Konten dari Pengguna

Lahan Sempit Bukan Halangan, FST UNISA Yogyakarta Sulap Balkon Jadi Ladang

Unisa Yogyakarta
Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi berdiri sejak 6 Juni 1991. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun UNISA Yogyakarta bertransformasi menjadi sebuah universitas berwawasan kesehatan.
11 November 2025 15:28 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Lahan Sempit Bukan Halangan, FST UNISA Yogyakarta Sulap Balkon Jadi Ladang
Lahan pertanian di perkotaan yang semakin sempit? Tantangan itu coba dijawab tuntas oleh Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta
Unisa Yogyakarta
Tulisan dari Unisa Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Lahan pertanian di perkotaan yang semakin sempit? Tantangan itu coba dijawab tuntas oleh Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Melalui Focus Group Discussion (FGD) “FST Integrated Laboratory”, UNISA menggodok strategi 'perang' melawan keterbatasan lahan melalui program inovatif bernama TETANEN.
diskusi program Tetanen di lahan sempit perkotaan
zoom-in-whitePerbesar
diskusi program Tetanen di lahan sempit perkotaan
Gebrakan yang digelar pada Kamis (30/10/25) ini tak main-main. FST UNISA Yogyakarta mengumpulkan lintas sektor, mulai dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Magelang, Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), hingga praktisi media industri.
ADVERTISEMENT

Lahan Pertanian

Dekan FST UNISA Yogyakarta, Tika Ainunnisa Fitria, ST, MT, Ph.D , menjelaskan Tetanen adalah model inovasi pertanian terpadu berbasis microspace. Program ini menyulap ruang sempit seperti balkon, atap, atau pekarangan untuk menghasilkan pangan.
“Program Tetanen kami rancang untuk mengubah ruang kecil menjadi ruang hidup yang produktif. Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian masa depan tidak harus luas, tetapi harus cerdas, terintegrasi, dan berkelanjutan,” ujar Tika dalam sambutanya.
Inovasi ini menggabungkan teknologi hidroponik, biokompos mini, sensor IoT (Internet of Things), serta sumber energi terbarukan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, SE., M.Si , menyambut dengan antusias. Menurutnya, Tetanen bukan sekedar program akademik, tapi gerakan sosial.
“Microspace bisa menjadi jawaban untuk memperkuat pangan lokal. Hal ini sejalan dengan visi kami mewujudkan kota yang tangguh pangan,” ungkap Sukidi.
ADVERTISEMENT
Dukungan tak terduga datang dari Dinas PUPR Kota Magelang. Rizqi Dwi Herawati, ST, M.BA (Koordinator Bidang Teknik Tata Bangunan) menyebut Tetanen sebagai paradigma baru yang relevan dengan tata ruang.
“Konsep microspace farming sangat relevan di perkotaan. Kami melihat potensi besar Tetanen menjadi model percontohan Green Building dan Eco Housing ,” puji Rizqi.
Dari sisi komunitas, Ketua JATAM, Hadi Sutrisno, S.IP., M.Si , menegaskan Tetanen adalah wujud Islam yang berkemajuan.
“JATAM siap bersinergi. Model seperti ini bisa memperkuat ekonomi keluarga,” tegasnya.
FGD ini menyepakati beberapa tindak lanjut, termasuk pengembangan prototipe berbasis sensor dan pembentukan jejaring kolaborasi hijau.