Konten dari Pengguna

UNISA Yogyakarta Ukir Sejarah, Kukuhkan Dua Guru Besar Pertama Alumni Kampus

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Unisa Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta menggelar Rapat Senat Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Sleman, Kamis (25/6/2026). Acara yang bertepatan dengan 10 Muharram 1448 Hijriah ini menjadi momentum bersejarah bagi UNISA Yogyakarta karena resmi mengukuhkan dua profesor organik pertama yang merupakan murni alumni dari rahim pendidikan kampus tersebut.

Guru Besar

Kedua Guru Besar yang dikukuhkan adalah Prof. Andari Wuri Astuti, S.S.T., M.P.H., Ph.D. dan Prof. Wantonoro, M.Kep., Ns., Sp.Kep.M.B., Ph.D.. Pengukuhan secara formal disimbolkan melalui pengalungan sampir kepada kedua Guru Besar oleh Ketua Senat UNISA Yogyakarta, Prof. Dr. Khairil Anwar, M.Si., dengan didampingi oleh Rektor UNISA, Ibu Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat..

Rektor UNISA Yogyakarta, Ibu Warsiti, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas pencapaian ini. Ia mengenang masa-masa awal institusi ketika impian memiliki Guru Besar sendiri terasa sangat jauh bagi UNISA.

"Betul-betul hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi kami. Karena dulu, kami itu ingin membuat kebijakan tentang Guru Besar saja tidak berani. Kami berpikir, kapan kita akan punya Guru Besar, begitu. Tapi hari ini, kita buktikan bahwa sudah bertambah lagi dua Guru Besar kita," ujar Warsiti.

Ia menambahkan bahwa momen 10 Muharram ini dimaknai sebagai momentum syukur atas pertolongan Allah, sekaligus meneguhkan komitmen UNISA untuk menjadikan ilmu sebagai jalan menghadirkan kemanfaatan secara luas.

Apresiasi juga disampaikan oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V DIY, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D.. Ia menekankan bahwa gelar profesor merupakan awal dari tanggung jawab akademik yang jauh lebih besar.

"Menjadi Guru Besar adalah siap menerima tanggung jawab yang lebih besar lagi. Para Guru Besar dituntut menjadi garda terdepan yang berperan menjaga inovasi dan dampak perguruan tingginya, serta memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan Guru Besar-Guru Besar yang baru," kata Prof. Setyabudi.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., mengingatkan agar pencapaian gelar tertinggi ini berjalan beriringan dengan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.

"Dalam perspektif 'Aisyiyah, ilmu harus menjadi kekuatan transformasi sosial. Ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas, laboratorium, atau sekadar di-publish di jurnal ilmiah. Ilmu harus hadir di tengah masyarakat," tutur Salmah.

Dalam acara tersebut, kedua Guru Besar menyampaikan orasi ilmiah yang memetakan fokus kepakaran masing-masing:

Prof. Andari Wuri Astuti menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Perempuan Sepanjang Hayat: Mewujudkan Kesehatan Seksual dan Reproduksi Berbasis Bukti Melalui Pendekatan Siklus Kehidupan Perempuan dalam Pada Paradigma Kebidanan". Ia menekankan pentingnya layanan kebidanan berbasis bukti ilmiah (evidence-based) dan bukan sekadar bersandar pada rutinitas. Prof. Andari resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar organik kebidanan kedua di UNISA Yogyakarta.

Sedangkan Prof. Wantonoro menyampaikan orasi ilmiah mengenai "Konseptualisasi Adaptasi dalam Asuhan Keperawatan Sebagai Salah Satu Strategi Peningkatan Kualitas Hidup Pada Pasien Kategori Long-Term Care". Orasi ini memaparkan strategi menjaga kualitas hidup lansia dan pasien penyakit kronis lewat adaptasi berkelanjutan. Lewat pengukuhan ini, ia mencetak sejarah sebagai Guru Besar bidang keperawatan pertama di UNISA Yogyakarta.

Gelar Profesor atau Guru Besar merupakan pangkat dosen tertinggi di perguruan tinggi. Melalui pengukuhan senat dan penyampaian orasi ilmiah ini, kedua profesor tidak sekadar meraih pengakuan akademis tertinggi, melainkan secara resmi meneguhkan arah keilmuan kepakaran mereka untuk mendorong kemajuan riset dan pendidikan di UNISA Yogyakarta.