatan pemahaman maupun keterampilan yang cukup besar, dan puncaknya kader mampu mandiri turun ke lapangan menghimpun data kesehatan teman sebayanya.

Pendekatan pemberdayaan kader sebaya (peer educator) semacam ini dinilai strategis karena remaja cenderung lebih terbuka menerima informasi kesehatan reproduksi dari teman sebayanya dibandingkan dari orang dewasa. Dengan kader yang terlatih dan didampingi secara berkelanjutan, upaya pencegahan anemia dan stunting sejak masa remaja diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan, sejalan dengan target penurunan stunting nasional.

Ulfa, Humas Panti Asuhan QL Sleman selaku mitra kegiatan turut menyampaikan kesan atas rangkaian program ini:

"Program ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami. Mereka jadi lebih paham cara menjaga kesehatan diri sendiri, dan beberapa di antaranya sekarang berani tampil sebagai kader yang mengedukasi teman-temannya. Kami mengucapkan terima kasih kepada Tim Pengabdian Masyarakat UNISA Yogyakarta dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas terselenggaranya program ini. Kami berharap kerja sama ini bisa terus berkelanjutan, karena dampaknya benar-benar dirasakan langsung oleh anak-anak."

Menutup rangkaian kegiatan ini, Bdn. Fayakun Nur Rohmah, S.ST., MPH, selaku ketua tim pengabdian masyarakat, menyampaikan refleksinya:

"Kesadaran remaja terhadap kesehatannya sendiri adalah kunci. Remaja yang aware sejak dini terhadap kondisi gizinya, risiko anemia, hingga isu-isu kesehatan reproduksi seperti Triad KRR, akan tumbuh menjadi individu yang lebih mampu menjaga dirinya sendiri, dan kelak menjadi orang tua yang lebih siap melahirkan generasi bebas stunting. Program pemberdayaan kader ini bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan upaya menumbuhkan kesadaran itu agar terus hidup dan menyebar dari remaja ke remaja lainnya."

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta yang dilaksanakan oleh Bdn. Fayakun Nur Rohmah, S.ST., MPH, Bdn. Enny Fitriahadi, S.ST., M.Kes, dan dr. Aji Bagus Widyantara.