Puthut EA Ajak Mahasiswa Unisa Yogyakarta Berorganisasi dan Kritis
Tulisan dari Unisa Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penulis sekaligus Kepala Suku Mojok, Puthut EA, menekankan pentingnya berorganisasi bagi mahasiswa sebagai ruang belajar bekerja sama, membangun kecerdasan, hingga mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Menurutnya, proses belajar di perguruan tinggi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi dengan sesama mahasiswa.

Hal itu disampaikan Puthut dalam acara Harmony Talk Unisa Festival 2026 bertema Mlampah Sesarengan. Ia mengajak mahasiswa baru untuk aktif mengikuti organisasi sesuai minat masing-masing dan memanfaatkan masa kuliah untuk membangun pengalaman bersama. “Jangan lupa berorganisasi. Karena itu belajar yang sesungguhnya,” kata Puthut, di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).
Organisasi jadi ruang belajar bekerja sama
Puthut menjelaskan, kata organisasi berkaitan dengan organ yang memiliki fungsi berbeda. Ia mengibaratkan mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar. Begitu pula dalam organisasi, setiap anggota memiliki tugas dan peran masing-masing yang saling melengkapi.
Melalui organisasi, mahasiswa dapat belajar membagi tugas, bekerja sama, dan menyelesaikan pekerjaan secara kolektif. Kemampuan tersebut, menurutnya, menjadi bekal penting yang tidak hanya diperoleh melalui perkuliahan.
Ia pun mendorong mahasiswa baru untuk terlibat dalam berbagai organisasi yang tersedia di kampus, baik organisasi kemahasiswaan maupun komunitas berdasarkan minat. “Intinya berorganisasi,” ujarnya.
Berdasarkan pengamatannya selama hampir 50 tahun menjalani kehidupan, Puthut menilai mahasiswa yang menempuh masa kuliah sedikit lebih lama, tetapi aktif dan mampu berorganisasi dengan baik, berpeluang memiliki perjalanan karier yang lebih baik dibandingkan mahasiswa yang lulus cepat dengan indeks prestasi (IP) tinggi.
Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan pengamatan pribadi, bukan hasil penelitian. Namun, ia ingin menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh capaian akademik.
Puthut juga mengibaratkan proses belajar bersama melalui filosofi menumbuk padi yang diajarkan ayahnya, seorang guru. Dalam proses mengubah gabah menjadi beras, kulit gabah tidak hanya terkelupas akibat tumbukan alat penumbuk, tetapi juga karena gesekan antargabah.
Menurutnya, proses tersebut menggambarkan pentingnya interaksi antarmahasiswa dalam membentuk kemampuan berpikir dan kecerdasan. “Interaksi antara mahasiswa satu dengan mahasiswa yang lain itu sama pentingnya dengan interaksi pendidikan antara dosen dengan mahasiswa,” ungkapnya.
Ia menyebut kelompok pertemanan atau peer group sebagai salah satu ruang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kecerdikan, dinamika, dan kemampuan intelektual. Karena itu, mahasiswa perlu menyeimbangkan kegiatan akademik dengan keterlibatan dalam organisasi dan lingkungan pertemanan yang mendukung proses belajar.
Banjir informasi tidak perlu dihindari, tetapi disikapi secara kritis
Selain membahas organisasi, Puthut menyoroti perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi yang semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Menurutnya, media sosial, internet, gawai, hingga kecerdasan buatan atau AI merupakan bagian dari dinamika zaman yang tidak bisa begitu saja dihindari.
Ia mengajak mahasiswa untuk menerima perkembangan tersebut sebagai kenyataan, sekaligus belajar memanfaatkannya secara bijak. “Saya harus berdiri pada posisi ini adalah kehendak zaman. Ini dinamika zaman yang tidak bisa lagi kita hadang,” katanya.
Puthut mengibaratkan penerimaan terhadap teknologi seperti masyarakat pada masa lalu yang menerima kompas, huruf, aksara, dan sistem pendidikan. Perubahan akan terus berlangsung sehingga upaya untuk menolak seluruh perkembangan zaman bukanlah jawaban.
Menurutnya, hal yang lebih penting adalah membangun sikap kritis sebagai bekal menghadapi banjir informasi. Sikap tersebut dapat dimulai dengan kebiasaan sederhana, yakni mempertanyakan kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. “Mempertanyakan benar gak informasi. Itu saja yang kita butuhkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketika menemukan informasi, mahasiswa perlu mencari sumber atau keterangan tambahan untuk memastikan kebenarannya. Proses tersebut merupakan bentuk riset sederhana yang dapat membantu seseorang menilai apakah sebuah informasi benar, kurang tepat, atau bahkan menyesatkan.
Puthut menilai kemampuan tersebut penting agar mahasiswa tidak menerima informasi secara mentah-mentah. Mereka perlu membiasakan diri memeriksa informasi dan menyusun kesimpulan berdasarkan hasil penelusuran, bukan sekadar mengikuti apa yang ramai diperbincangkan.
Ia juga mengingatkan bahwa sikap kritis tidak harus dimulai dari metode yang rumit. Mahasiswa dapat memulainya dengan mempelajari logika dasar, mempertanyakan kebenaran suatu informasi, kemudian mencari tahu lebih lanjut sebelum mengambil kesimpulan.
Menurut Puthut, perkembangan teknologi akan terus bergerak dan membentuk keseimbangan baru dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu membekali diri dengan kemampuan berpikir kritis agar dapat mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan kemampuan untuk menilai informasi secara mandiri.

