Konten dari Pengguna

Dosen UMS Tekankan Pentingnya Visi Orang Tua dalam Pendidikan Anak Islami

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dosen UMS Tekankan Pentingnya Visi Orang Tua dalam Pendidikan Anak Islami
zoom-in-whitePerbesar

SURAKARTA - Fenomena pengasuhan anak tanpa arah dan cita-cita yang jelas, atau sekadar menerapkan prinsip parenting "biarkan mengalir apa adanya", menjadi perhatian serius dalam agenda Kajian Tafsir Rutin yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Mengupas Tafsir Surah Ali 'Imran ayat 35, Dr. Hakimuddin Salim, Lc., M.A. menegaskan bahwa membiarkan anak tumbuh tanpa bekal niat dan visi perjuangan agama merupakan bentuk kelalaian yang fatal dalam pendidikan Islam.

Dalam pemaparannya, Hakimuddin mengurai teladan agung dari kisah Hannah binti Faqudzah, istri 'Imran, yang diabadikan secara khusus dalam Al-Qur'an. Meski hamil di usia yang tak lagi muda, Hannah memiliki keteguhan tekad dengan menazarkan bayi di dalam kandungannya untuk menjadi seorang muharrar, yakni sosok yang dibebaskan dari keterikatan kesibukan duniawi agar dapat fokus mengabdi sebagai ahli ibadah serta penjaga kehormatan Baitul Maqdis di Palestina.

"Melalui penjelasan Ibnu Katsir dan para mufasir muktabar, kita diajarkan bahwa orang tua wajib hukumnya memiliki visi dan cita-cita besar agar anaknya kelak mengabdi di jalan Allah," tegasnya, Selasa (27/10/2026).

Ia memaparkan bahwa ada dua kekeliruan ekstrem yang sering terjadi pada orang tua. Kekeliruan pertama adalah memaksakan peran secara kaku tanpa melihat potensi anak, sedangkan kekeliruan kedua adalah tidak memiliki gambaran visi sama sekali dan membiarkan anak tumbuh begitu saja tanpa kejelasan arah.

Lebih jauh, Hakimuddin menjelaskan bahwa rancangan visi pengasuhan sejak dini ini merupakan bagian inti dari konsep Tarbiyah Ma Qablal Wiladah atau pendidikan pra-kelahiran. Dalam pandangan Islam, fondasi pendidikan seorang anak tidak baru dimulai ketika ia lahir ke dunia, melainkan telah berjalan sejak janin berada di dalam rahim. Hal tersebut diwujudkan melalui niat yang lurus, untaian doa, hingga komunikasi batin dan narasi kebaikan yang terus didengungkan oleh orang tua selama masa kehamilan.

Penguatan visi ini juga menuntut adanya kesepakatan ikhtiar antara suami dan istri, dengan porsi perhatian utama berada pada seorang ibu. Mengingat ibu adalah sosok yang mengandung selama sembilan bulan dan membimbing anak di fase-fase awal kehidupannya, ikatan emosional serta spiritual yang terbangun jauh lebih kuat. Hakimuddin mencontohkan catatan sejarah keagungan peradaban Islam, seperti pada masa Khilafah Turki Utsmani, di mana para istri sultan yang sedang hamil mendapat karantina khusus untuk menjaga kondisi fisik dan diwajibkan mengkhatamkan Al-Qur'an berkali-kali. Dari tradisi penjagaan spiritual itulah lahir pemimpin-pemimpin besar dunia sekelas Sultan Muhammad Al-Fatih.

Melalui kajian ini, Hakimuddin mengimbau setiap keluarga muslim untuk mulai merancang visi masa depan anak-anak mereka secara sadar dan terstruktur. Orang tua diminta aktif melakukan taszji' (pemberian motivasi) serta tahbib (penumbuhan rasa cinta terhadap nilai-nilai kebaikan dan perjuangan). Apapun profesi spesifik yang kelak dijalani anak di masa depan, baik menjadi akademisi, pengusaha, pejabat, maupun tenaga medis, orang tua bertanggung jawab memastikan bahwa seluruh peran tersebut diabdikan demi menegakkan dakwah amar ma'ruf nahi munkar dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. (Rifat/Humas)