Mahasiswa UMS Juara 1 Poster Ilmiah, Ungkap Bahaya Distraksi saat Berkendara

Your Future Starts Here Mencerahkan Unggul Mendunia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SURAKARTA - Mengetahui larangan dalam penggunaan ponsel saat berkendara ternyata tidak selalu membuat seseorang meninggalkan kebiasaan tersebut. Survei tim VELOCE CUBE Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terhadap 143 mahasiswa Fakultas Teknik menunjukkan bahwa, 78,6 persen responden yang mengetahui larangan itu masih menggunakan ponsel atau earphone saat berkendara. Temuan tersebut mengantarkan tim meraih Juara 1 Piala Wali Kota dalam Lomba Poster Ilmiah pada AI&ME Solo Road Safety Festival 2026 di SMP Khusus Olahraga Surakarta, 10 Oktober 2026.
Tim VELOCE CUBE beranggotakan Eva Hana Safitri, Khafidho Takhassunan, dan Muhammad Abiyyu Setyobudi, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UMS. Mengangkat penelitian tersebut dengan judul “Kebiasaan Penggunaan Mobilephone saat Berkendara di Kalangan Mahasiswa: Faktor Distraksi dan Potensinya terhadap Kecelakaan Lalu Lintas”, penelitian tersebut menyoroti kesenjangan antara pengetahuan mahasiswa tentang risiko berkendara dan kebiasaan mereka menggunakan ponsel di jalan.
Muhammad Abiyyu Setyobudi, menjelaskan bahwa topik tersebut dipilih karena dekat dengan kehidupan mahasiswa. Penggunaan ponsel saat berkendara, menurut hasil survei mereka, tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan mendesak, tetapi juga aktivitas seperti membuka navigasi dan mendengarkan musik.
“Kami ingin melihat kebiasaan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa sendiri. Ternyata, penggunaan HP saat berkendara bukan hanya soal kebutuhan mendesak. Ada yang menggunakannya untuk membuka maps atau sekadar mendengarkan musik,” ujar Abiyyu, Selasa (13/10/2026).
Hasil survei juga menunjukkan bahwa 56,6 persen responden menggunakan ponsel untuk mengakses navigasi atau maps, sedangkan 44,1 persen menggunakannya untuk mendengarkan musik. Selain itu, 66,4 persen responden mengaku kewaspadaannya berkurang saat menggunakan ponsel atau earphone ketika berkendara. Sebanyak 47,6 persen lainnya mengaku pernah mengalami kejadian nyaris celaka, seperti terlambat mengerem atau kendaraan oleng.
Tim juga membandingkan tingkat kesadaran dan perilaku responden melalui penghitungan indeks. Hasilnya, indeks kesadaran mencapai 72 dari 100, sedangkan indeks perilaku sebesar 43 dari 100. Perbedaan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan mengenai risiko dan kebiasaan berkendara. Angka ini merupakan hasil pengolahan jawaban responden, bukan pengukuran langsung terhadap angka kecelakaan lalu lintas.
“Temuan yang menjadi perhatian kami adalah mahasiswa sebenarnya sudah mengetahui risikonya, tetapi perilakunya belum berubah. Artinya, persoalannya bukan sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan bagaimana kesadaran itu diterapkan saat berkendara,” kata Abiyyu.
Tim VELOCE CUBE berencana menyebarluaskan edukasi keselamatan berkendara melalui media sosial. Mereka mengajak mahasiswa menerapkan tiga langkah sederhana untuk mengurangi distraksi, yakni mengatur navigasi sebelum berangkat, mengaktifkan mode hening, dan menyimpan ponsel di dalam tas selama perjalanan.
Keberhasilan tim ini tidak terlepas dari pendampingan dosen pembimbing, Ir. Nurul Hidayati, S.T., M.Sc., Ph.D., yang memberikan arahan dalam persiapan hingga pelaksanaan kompetisi. Capaian tersebut menambah deretan prestasi mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UMS sekaligus diharapkan mendorong mahasiswa lain untuk mengembangkan kreativitas, kompetensi, dan potensi melalui berbagai kompetisi akademik. (ARP/Humas)
