Konten dari Pengguna

50 Seniman dari 19 Negara Meriahkan Prison Graffiti Art Yogyakarta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Warta PAS Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prison Graffiti Art Yogyakarta di Lapas Yogyakarta dan Rutan Yogyakarta (humas kanwil ditjenpas diy)
zoom-in-whitePerbesar
Prison Graffiti Art Yogyakarta di Lapas Yogyakarta dan Rutan Yogyakarta (humas kanwil ditjenpas diy)

YOGYAKARTA — Deru semprotan cat menggema di sepanjang tembok Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan di Yogyakarta, Selasa (19/5), menandai dimulainya gelaran mural internasional bertajuk Prison Graffiti Art Yogyakarta. Sebanyak 50 seniman dari 19 negara secara resmi membubuhkan karya pertama mereka, mengubah dinding-dinding abu-abu fasilitas pemasyarakatan menjadi kanvas raksasa yang penuh semangat dan warna.

Kegiatan yang mempertemukan seniman grafiti dari berbagai penjuru dunia ini menghadirkan beragam karya mural bernilai tinggi secara estetika. Masing-masing seniman menuangkan identitas budaya dan ekspresi kreatif mereka ke atas tembok lapas, menciptakan perpaduan visual yang kaya sekaligus sarat makna. Dari motif-motif abstrak hingga figur-figur yang bercerita, setiap goresan menjadi bagian dari dialog visual lintas batas negara.

Lebih dari sekadar perayaan seni, kegiatan ini digagas sebagai ruang kolaborasi yang melampaui sekat geografis dan budaya. Para penyelenggara berharap Prison Graffiti Art Yogyakarta mampu menghadirkan energi positif di lingkungan lapas, sekaligus memperkuat pesan bahwa seni adalah jembatan — antara manusia, antara budaya, dan antara masa lalu dengan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan DIY, Lili, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh seniman dan pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan event ini. Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya memperindah lingkungan lapas, tetapi juga membuka ruang keterlibatan masyarakat yang lebih luas dalam sistem pemasyarakatan.

"Kami berharap melalui kegiatan ini, lembaga pemasyarakatan dapat semakin melibatkan masyarakat, baik dalam hal pengawasan maupun dalam proses reintegrasi para warga binaan ke tengah kehidupan sosial," ujarnya.

Prison Graffiti Art Yogyakarta menjadi bukti bahwa tembok yang selama ini identik dengan pembatasan, kini bisa menjelma menjadi media ekspresi, pemulihan, dan koneksi antarmanusia — sebuah pesan yang tak kalah kuatnya dengan karya seni itu sendiri.